Bab 28 : Gara - Gara MTK

130 23 0
                                        


Suasana kelas pagi ini dipenuhi dengan wajah-wajah malas dan cemberut, seolah masih tertinggal di alam mimpi.  Beberapa siswa bersandar lemas di meja, menguap lebar, matanya setengah tertutup.  Hanya segelintir siswa yang sudah duduk tegak, siap menyambut pelajaran.Hari ini Pak Anto sengaja memajukan mata  pelajarannya ke jam pertama, di karenakan jam ketiga dan ke-empat beliau berhalangan hadir karena suatu hal.

"Ogah banget gue ketemu sama Pak Anto," cicit Akmal sambil mengacak rambut keritingnya yang acak-acakan.

Barsha menggelengkan kepalanya gemas akan tingkah Akmal yang selalu berkeluh kesah. "Jangan lupa PR nya," ucap Riko mengingatkan. Tapi,  Akmal  tak peduli. Ia sama sekali belum mengerjakan tugas dari seminggu yang lalu itu.

"Siap-siap lo Mal, bakalan dikomat-kamit sama Pak Anto,"  ujar  Riko  lagi, kali ini dengan nada bercanda.

Akmal menelan saliva, raut wajahnya berubah cemas. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke arah tempat duduk Barsha. Melihat gerak - gerik lelaki itu, dapat di simpulkan Akmal datang kemari mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

"Anak baru!" panggil Akmal dengan suara sedikit terengah-engah. Barsha mengerutkan kening,  "Anak baru"  bukan panggilan kesukaannya. Ia lebih suka dipanggil dengan namanya, Barsha Ningrum.

"Iya, kenapa?"  tanya Barsha,  suaranya terdengar datar.  Ia berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya.

"Gue boleh minta jawaban lo nggak?" tanya Akmal, matanya berbinar penuh harap. Barsha nampak berfikir sejenak. Ia melirik buku latihan miliknya yang terletak di atas meja, jari-jarinya  menelusuri halaman-halaman yang penuh dengan coretan dan rumus.  Akhirnya, ia mengangguk pelan, memberikan persetujuan kepada Akmal.

Akmal tersenyum ceria,  "Makasih anak baru!"  Lagi-lagi, ia memanggil Barsha dengan sebutan itu.  

"Anak baru",  panggilan yang membuat  Barsha  merasa  sedikit kesal, tapi  ia  berusaha untuk menahan  raut wajahnya.

"Baiklah,  sekarang waktunya mengumpulkan tugas!" Suara Pak Anto, guru Matematika yang terkenal galak, memecah suasana kelas. Pak Anto memasuki kelas dengan  langkah  tegas,  matanya  memandang tajam ke arah para siswa.

"Yang belum mengerjakan tugas, cepat maju ke depan!"  ujar Pak Anto,  suaranya terdengar  keras dan lantang.  Seketika,  suasana kelas  menjadi hening. 

Beberapa siswa  terlihat  merinding ketakutan,  sedangkan  yang lainnya  buruk-buruk  mencari  buku  latihan mereka.

"Duh, Pak Anto datang lagi!" decak Akmal,  wajahnya berubah panik.  Dengan cepat,  ia  menyembunyikan buku latihan milik Barsha ke dalam kolom meja.

Pak Anto berdiri di depan kelas, matanya menyapu  setiap sudut ruangan.  "Bapak akan memanggil nama kalian satu-persatu untuk memeriksa tugas," ujar Pak Anto dengan nada tegas. "Jadi bagi yang merasa belum selesai,  dipersilakan maju ke depan sebelum saya panggil nama kalian!"

Seketika, suasana kelas menjadi tegang.  Beberapa siswa  terlihat  gelisah  dan  tak  menentu. Lebih dari tiga orang siswa,  termasuk Akmal,  berjalan  ke depan kelas  dengan langkah  yang  terburu-buru.  Riko,  selaku ketua kelas,  tak segan  menegu teman-temannya itu agar  tak  mengulangi  kebiasaan  tidak baik  ini.  Ia  menegur  mereka dengan  suara  yang  jelas  dan  tegas.

"Udah, udah,  jangan  ngerjain tugas  di depan kelas lagi, nanti  ketahuan  Pak Anto,"  ucap  Riko  sambil menyerahkan  buku  latihan  nya  kepada  Pak  Anto.

Pak Anto menerima buku latihan  Riko dengan  senyum kecil.  "Bagus,  Riko.  Kamu  selalu  rajin  ya,"  puji  Pak  Anto.

"Iya,  Pak,"  jawab  Riko  dengan  senyum  simpul.

Sampai giliran Barsha untuk maju ke depan. Gadis itu menyerahkan buku tulis bersampul laut dengan gradasi warna perpaduan antara biru dan putih kepada Pak Anto untuk di periksanya.

BUMIGORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang