[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senyum merekah terukir sempurna dengan segala bayangan indah tentang masa depan. Jazziel merasakan jatuh cinta lagi, jatuh ke lubuk terdalam, hingga bodoh adalah julukan yang tepat untuk dirinya. Setelah tempo hari, hatinya semakin yakin memiliki sosok yang dicintainya. Masa bodoh dengan tanggapan sekitarnya, Jazziel tidak peduli.
Bahkan, tingkahnya yang aneh tak luput dari pandangan Haidan. Sore ini, mereka sedang berkumpul di kafe. Sebuah kafe yang ramai dari mahasiswa di prodinya, punya desain yang unik dengan nilai estetika yang autentik. Mereka berdua memilih rooftop, supaya bisa menikmati candunya sigaret dan secangkir kopi hitam, dengan pemandangan sunset di depan mata. Tak lupa, segala tumpukan tugas ada di depan mereka.
"Ziel! Kenapa senyum-senyum?" tanya Haidan, merasa heran dengan senyumnya yang tak luntur.
"Hm?" dehem Jazziel, spontan menurunkan senyumannya, lalu memalingkan wajahnya sejenak. "Oh ya, gimana soal perjodohannya?"
Haidan menghela napasnya sejenak, lalu memutar sebuah pena di tangan kiri, dan sebuah rokok yang terselip di jari kanan. "Cantik, namanya Windy Lilly Madonna. Anak FK, gue bahkan belum pernah lihat dia atau dengar namanya."
Mendengar cerita Haidan, membuat Jazziel mengerutkan alis, nama itu seperti tidak asing di telinganya.
"Lo terima?" tanya Jazziel sekali lagi.
"Masih pendekatan, kalau sekiranya cocok ya lanjut, kalau ngga ya tetap lanjut," jawab Haidan, lalu terkekeh pelan karena kelucuan hidupnya. Dijodohkan, dan dipaksa menikahi seseorang yang baru dikenalnya.
"Pilihan orang tua selalu jadi yang terbaik, listen to them, hidup lo bisa lebih berguna." Jazziel tersenyum singkat, lalu menepuk pundak Haidan untuk memberikan semangat. Teringat sesuatu, Jazziel melirik jam tangannya, lalu bergegas mengemas barangnya ke dalam tas.
"Mau ke mana?" tanya Haidan, berhenti memutar pena.
"Udah jam lima sore, gue mau jemput Liz," jawabnya.
Haidan mengerutkan dahinya, lelah dan bosan pada sikap Jazziel tak pernah berubah. "Don't play with it!" ucapnya tanpa sebab. Lalu, membuang putung rokoknya ke dalam asbak.
Jazziel tak bergeming, sedangkan Haidan langsung memberikan lirikan tajam mematikan. "Miki bukan sembarang cewek yang bisa lo mainin, she's good at play-act, and still narsisme. Validasi sebagai mahasiswa yang terkenal bisa dia pakai buat ngehancurin lo."
"Gue ngga peduli," tukas Jazziel.
"Yakin? Dia bisa aja jatuhin reputasi baik lo, atau bahkan keluarga lo sendiri."