[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Simsiri bar. Kelab malam ini jauh populer dari kelab lainnya yang jauh lebih elit. Sebuah hiburan malam yang menjadi favorit Miki bersama Davina, tetapi sedikit berbeda dari malam lainnya sebab ada Hannie yang bersedia ikut. Tak ada paksaan. Gadis religius itu menawarkan diri, entah masalah pelik apa yang sedang terjadi. Miki menerima dengan senang hati permintaan Hannie.
Tepatnya pukul sepuluh malam mereka sampai pada kelab itu. Sebelum tiba di tempat ini, lebih dulu mereka bersenang-senang di tempat berbeda. Mengingat esok hari adalah akhir pekan, malamnya mereka habisi dengan penyegaran pikiran setelah diterpa banyak pelajaran.
Miki dan Davina sudah berada di dunianya sendiri, sedangkan Hannie memilih duduk sembari memainkan ponsel. Namun, di tempat yang selalu ramai ini tak jarang menemukan orang yang familiar. Salah satunya seperti Awan, lelaki itu menari dengan seorang wanita cantik.
"That's Awan, right?" monolog Hannie. Berusaha memastikan pandangannya yang terlihat kabur.
"Hannie! Lo ngga gabung sama kita?" tanya Davina sudah berada di dekatnya. Menyadari kedatangannya yang tiba-tiba, Hannie segera berdiri secara spontan.
Hannie terperanjat dengan mata terbuka lebar, ia menelan salivanya susah payah. Lalu, menahan gerak Davina yang berniat memutar. "Kita ... Pulang aja, yuk?"
Hannie tak ingin sahabatnya kecewa setelah pemandangan tersebut. Lebih baik Hannie menahannya, mereka belum lama menjalin hubungan yang intens setelah waktu Davina tersita menjadi pengagum rahasia.
"Baru dua jam sejak kaki kita sampai, kenapa?" tanya Davina penasaran.
Hannie memutar-mutar bola matanya, memikirkan jawaban yang tepat untuk alasannya. "Kucing gue udah waktunya makan malam," jawabnya ragu-ragu.
Davina tak bergeming, lalu beralih pada jam tangannya. Sudah pukul dua belas malam, dan ia baru tahu jika hewan berbulu itu memiliki jam makannya sendiri. Lantas ia mengangguk, berniat menghampiri Miki. Tapi, sesuatu yang tidak terduga menyenggol tubuhnya. Davina terkejut, tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah pandangan di depannya.
Maniknya yang berkaca terbuka lebar pada pemandangan tersebut. Mulutnya kelu dengan suara yang tertahan kuat. Tanpa sadar tubuhnya bergerak menghampiri sosok itu.
"Dav!" seru Hannie. Segera ia tarik tubuh itu, mengalihkan pandangan Davina supaya terdistraksi oleh lainnya. Tapi, usahanya sia-sia ketika Davina memaksa melepas pelukannya.
Hannie panik bukan main, terlebih tak ada Miki yang dapat menengahi masalah. Lantas ia menyusul langkah Davina pada lelaki itu.
"Fuck you," lirih Davina.
Sontak saja, lelaki itu segera menyudahi kegiatannya. Ia terbeliak dengan mata terbuka lebar, sedangkan wanita yang baru saja ia ajak bercumbu segera berlalu dari hadapannya.