Happy Reading
____________
"Dasar cewek nggak tahu malu, masih aja berani munjukkin muka di sekolah kita setelah apa yang terjadi!" teriak salah seorang gadis, suaranya bergema di lorong sekolah, menusuk telinga siapapun yang mendengarnya.
"Minimal tahu malu sedikit kek!" timpal yang lainnya, menambahi ucapan temannya dengan nada mengejek.
Suara terkikik-kikik mereka, seolah mengejek, mengiringi langkah Michel. Ketiga gadis itu, bukannya menunjukkan penyesalan, malah semakin mengangkat dagu, menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh keangkuhan. Sikap mereka, yang terkesan acuh tak acuh, membuat para murid yang melihatnya mendidih kesal.
***
Sinar mentari pagi menerobos jendela kelas, menyorot debu-debu yang beterbangan di udara. Barsha dan Tiara, berada di dalam kelas yang sepi. Hari ini, mereka kelas mereka memiliki jadwal olahraga. Barsha berjalan menuju lemari besi tua yang terpasang di dinding kelas, mencari baju olahraganya.
Tiara mengikutinya, mata gadis itu mencari-cari buku pelajaran yang tertinggal di atas meja. Keduanya berbicara sambil mencari barang-barang yang mereka butuhkan, suara mereka menghilangkan kesunyian di dalam kelas.
Tiba-tiba, suara seseorang menggema dari mikrofon sekolah, menghentikan percakapan Barsha dan Tiara. "Gue harap kalian semua ke aula sekarang."
Barsha dan Tiara saling berpandangan, kening keduanya berkerut. Suara itu terdengar sangat familiar.
"Sha, itu bukannya suara ... " Tiara menghentikan kalimatnya sebelum menyebutkan nama yang terlintas di benaknya. Barsha mengangguk cepat, mengerti maksud sahabatnya. Keduanya bertukar pandangan, kemudian bergegas meninggalkan kelas menuju aula. Langkah mereka terburu-buru, seolah didorong oleh rasa penasaran yang membuncah.
Saat menginjakkan kaki di aula, Barsha dan Tiara terkejut. Aula sudah ramai dipadati oleh para murid, suasana tegang menyelimuti ruangan. Namun, yang lebih membuat kedua gadis itu terkejut adalah keberadaan Michel, Meisha dan Dara yang kini sedang berdiri di atas podium. Ketiga gadis itu menatap para murid dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah menunggu sesuatu.
Melihat hal tersebut, sontak para siswa bersorak, menyerukan agar ketiga gadis itu turun dari podium. "Turun! Turun! Turun!" teriak mereka, suara mereka bergema di seluruh aula. Namun, perkataan para siswa hanya diabaikan begitu saja. Ketiga gadis itu tetap berdiri tegak di atas podium, menatap para murid dengan tatapan yang tetap sulit diartikan. Hingga Michel membuka suara, sontak seisi aula hening seketika.
"Ada sesuatu hal yang mau kita sampaikan ke kalian semua mengenai rumor yang beredar di sekolah beberapa hari ini, yang menyangkut Gue, Meisha dan Dara," ujar Michel, suaranya bergema di seluruh aula, menarik perhatian setiap orang.
"Kalian semua sudah salah sangka! Kita sama sekali nggak punya niat buruk sama Dinda. Sebenarnya Gue yang jadi korban di sini dan bukan dia!" ujar Michel, suaranya bergetar sedikit, mencoba menahan air mata yang ingin mengalir.
Mendengar penuturan Michel, para murid bersorak tak percaya. Beberapa dari mereka berteriak keras, menyatakan ketidaksetujuan mereka.
"Kalian semua harus percaya sama gue! Dinda cuma pura-pura koma aja di rumah sakit ... dia sengaja ngelakuin semua ini untuk dapetin simpati kalian semua," lanjut Michel, suaranya bergetar semakin keras.
"Lo emangnya punya bukti kalau Dinda ngelakuin semua ini? Sedangkan bukti yang ada sekarang lebih banyak mengarah ke kalian bertiga," salah seorang siswi membuka suara, suaranya terdengar keras dan tegas.Para murid lainnya menangguk setuju, menyerukan permintaan bukti yang kuat dari Michel dan kedua temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Teen FictionBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
