Bab 16: Alunan Musik

182 71 3
                                        

1 tahun kemudian....

Terlihat matahari yang memancarkan sinarnya untuk sesaat sebelum kembali ke tempat asalnya. Sore itu seorang gadis remaja berusia tujuh belas tahun berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah swalayan "Bi Tenah" yang merupakan salah satu swalayan terkenal di wilayah tersebut yang menjual berbagai macam jenis olahan makanan tradisional maupun menjual hasil tangkapan laut berupa ikan, udang dan jenis hewan laut lainnya.

"Pagi Bibik Cantik, ini ada ikan sama udang baru aja di tangkap masih segar," ujar gadis itu sembari meletakkan kardus berisi hasil tangkapan nelayan diatas nakas.

"Bisa aja kamu Barsha, bibik mah emang udah cantik dari lahir."

Gadis yang diketahui bernama lengkap Barsha Ningrum, yang akrab di sapa Barsha itu menggaruk tengkuknya tak gatal sembari tersenyum ke arah Bi Tenah, menanggukan kepalanya pelan setuju.

"Ini uang hasil penjualan kemarin," ucap Bi Tenah sembari menyodorkan sejumlah uang pada Barsha, gadis itu pun mengambil uang tersebut sembari tersenyum simpul melihat lembaran demi lembaran uang merah itu kini berada di dalam genggamnya. "Makasih ya Bi, kalau gitu Barsha balik duluan ya," pamit gadis itu.

"Iya, hati-hati di jalan," pesan Bi Tenah.

"Iya Bi," balas gadis itu sembari melambaikan tangan kanannya.

Dengan senyuman yang sedari tak memudar di wajahnya, Barsha terus saja memandangi sejumlah uang yang baru saja di dapatnya. "Kalau setiap hari gue dapat uang kayak gini pasti bakalan kaya!" batin gadis itu, pandangannya masih terpaku pada lembaran merah itu.

Hingga sebuah alunan musik terdengar pada pendengarannya, berhasil membuat pandangannya teralihkan. Gadis itu berjalan guna mencari suara tersebut berasal, hingga dirinya tanpa sadar terhanyut dalam alunan musik itu. Tak berselang lama langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki berbadan tegap duduk di tepi pantai sembari memainkan senar gitar dengan lihainya.

"Pintar juga tu orang main gitar," puji Barsha sembari menggelengkan kepalanya kagum.

***

Keringat dingin mengguyur seluruh sudut demi sudut tubuhnya. Detik jantung Barsha semakin bergemuruh disaat melihat jam yang terlingkar pada pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi pasalnya hari ini ia bersetatus menjadi murid pindahan pada salah satu sekolah terkenal di kota Bandung.

Gadis itu berlari sekencang mungkin agar dirinya tidak terlalu terlambat, Ia tak ingin dihari pertamanya bersekolah akan dicap sebagai murid baru yang melanggar aturan.
Tak berselang beberapa lama, sampailah ia di depan gerbang utama sekolah namun tak sesuai dengan keinginannya. Gerbang sudah di tutup.

Barsha tampak berfikir sejenak, apakah dirinya akan tetap masuk sekolah atau beralasan untuk dispen sakit hari ini.

"Kalau gue masuk lewat gerbang depan bisa aja gue di bawa sama satpam disana ke ruang BK, tapi... semisalnya gue milih dispen juga itu sama aja gue bohong," batin gadis itu, pikirannya berkecamuk.

Setelah memikirkannya cukup lama ia memilih untuk pergi sebelum seseorang melihatnya. Layaknya seperti seorang maling, Barsha mengendap-endap berjalan ke belakang halaman sekolah yang merupakan tempat yang biasanya digunakan oleh murid-murid nakal untuk membolos.

BUMIGORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang