Bag 09. I wanna be yours

4.5K 445 115
                                        

Miki berniat pergi, tetapi pusing di kepalanya terasa sangat berat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Miki berniat pergi, tetapi pusing di kepalanya terasa sangat berat. Miki tak kuasa menahan bebannya sendiri, menyesali keputusannya yang memilih alkohol untuk pelampiasan. Miki sadari minuman terkutuk itu memang tak baik, selain masalah kesehatan dapat mengakibatkan titik fokus yang semakin buyar.

Miki menutup mulutnya dengan telapak tangan, rasa mual diperutnya sangat menyiksa Miki. Dia pun semakin menjauhi Jazziel dengan melangkah mundur, satu tangannya menyandar pada dinding supaya tubuhnya tak jatuh.

Sejak tadi, iris Jazziel yang tajam tak berkedip melihat keanehan Miki. Dia pun, melangkahkan kakinya. Lalu, mencengkeram lengan Miki, sampai gadis itu terkejut dibuatnya.

"Gue ada alasan lain Miki, gue ngga bisa lepasin lo," ucapnya.

Miki mendelik, lalu membuka mulutnya. Untuk saat ini, dia berhasil menahan mual di perutnya.

"Alasan apa?" tanya Miki bersuara rendah.

Jazziel melepas cengkeraman tangannya di lengan Miki, membuang wajahnya sejenak, lalu menghela napas beratnya.

"Satu tahun lalu gue hampir mati, kalau bukan karena lo, kita ngga akan pernah ketemu sampai detik ini."

Miki memutar bola matanya jengah. Sekarang dongeng aneh apalagi, dalam kisah perjalanan hidupnya yang penuh kepalsuan. Miki menegakkan badannya, melipat tangannya di dada, tersenyum dengan seringai licik yang terukir sangat sempurna.

"Lo ngga capek, hidup penuh kepalsuan?" balas Miki.

Jazziel menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut memandang Miki sangat dalam. Lalu, dia kembali mencengkeram lengan Miki, sampai si empunya tersentak kaget dan tangannya turun dari dadanya.

"Hari di mana semua orang menjadi mahasiswa baru, satu tahun lalu, ketika gue berniat bunuh diri di atas jembatan. Tiba-tiba lo datang sempoyongan, ngatain gue sampah dan lemah. Tapi, meski omongan lo buat sakit hati, kedatangan lo merangkul gue."

Miki mengernyitkan dahinya, berpikir keras tentang cerita Jazziel. Pasalnya, sejak kapan dia menemui Jazziel selain lima bulan lalu, ketika Mamanya berniat menjadikannya pelacur.

"Waktu itu, lo bilang gini ...."

Jazziel melonggarkan cengkeraman tangannya, tiba-tiba saja niat untuk menceritakan kisah itu hilang. Jazziel mengacak rambutnya hingga berantakan, membiarkan Miki dalam kebingungan.

"Apa? Gue bilang apa?" balas Miki.

Jazziel memalingkan wajahnya, diam cukup lama dengan sorot matanya yang dingin. "Jangan mati, masih banyak hal di luar sana yang harus lo nikmati. Lo harus liburan sama keluarga, nonton konser, lulus kuliah, punya pekerjaan, menikah, dan punya anak. Kalau susah cari jodohnya, lo bisa temui gue, ajak gue pacaran terus kita nikah."

Miki terbeliak, mana mungkin ucapan murahan itu datang dari mulutnya. Sangat tidak mungkin, mengingat dia mengatakannya pada Jazziel.

"Yang mabok itu gue atau lo, sih?" bantah Miki.

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang