Bag 35. What actually happened

2.9K 347 97
                                        

Apa yang Liqiza terima adalah hasil dari yang ia tuai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Apa yang Liqiza terima adalah hasil dari yang ia tuai. Huru hara itu tak akan sebesar ini, hingga merusak nama baiknya jika Liqiza cukup diam dengan kehidupannya. Semua berawal dari rasa cemburunya pada anak-anak yang memiliki keluarga utuh, sejak saat itulah Liqiza menjadi pribadi yang pendendam. Sebab selama bertahun-tahun tinggal di panti asuhan, ia tak pernah menemukan keluarganya.

Cukup kita akui. Gadis bersurai hitam panjang itu adalah yang terpintar dan cantik. Semestinya dengan kemampuan seperti itu, Liqiza dapat mempunyai keluarga angkat dengan mudah. Namun, entah permainan apa yang dilakukan pihak panti, membuat dirinya terkurung. Hingga suatu hari, seorang anak berusia tujuh tahun dipindahkan dari panti asuhan berbeda.

Anak itu bernama Zaffan. Seumuran dengannya, dan punya sifat humoris dengan jenaka yang membuat Liqiza selalu terbahak. Selain itu Zaffan selalu bercerita bahwa ia masih mempunyai orang tua, mereka akan datang menjemputnya kelak. Liqiza kala itu tak peduli, dan menganggap Zaffan teman sejatinya.

Sejak saat itulah, Liqiza menemukan dunianya. Ia tak pernah kesepian lagi, dan harinya menjadi penuh warna. Hampir setiap hari mereka selalu bersama.

Sampai akhirnya, Liqiza mulai bosan dengan cerita Zaffan tentang orang tuanya. Ia muak mengetahui fakta bahwa anak itu memiliki keluarga. Sedangkan ia tidak. Oleh karena itu, ketika usia mereka menginjak sebelas tahun. Di sekolah dasar itu, Liqiza menyebarkan perihal kisah Zaffan sampai membuat anak itu dirundung massa dan dikucilkan.

Liqiza bahagia. Ia bisa memiliki Zaffan selamanya, tak akan pernah berpisah. Selalu menjadi penolong tatkala Zaffan merasa sedih dan sendiri. Namun satu yang Liqiza sesali, anak-anak nakal itu tak berhenti mengganggu Zaffan. Hingga membuatnya depresi dan mendapat gangguan kecemasan.

Liqiza panik, dan merasa bersalah. Namun, fakta bahwa Zaffan segera dijemput oleh keluarganya semakin membuatnya marah. Oleh karena itu, Liqiza usia dua belas tahun mempengaruhi Zaffan dengan menyuruhnya bunuh diri. Untuk anak seusia mereka, tindakan impulsif justru sangat berbahaya.

"Beasiswa kamu saya copot." Seorang dekan akhirnya memberikan keputusan akhirnya.

Liqiza hanya bisa pasrah dengan maniknya yang berkaca. Ia tak pernah menduga bahwa hidupnya hancur dalam semalam. Sekarang sudah tak ada gunanya lagi bersandiwara dihadapan banyak orang. Sebab tak akan ada yang mempercayai dirinya. Dengan langkah kaki yang lunglai, Liqiza menyusuri koridor dengan wajahnya yang tertunduk lesu.

"Pergi lo, perek!" teriak seseorang setelah melempar Liqiza dengan botol sisa minuman.

Liqiza berhenti melangkah. Rambutnya menjadi basah dan lengket karena minuman itu. Namun, lemparan itu semakin menjadi tatkala lainnya ikut melempari dirinya dengan sisa makanan dan berbagai macam sampah.

ANDROMEDA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang