[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Insiden tempo hari, di mana secara diam-diam Miki pergi tanpa seizin Jazziel, membuat dirinya semakin terikat dan terkekang oleh lelaki itu. Bahkan, Miki tak diizinkan pulang dan bermalam di kediaman Jazziel, yang mana sebuah apartemen mewah. Semakin membuat Miki kesal, sebab bukan ini tujuannya.
"Gue mau pulang," ucap Miki.
"Tidur di sini," ketus Jazziel.
Miki mendengkus kesal karena balasan Jazziel, meski sebenarnya dia membenci rumahnya, tetap saja lebih baik daripada bersama Jazziel. Pada akhirnya, dia tak berkutik dan merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk, sedangkan Jazziel duduk di lantai dengan laptop menyala.
"Tumben banget, ngga nyamperin mantan lo?" celetuk Miki, yang sedang asik menggulir sosial medianya.
Jazziel tengah disibukkan dengan tugas lapangan yang dikumpulkan esok hari, sebenarnya alasan dia menahan Miki karena dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
"Laprak gue di kumpul besok, ngga ada waktu," timpal Jazziel.
Miki hanya memutar bola matanya malas, lalu disibukkan lagi dengan semua foto yang dia ambil di pesta tempo hari. Miki tak bisa menahan senyum manisnya, segala macam ekspresi lucu dapat dia saksikan melalui gambar itu. Hingga tanpa sadar, gelak tawa mulai terdengar ketika Miki menyaksikan foto Davina yang sinis pada lelaki lain.
"Anjing! Foto ini harus gue bagi ke Davina. Shelooks cute!" celoteh Miki dengan tawanya.
Mendengar gelak tawa Miki, agaknya membuat Jazziel penasaran, dia pun menghentikan tugasnya lalu beranjak dari duduknya. Jazziel tak bergeming, memandang Miki cukup dalam.
"Ketawa sama siapa?" tanya Jazziel dengan netranya yang menyorot tajam.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Miki berhenti tertawa lalu mendongakkan kepalanya memandang Jazziel keheranan. Kemudian menunjukkan gambar yang membuatnya tertawa.
Jazziel berkacak pinggang dengan perasaan geramnya— memalingkan wajahnya sejenak sembari mendengkus kesal. Tak lama, dia kembali memandang Miki lalu menarik Miki dari duduknya supaya berdiri di hadapannya.
"Apaan, sih!" sesal Miki.
"Kerjain tugas gue!" titah Jazziel tanpa alasan.
Miki menggulir bola matanya pada tumpukan kertas dan laptop yang menyala, kembali dibuat kesal karena tingkah Jazziel yang semakin menyebalkan.