Benar saja, keesokan harinya Danuar menghubungi nomor itu kembali setelah pesan ancaman dan sejumlah bukti dikirimkan oleh SIMS untuk memancing pergerakannya. Pak Noer tak menyangka kalau seutas pesan itu dapat menarik Danuar ke permukaan.
Danuar Brawijaya. Namanya besar di kepolitikan di Ibukota, juga seseorang yang termasuk ke dalam jajaran anggota dewan perwakilan rakyat yang akan mencalonkan sebagai walikota dalam pemilihan umum beberapa bulan ke depan. Di IMS sendiri, Danuar juga dikenal sebagai donatur yang aktif setiap bulannya. Danuar Brawijaya adalah ayah dari si kembar Julian Brawijaya dan Windu Brawijaya.
Di saat orang-orang memilih ke kafetaria untuk mengisi asupan gizi, Niskala langsung melesat ke sekret SIMS untuk melakukan pertemuan daring yang diminta Danuar.
Saat ini, sekret SIMS lebih cocok sebagai markas rahasia daripada tempat untuk para anggota duduk berbincang membicarakan hasil kerja dan laporan mingguan seperti kegiatan klub lainnya yang ada di IMS. Ruangan itu lebih sering digunakan Pak Noer untuk memantau rencana yang dijalankan Niskala, Yosa, dan Catherine. Bahkan dalam jangka waktu secepat ini, SIMS sudah selesai menyusun rencana untuk penangkapan Danuar Brawijaya.
Dari pesan yang direncanakan itu, SIMS telah mendapatkan balasannya. Secara khusus, Danuar Brawijaya ingin melakukan panggilan video terlebih dahulu sebelum mereka bertemu satu sama lain membicarakan perihal bukti yang SIMS miliki tentang kejahatannya. Tentu saja, SIMS menyetujui hal itu. Atau lebih tepatnya itulah rencana mereka; membuat Danuar meminta pertemuan. SIMS telah mempunyai perhitungan tersendiri terhadap rencana. Sejauh ini semuanya masih aman dan terkendali.
Di waktu yang sudah disepakati, panggilan video itu berlangsung. Di sekret SIMS, hanya ada Niskala dan Pak Noer yang menunggu Danuar Brawijaya mengaktifkan layarnya. Tidak lama sampai akhirnya ketiga pasang mata itu saling beradu pandang.
“Wah, tidak saya sangka. Jadi inilah orang-orang yang sudah menjebak saya?” Danuar Brawijaya berujar terlebih dahulu. Pakaiannya jas hitam formal, persis seperti orang sibuk yang sedang meluangkan waktunya.
“Anda lucu juga ternyata. Siapa yang menjebak siapa coba?”
“Jadi Anda yang bernama A.B. Noer?”
Pak Noer mengangguk. “Benar. Saya pembina SIMS. Dan saya rasa Anda sendiri sudah tahu apa itu SIMS.”
“Ah.... Organisasi rahasia itu?” jawabnya remeh. “Saya tidak tahu apa yang sebenarnya kalian kerjakan. Tapi mengulik kehidupan politikus itu tidak baik, loh. Saya takut kalian bisa kenapa-kenapa.”
“Apa ucapan Anda bermakna ancaman?” Kini, Niskala mengambil alih. Wajahnya memang sudah muncul dari tadi, tapi mungkin kehadirannya sama sekali dianggap tidak layak oleh lawan bicaranya. “Saya sarankan Anda untuk mengaku sendiri saja, daripada bukti yang kami miliki justru menyerang Anda lebih ganas.”
“Itu yang kau sebut ancaman?” Pria itu terkekeh. Sesaat kemudian hanya tawa yang memenuhi panggilan telepon tersebut. “Saya tahu kamu bukan siapa-siapa, Niskala Pradeeva. Bahkan pengacara terbaik sekalipun tidak akan membantumu apa-apa.”
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat di bawah meja. Kalau saja obrolan ini tidak terhalang virtual, Niskala benar-benar ingin menonjok wajah pria itu.
Segera Niskala menstabilkan emosinya, kembali memasang wajah tanpa takut. “Lucu sekali Anda. Padahal di tangan saya ada bukti yang sangat konkret untuk menjatuhkan karir Anda.”Pria baya itu menggertak. Siapa yang sangka, berbicara dengan Niskala justru malah membuat dirinya tersudut. Ditambah remaja perempuan itu sudah menunjukkan bukti-bukti dengan jelas berupa foto dan video dalam ponsel yang digenggamnya. Meminta peretas terbaik untuk mendapatkan isi bukti itu secara tak langsung mungkin bukan pilihan yang terbaik. Tidak ada yang tahu ada berapa bukti yang gadis itu cadangkan di komputer lain. Karena itu, satu-satunya kesempatan yang bisa dilakukannya hanyalah dengan bertemu langsung.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐄𝐋𝐋𝐎, 𝐒𝐈𝐌𝐒!
Подростковая литература[ COMPLETED ] Cerita dimulai sejak munculnya Barata Aswatama, siswa IMS--International Mandala School--dengan kesabaran setipis kertas dan bertemperatur kasar yang akhirnya kembali masuk sekolah setelah mengalami kecelakaan di awal tahun ajaran baru...