Bumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fajar memancarkan sinarnya, menerpa wajah tampan Bumi yang terlelap. Membuat sang empu sedikit terusik Namun, tak berlansung lama kedua netra pemuda itu perlahan terbuka, Ia menyeka peluh yang membasahi sebagian wajahnya.
"ADEL!" Kata yang begitu saja terucap dari bibir Bumi.
"Cie ada yang mimpiinAdel nih," goda Adit sembari cengir kuda ke arah sang empu.
Bumi menggelengkan kepalanya pelan sembari menepuk wajahnya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia impikan. Pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya bergegas mencari Adel untuk memastikan.
Adit menatap binggung ke arah Bumi yang begitu saja meninggalkan kamar hotel tanpa bersiap-siap terlebih dulu.
***
kini seluruh tatapan tertuju pada Bumi yang berjalan melewati lobi hotel tanpa mengunakan alas kaki, terlebih lagi pakaian apa yang di kenakan oleh pemuda itu membuat siapa saja yang melihat terpukau di buatnya.
"Ganteng bener emang teman kita Sal, pake kemeja putih sama celana selutut aja udah ganteng banget," puji salah seorang gadis, takjub dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Bumi sama sekali tidak peduli dengan semua orang yang kini sedang menatapnya. Sekarang, yang terdapat di dalam pikirannya hanya Adel. Pemuda itu mempercepat langkahnya menuju kamar Adel.
TOK, TOK!!
Pintu dengan kamar nomor 15 itu perlahan terbuka, memperlihatkan seorang gadis yang sedari tadi di carinya. Bumi meraih pergelangan tangan Adel lalu memeluk erat tubuh mungil gadis itu membuat sang empu mengerutkan keningnya kebingungan.
"Bumi--- Kamu kenapa sayang?" tanya Adel sembari mengelus lembut punggung cowok yang kini sedang berada di dalam pelukannya.
"Kamu jangan pergi ya Del..." lirih Bumi, semakin mengeratkan pelukannya, membuat Adel bertambah binggung.
"Iya, iya--- aku nggak bakalan pergi kok--- tapi kamu kenapa?"
Perlahan Bumi melepaskan pelukannya itu lalu menatap netra kecoklatan Adel dengan tatapan sayu. "Aku mimpi kalau kamu ninggalin aku untuk selamanya."
Adel tersenyum simpul sembari mengenggam erat tangan kanan pemuda yang kini tampak khawatir dengan sesuatu yang sama sekali belum terjadi. "Bumi--- itu kan cuma mimpi nggak usah di pikirin." Adel berusaha menenangkan. "Mendingan kamu sekarang siap-siap, lagi bentar kita mau pergi ke sungai."
"Ngapain?"
"Kamu kemarin nggak dengerin arahan dari bu Chintya? kalau hari ini kita mau pergi ke sungai." Mendengar penuturan Adel, Bumi hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum kik-kuk.