[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Daging asap yang dipanggang tampak mengeluarkan warna gelap, sedangkan sang pemanggang terlihat kurang fokus dengan tatapan kosongnya. Namun, lamunan panjangnya buyar ketika mendengar Davina berteriak saat Hannie menggodanya dengan tawanya yang keras. Miki menarik napas sejenak, terkesiap dengan pupil mata terbuka lebar menyadari dagingnya yang gosong.
"Lo mau bagi makanan gosong ini ke kita?" tanya Juno. Dengan sigap merebut capit di tangan Miki, lalu mengangkat daging yang gosong dan dia letakkan di piring berbeda.
Miki memalingkan wajahnya sejenak, memandang Juno cukup lama. Lalu, tersenyum sangat manis.
"Kebiasaan, dari dulu ngga pernah jago masak daging. Gue cukup trauma makan daging gosong buatan lo." Juno terkekeh pelan, lalu mengambil alih memanggang sisa daging yang bisa dia selamatkan.
Bukan tanpa alasan Juno nekad mendekati Miki, pria yang mengaku pacar Miki itu sedang mengambil beberapa barang di villa. Makanya, dia berani menghampiri Miki alih-alih sebagai teman SMA yang merindukan masa seperti sekarang.
Dulu, kegiatan seperti memanggang daging menjadi rutinitas mereka setiap bulan, namun saat Jay menjadi mahasiswa dan Riki tiba-tiba mengungkapkan perasaannya pada Miki. Kegiatan tersebut mulai hilang, bahkan terlupakan, tetapi cukup melegakan ketika pertemanan mereka tetap terjalin dengan kesibukan masing-masing.
"Kenapa bohong soal ciuman pertama? Malu ya, punya mantan kayak gue?" tanya Juno.
Miki mengernyitkan dahinya, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh wilayah untuk mengidentifikasi keberadaan Jazziel. Setelah menyadari lelaki itu tak ada dalam radarnya, Miki mengelus dada sembari menghela napas.
"It's just teenagers love when we weresixteen years old. Jangan terlalu dianggap serius." Miki mendengkus kesal. Lalu, mengikat rambut panjangnya karena menghalangi gerak tangannya ketika menyiapkan selada.
"Iya. Emang cuma kisah remaja, tapi banyak kenangannya." Juno merebut selada di tangan Miki, lalu memisahkan daunnya.
"Jadi ... Gue masih mantan terindah?" tanya Miki tersenyum manis sembari menyenggol lengan Juno dengan sengaja.
Juno mengulas senyum tipisnya, lalu memalingkan wajahnya dengan sorot matanya yang memandang teduh. Dia tak langsung menjawab, lebih dulu memandang hamparan bintang yang bersinar terang di langit malam. Sangat indah dan jarang mereka temukan di tengah kota besar.
Juno memalingkan wajahnya lagi, memandang Miki sangat dalam. "Lo sama bintang punya kesamaan ... Sama-sama punya keindahan yang ngga ada duanya."
Miki berdecak kesal, bosan pada bualan Juno yang tak ada bedanya. "Norak, gombalan lo ngga berkembang."
"Sengaja. Pawang lo ngeri," ejek Juno.
Miki mendesis kesal sembari membuka pupilnya, lalu tertawa kecil dengan jarinya yang menyubit pinggang Juno. Akibatnya Juno yang tak tahan pada rasa gelinya, langsung terbahak sampai semua orang terdiam dan memandang heran.