Suasana kelas pagi ini dipenuhi dengan wajah-wajah malas dan cemberut, seolah masih tertinggal di alam mimpi. Beberapa siswa bersandar lemas di meja, menguap lebar, matanya setengah tertutup. Hanya segelintir siswa yang sudah duduk tegak, siap menyambut pelajaran.Hari ini Pak Anto sengaja memajukan mata pelajarannya ke jam pertama, di karenakan jam ketiga dan ke-empat beliau berhalangan hadir karena suatu hal.
"Ogah banget gue ketemu sama Pak Anto," cicit Akmal sambil mengacak rambut keritingnya yang acak-acakan.
Barsha menggelengkan kepalanya gemas akan tingkah Akmal yang selalu berkeluh kesah. "Jangan lupa PR nya," ucap Riko mengingatkan. Tapi, Akmal tak peduli. Ia sama sekali belum mengerjakan tugas dari seminggu yang lalu itu.
"Siap-siap lo Mal, bakalan dikomat-kamit sama Pak Anto," ujar Riko lagi, kali ini dengan nada bercanda.
Akmal menelan saliva, raut wajahnya berubah cemas. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke arah tempat duduk Barsha. Melihat gerak - gerik lelaki itu, dapat di simpulkan Akmal datang kemari mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
"Anak baru!" panggil Akmal dengan suara sedikit terengah-engah. Barsha mengerutkan kening, "Anak baru" bukan panggilan kesukaannya. Ia lebih suka dipanggil dengan namanya, Barsha Ningrum.
"Iya, kenapa?" tanya Barsha, suaranya terdengar datar. Ia berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Gue boleh minta jawaban lo nggak?" tanya Akmal, matanya berbinar penuh harap. Barsha nampak berfikir sejenak. Ia melirik buku latihan miliknya yang terletak di atas meja, jari-jarinya menelusuri halaman-halaman yang penuh dengan coretan dan rumus. Akhirnya, ia mengangguk pelan, memberikan persetujuan kepada Akmal.
Akmal tersenyum ceria, "Makasih anak baru!" Lagi-lagi, ia memanggil Barsha dengan sebutan itu.
"Anak baru", panggilan yang membuat Barsha merasa sedikit kesal, tapi ia berusaha untuk menahan raut wajahnya.
"Baiklah, sekarang waktunya mengumpulkan tugas!" Suara Pak Anto, guru Matematika yang terkenal galak, memecah suasana kelas. Pak Anto memasuki kelas dengan langkah tegas, matanya memandang tajam ke arah para siswa.
"Yang belum mengerjakan tugas, cepat maju ke depan!" ujar Pak Anto, suaranya terdengar keras dan lantang. Seketika, suasana kelas menjadi hening.
Beberapa siswa terlihat merinding ketakutan, sedangkan yang lainnya buruk-buruk mencari buku latihan mereka.
"Duh, Pak Anto datang lagi!" decak Akmal, wajahnya berubah panik. Dengan cepat, ia menyembunyikan buku latihan milik Barsha ke dalam kolom meja.
Pak Anto berdiri di depan kelas, matanya menyapu setiap sudut ruangan. "Bapak akan memanggil nama kalian satu-persatu untuk memeriksa tugas," ujar Pak Anto dengan nada tegas. "Jadi bagi yang merasa belum selesai, dipersilakan maju ke depan sebelum saya panggil nama kalian!"
Seketika, suasana kelas menjadi tegang. Beberapa siswa terlihat gelisah dan tak menentu. Lebih dari tiga orang siswa, termasuk Akmal, berjalan ke depan kelas dengan langkah yang terburu-buru. Riko, selaku ketua kelas, tak segan menegu teman-temannya itu agar tak mengulangi kebiasaan tidak baik ini. Ia menegur mereka dengan suara yang jelas dan tegas.
"Udah, udah, jangan ngerjain tugas di depan kelas lagi, nanti ketahuan Pak Anto," ucap Riko sambil menyerahkan buku latihan nya kepada Pak Anto.
Pak Anto menerima buku latihan Riko dengan senyum kecil. "Bagus, Riko. Kamu selalu rajin ya," puji Pak Anto.
"Iya, Pak," jawab Riko dengan senyum simpul.
Sampai giliran Barsha untuk maju ke depan. Gadis itu menyerahkan buku tulis bersampul laut dengan gradasi warna perpaduan antara biru dan putih kepada Pak Anto untuk di periksanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Teen FictionBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
