Bag 37. Expressed feelings

4.1K 305 94
                                        

Haidan hanya ingin bertahan pada matahari yang ia temukan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haidan hanya ingin bertahan pada matahari yang ia temukan. Dalam ketidaksadarannya, ia melepas tautan itu. Menatap gadis di depannya sangat dalam sembari menetralkan detak jantungnya yang semakin tak terkendali. Ia sangat gugup, takut Davina marah karena telah lancang menciumnya tanpa izin. Segala resiko akan Haidan terima, sebab memang salahnya.

Haidan membuka pintu itu. Mengabaikan kebingungan Davina yang terlihat pada raut wajahnya. Tanpa sepatah kata, ia menutup pintunya. Lalu, pergi meninggalkan Davina dengan berjalan kaki. Dalam benaknya ia menyesal. Telah sembarang mencium gadis yang ia cintai. Bukankah seharusnya ia menahan keegoisan dalam dirinya.

Suasana malam ini bahkan mendukung kenestapaan Haidan. Sebab, sejak tadi langit malam memang sangat gelap karena mendung. Dapat Haidan rasakan rintikan hujan yang mulai menetes membahasi jalanan.

"Shit!" pekik Davina. Lantas ia mengemudikan mobilnya, menghampiri Haidan. Tanpa basa-basi ia keluar dari mobilnya, lalu berdiri di hadapan sang pria.

"Kenapa tiba-tiba lo cium gue, Haidan? Apa alasannya!" tanya Davina.

Haidan tak kuasa menjawab pertanyaan itu, ia hanya tertunduk lesu dengan rambut berantakan yang tak ia pedulikan. Ia terlanjur menanggung malu.

"Maaf." Satu kata sederhana, tetapi punya seribu makna. Terlebih Haidan sangat tulus mengatakannya.

Mendapatkan jawaban itu, tentu saja membuat Davina semakin frustasi. Ia hanya ingin jawaban yang pasti. Sebab tak ingin dianggap sama seperti kebanyakan wanita yang berhubungan dengan Haidan. Davina ini sangat berbeda. Meski pergaulannya luas dan bebas, manusia seperti Haidan adalah tipikal yang paling ia hindari.

Kata maaf itu memang terdengar tulus. Tapi, berbeda makna jika yang mengatakannya adalah Haidan.

"Gue ngga butuh maaf lo, gue butuh jawaban lo ... Kenapa lo nyium gue?" tanya Davina sekali lagi.

Haidan mengangkat wajahnya. Dapat ia saksikan wajah cantiknya terlihat menahan amarah karena perbuatannya. "Gue jawab jujur pun, apa lo bisa nerima gue?"

"Hah?" balas Davina. Alisnya menyatu dengan sempurna dengan wajahnya yang berkerut kesal.

"Lo ngga perlu tahu, gue cuma iseng."

"I'm not your fucking bullshit toy!" Seru Davina. Emosinya sudah di pucuk kepala, dan Haidan berhasil memancingnya. "Gue ngga mau lo samain seperti cewek-cewek murahan yang asal lo cium sembarangan!" lanjutnya sembari menunjuk Haidan kesal.

Haidan jera, akhir kata berdecak kesal sembari mengacak rambutnya lagi. "I said, i'm sorry, Dav!"

"Enggak. Gue mau tahu jawabannya, drunk? ... Lo udah sadar, Haidan," sesal Davina sembari mendorong pelan tubuh lelaki itu.

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang