Bag 17. Hidden secret

3.9K 393 87
                                        

Segala rencana untuk mengisi waktu liburan telah tersusun rapi, tetapi sepertinya Miki melupakan Davina

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Segala rencana untuk mengisi waktu liburan telah tersusun rapi, tetapi sepertinya Miki melupakan Davina. Gadis dengan parasnya yang cantik itu, tengah menggerutu di pinggir trotoar sembari membawa dua kantong plastik berukuran besar. Dia sedang menunggu jemputan yang tak kunjung datang, sebab mobil kesayangannya tersita akibat postingan Haidan.

"Shit!" pekik Davina. Baru saja dia melihat postingan Miki, semestinya Miki membantu dirinya untuk persiapan acara di rumahnya. Namun, gadis itu malah bersenang-senang di apartemen Jazziel.

"Gue udah belanja, tapi dia malah enak-enakan pacaran!" gerutunya sekali lagi.

Davina menghela napas, meratapi nasibnya sejenak. Lalu, mengedarkan pandangannya pada jalanan yang ramai, hampir setengah jam dan jemputannya tak kunjung datang, sedangkan sinar jingga di ufuk barat mulai tenggelam. Davina kesal, dia pun melangkahkan kakinya, berusaha mencari tumpangan lainnya. Jika dipaksa menunggu, dia tahu persis kalau lelaki yang menjadi abang kandungnya itu melupakan tugasnya.

"Everyone bullshit," celetuk Davina.

Tak terasa langkah Davina semakin menjauhi keramaian, ingin menaiki bus umum, tetapi dia tak berani. Memesan grab, dia juga terlalu takut berada dalam ruangan yang sama dengan orang asing.

Sampai akhirnya, perhatian Davina berhenti pada sesosok pria yang berlari dari seberang jalan menghampiri dirinya. Davina tertegun, ketika jaraknya semakin dekat wajahnya semakin terlihat jelas. Masih terbayang kenangan malam itu, Davina pun langsung menyembunyikan wajahnya dengan plastik.

"Dav," panggil Awan.

Davina tak menghiraukan panggilan itu, dia terus melangkahkan kakinya. Hingga akhirnya, kakinya yang tak seimbang menabrak gundukan tanah. Namun, ketika keseimbangannya hampir hilang, dengan cekatan Davina langsung memperbaiki posisinya, sehingga dia gagal tersungkur.

"Dav, lo enggak apa-apa?" tanya Awan sembari mencengkeram pergelangan tangan Davina.

Davina mendelik, tubuhnya menegang tatkala sentuhan Awan membuatnya kikuk. "Eng-eng-eng ... Enggak apa-apa."

Awan tersenyum singkat, lalu membantu Davina untuk menegakkan tubuhnya. Pertemuan ini bukan dibuat-buat, secara tak sengaja dia melihat Davina jalan seorang diri di trotoar jalan. Tak tega, dia memutar motor, lalu menghentikannya di seberang jalan untuk menghampiri Davina.

"Gue anter pulang ya, bahaya malam-malam jalan sendiri," ucap Awan.

Davina mendelik sekilas, lalu menepis tangan Awan. "Gue bisa sendiri!"

Awan tertegun pada balasan Davina. "Dav, lo marah sama gue?" tanya Awan.

Davina menggelengkan kepala tanpa memperhatikan lawan bicaranya, dia terlalu takut dan juga malu.

"Kalau ngga marah, kenapa—"

"Maaf! Udah lancang nyium lo di pesta Haidan," potong Davina.

Awan terperangah sejenak, lalu terkekeh pelan karena ucapan Davina. "Ngga perlu minta maaf."

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang