[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Postingan itu kembali ramai dijadikan pusat perhatian menarik oleh khayalak umum. Namun, dengan reaksi yang berbeda. Seolah lelah pada pasangan yang terlibat hubungan putus nyambung. Kadang ada kalanya, sebagai penikmat cerita merasa bosan. Padahal, kebanyakan yang menjalankan justru lebih santai dengan keadaan yang terus berulang.
Mereka bukannya membuka lembaran lama, tetapi menciptakan lembaran baru. Berjanji satu sama lainnya, saling memperbaiki diri dengan sikap yang jauh lebih dewasa. Berusaha bersikap masa bodoh pada pandangan sekitar. Karena ini, adalah kebahagiaan mereka.
Sudah beberapa hari ini Miki tinggal di apartemen kekasihnya, mengabaikan segala panggilan mamanya. Hatinya sudah sekeras batu, sulit dilunakkan jika salah satunya tak ada yang mengalah. Masa bodoh bagi Miki, toh apartemen ini jauh membuatnya nyaman ketika tinggal bersama orang yang dicintai.
Berbeda dari sebelumnya, sejak hubungan ini semakin intim. Keduanya tidur dalam ruangan yang sama.
Miki membuka mata. Untuk kesekian kalinya wajah yang teduh itu menjadi pemandangan pertamanya. Miki memalingkan wajah, mendapati Jazziel tengah tersenyum manis dengan tangannya yang menyangga kepala.
"Morning, sweety," ucapnya lembut.
Miki hanya mengulas senyum manisnya, kemudian beranjak dari ranjang. Memakai pakaian lengkapnya di hadapan si pria. Sejak itu, sudah tak ada lagi privasi yang menutupi. Selesai dengan kegiatannya, Miki mengikat rambut. Lalu, membuka gorden untuk memberikan kesempatan matahari menembus ruangan.
"Ziel, aku kepikiran mau kerja paruh waktu," ucap Miki sembari melipat kedua tangannya di atas dada. Menyaksikan keindahan pagi dari pemandangan gedung dua puluh lantai.
Lantas Jazziel berkerut heran, lalu turun dari ranjang menghampiri kekasihnya. Ia menghela napas sejenak, lalu melingkarkan tangan itu pada pinggang ramping Miki. Menyandarkan kepalanya pada bahu, lalu tersenyum manis sembari memandang Miki.
"Kamu bilang uang aku udah banyak dan sayang kalau ngga dihamburkan. Kenapa repot-repot cari kerja, Sayang? I am herefor you."
Miki ingin berteriak mendengar ucapan manisnya. Sangat menggemaskan dan berhasil meningkatkan saturasi oksigen dalam mengendalikan detak jantungnya. Lantas Miki memalingkan wajahnya, saling menatap sembari tersenyum manis.
"Minggu ini Hadian jadi menikah?" tanya Miki. Berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Jazziel hanya memiringkan kepala, berpikir sejenak. Tersisa empat hari lagi sebelum lelaki itu melepas status lajangnya. "Jadi. Should we get married too?"
Miki hanya menghela napasnya, lalu melepas rangkulan Jazziel. Sudah tak ada waktu lagi bersikap manja, sebab jam kuliahnya akan dilaksanakan. Tanpa mempedulikan kekecewaan Jazziel, Miki bertolak untuk membersihkan tubuhnya. Tersisa empat puluh menit lagi, Miki harus segera pergi menuju kampusnya.