[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Esok paginya, demi mendapatkan hati Miki kembali, Jazziel terpaksa bangun lebih awal supaya bisa menjemput Miki dan mengantarnya ke kampus. Meski niatnya membangkang sang bunda, tetapi keselamatan Liqiza adalah yang pertama. Dia harus mendengarkan bundanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Miki.
Miki baru saja menutup pintu asrama, terdiam heran pada kedatangan Jazziel. Pasalnya, dia tak memberi kabar lelaki itu jika sudah kembali ke rumahnya. Dengan langkah kakinya yang pelan, dia menuruni anak tangga menemui lelaki itu.
"Tahu dari mana gue tinggal di sini?" tanya Miki, sembari melangkahkan kakinya menghampiri Jazziel.
Jazziel tak bergeming dengan wajah datarnya, memandang Miki dari ujung kakinya hingga tiba di wajah cantiknya yang tak pernah membosankan.
Miki berdecak kesal, lelaki batu ini tak akan pernah mengerti dengan ucapannya. Sampai bosan Miki mengatakannya, bahwa dia tidak suka dan tak akan pernah memperbaiki hubungan tersebut. Ibarat rantainya lepas, mana sudi Miki mengikatnya lagi.
"Ki, ayo!" seru Hannie. Jalan tergesa-gesa menghampiri Miki. Namun, mendadak terdiam heran melihat Jazziel di depan bangunan asramanya.
"Lo berangkat sama dia?" sinis Hannie dengan lirikan tajamnya.
Sontak, hal itu langsung membuat Jazziel menyingkir dari posisinya. Tak ingin banyak bertanya, tetapi dia sangat penasaran. Alhasil, dia memutar tubuhnya dan menemukan mobil putih terparkir sempurna di sebelah mobilnya.
Tanpa menghiraukan Jazziel, dua manusia itu langsung memasuki jemputan Davina.
"Langsung jalan, Dav! Ada orang gila!"
Davina langsung mengindahkan permintaan Miki, sekilas melirik Jazziel yang terdiam sinis dari mobilnya. Davina terkesiap, lalu segera memalingkan wajahnya menghindari bertatap dengan Jazziel.
Sesampainya di kampus tercinta, sebagai mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir semester. Miki, Davina dan Hannie, akhirnya mendapatkan waktu sibuknya untuk belajar. Mengingat UAS semester ganjil, nilai yang mereka raih begitu rendah sampai melihat hasilnya saja enggan.
Sebelum memulai kelas, lebih dulu mereka singgah di perpustakaan. Membaca berbagai buku tentang anatomi manusia, dan hal lainnya. Baru saja membuka halaman pertama, Miki langsung mengeluh panjang.
"Kalau tahu gue sebodoh ini sama pelajaran, mending gue pilih jurusan lain," keluhnya. "Atau gue belajar sama Jay?" pikirnya.
"Kak Jay, FK angkatan 20 prodi ilmu bedah?" tanya Hannie memastikan. Hanya dibalas Miki dengan anggukan kepala.
"Anak BEM, kan? Kok lo bisa kenal dia, Ki?" tanya Davina.