Bag 32. Shocking talk

3.4K 352 74
                                        

Setelah sekian lama, ketiga wanita cantik ini melenggang kompak pada asrama Hannie

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah sekian lama, ketiga wanita cantik ini melenggang kompak pada asrama Hannie. Menjadikan ruang tersebut sebagai tempat berkumpul tatkala bosan dengan hiruk-pikuk dunia. Sesekali bisa dijadikan tempat penghilang stres, ketika mahluk berbulu yang menggemaskan ini bisa diajak bermain.

"Anaknya Plonga dan Plongo mana, Han?" tanya Miki sembari menggendong mahluk berbulu itu.

"Gue tinggal." Hannie menyahuti sembari menuang sereal untuk makanan kucingnya.

Miki pun hanya tersenyum sejenak. Lalu, kembali pada hewan berbulu nan menggemaskan ini. Ia mengajaknya bicara dengan suaranya tak kalah menggemaskan, meski kucing itu tetap berwajah datar.

"Guys ... I need help," ucap Davina secara mengejutkan.

Miki dan Hannie secara kompak langsung memandang pada helaan napas yang terdengar panjang. Sampai akhirnya sadar, pada wajah murung Davina. Lantas mereka segera meninggalkan kegiatan tersebut, lalu menghampiri Davina yang terbaring di atas ranjang Hannie.

"Ada apa, Dav?" tanya Hannie.

Davina tak bergeming, hanya memandang dua sahabatnya silih berganti. Lalu, ia bangun dari tidurnya dan duduk di tengah-tengah mereka.

"Gue pikir setelah pacaran sama Awan, setengah dari masalah hidup gue hilang ... Tapi, justru bertambah." Davina menghela napas, lalu menundukkan wajahnya.

"Kalian baru pacaran selama satu minggu, masalah apa lagi emangnya?" tanya Miki.

"Awan itu terlalu cuek, kurang peka dan waktunya tersita sama organisasi yang dia ikuti. Meski gue pacaran sama dia, seminggu ini rasanya hampa karena ngga ada video call, text message, and just said hi, he never has. Apa dia pacaran sama gue karena kasihan, or forced."

"Dav, don't feel sad. Awan sendiri bilang kalau dia suka sama lo sejak SMA, tandanya kalian saling suka, dong!" tukas Hannie.

"Apa omongan dia bisa dipercaya?" tebak Miki, membuat dua sahabatnya langsung memandang. "Kita semua tahu, sebelum pacaran sama Davina. Awan sempat pacaran sama senior Ilkom, gimana caranya we can conclude that what he said was true."

Davina pasrah, setelah mendengar cerita Miki yang memang benar. "It turned out to be true, kalau gue ngga berhak mendapatkan seseorang yang tepat."

"Don't say that! Justru ... Cowok yang yang pacaran sama lo harusnya bersyukur. Look at you, beautiful, cute, brave, always give happiness to those around you," ucap Hannie sembari menangkup wajah Davina dengan kedua tangannya.

"You got what you got, Dav. Don't be sad. Kami selalu di sini buat lo," timpal Miki sembari menggenggam tangan Davina.

"Seenggaknya, Dav ... Awan ngga seberengsek Jazz," lanjut Hannie dengan tawanya yang khas.

"Hannie!" seru Miki. "Lo kalau ngomong suka bener, deh," lanjutnya. Lalu, ikut menertawakan kebodohan dirinya yang terpikat pada pesona Jazziel.

"Jatuh cinta sama kutub utara itu sama aja cari penyakit," tukas Hannie.

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang