Bag 01. Between us

8.2K 598 43
                                        

Hidup dibesarkan menjadi pribadi yang manja dan melakukan sesuka hati tanpa memperhatikan konsekuensinya, itulah Jazziel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hidup dibesarkan menjadi pribadi yang manja dan melakukan sesuka hati tanpa memperhatikan konsekuensinya, itulah Jazziel. Bersikap kurang ajar, dan menganggap kuasa orang tua bisa dia gunakan sesuka hati. Nyatanya, sebagai anak lelaki yang dilahirkan tunggal, keluarganya selalu membela meski kesalahannya fatal.

Semua yang Jazziel alami, tak lepas dari yang namanya didikan gagal. Sejak kecil, lelaki manja itu selalu mendapatkan segala keinginannya, dan tak pernah mendapatkan penolakan. Membuat pribadi Jazziel menjadi buruk, bahkan secara terang-terangan dia tak peduli memperlihatkan sosok sebenarnya.

Namun, meski Jazziel punya sikap yang buruk, beruntung sekali dia masih mempunyai teman yang setia padanya.

Mobil itu melesat cepat setelah memecah jalanan kota yang ramai, berkendara dengan buru-buru dengan seorang pemuda tampan di dalamnya. Entah apa yang membuatnya dikejar waktu, yang jelas Jazziel tergesa-gesa, dan tidak sabar sampai pada tujuannya. Hingga mobil itu masuk ke dalam sebuah gang, pemuda itu menghela napas lega.

Sebelum menemui jemputannya, Jazziel menghentikan mobil untuk menelepon seseorang.

"Haidan, lo di mana?" tanyanya pada sambungan telepon.

"Bentar lagi gue keluar," balas lelaki di seberang sana, tak lama sambungan itu terputus.

Jazziel menyimpan kembali ponselnya, menghela napas panjang, lalu melirik seorang lelaki bertubuh jangkung yang sedang berlari tunggang langgang menyusuri koridor apart kost. Jazziel sampai menurunkan pandangannya, memperhatikan kedatangan lelaki itu.

"Sorry, tadi malam gue gadang ngerjain tugas!" cerita Haidan dengan napas terburu-buru, sembari membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di kursi belakang.

Lama menunggu sembari memainkan ponsel, Haidan dibuat heran dengan Jazziel yang diam tak mengemudikan mobilnya. "Apa lagi, Jaz?"

Jazziel menghela napasnya, lalu memutar kepalanya menatap Haidan. "Lo pikir gue sopir pribadi lo, pindah!"

Haidan hampir lupa, terbiasa diantar jemput dengan sopir pribadinya, lelaki berparas tampan itu sampai lupa karakter sahabat baiknya. Sebelum terjadinya peperangan kedua, Haidan langsung berpindah tempat di sebelah Jazziel.

"Emangnya lo ngga jemput Miki?" tanya Haidan penasaran.

Sepertinya, obrolan itu tak begitu menarik, sehingga Jazziel memilih mengemudikan mobilnya lalu keluar dari gang ini. Seperti biasa, Haidan tak melanjutkan dan memilih diam memainkan ponselnya.

Sekitar 15 menit dalam perjalanan, akhirnya mobil itu sampai di pelataran kampus megah nan mewah, yang punya standar kualifikasi seperti universitas internasional. Segala fasilitas disediakan, dan prodi yang disediakan melimpah dengan biaya semester yang tak murah. Dua lelaki tampan itu, kompak turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya sembari membawa ransel di pundak masing-masing.

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang