[SUDAH TERBIT]
Pilih salah satu atau lepaskan. Dua pilihan yang sebenarnya mudah dilakukan, tetapi tidak bagi Jazziel. Pemuda tampan dengan segala kekurangan yang selalu merasa benar, memilih mempertahankan keduanya.
Namun, Miki bukan gadis lemah. M...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Merana dalam kenestapaan yang membuatnya gelabah. Dalam kesempatan yang sama dengan situasi yang berbeda, pria ini semakin gundah pada dua pilihan di depan matanya. Ia terlihat sangat frustasi, menyisir rambutnya ke belakang, lalu menatap dua wanita dalam hidupnya silih berganti. Jazziel mengingat semua ucapan bundanya, tak akan ada akhir jika ia tak menentukan.
Pria ini melangkahkan kakinya, menghampiri dua wanita itu. Menatap satunya keheranan, hingga alisnya berkerut dengan mimik frustasi yang terlihat jelas.
"Lo kenapa bisa di rumah, Miki?" tanya Jazziel pada Liqiza.
Gadis ini terbeliak pada pertanyaan sang pria, nada bicaranya tak selembut biasanya. Lantas ia hanya terdiam bingung pada tangannya yang perlahan turun dari wajah.
Tamat sudah nasib Miki, menampar Liqiza bertepatan dengan kedatangannya yang tidak terduga. Miki mendengkus sembari menatap sang pria sangat sinis, lalu melangkahkan kakinya. Berdiri tepat di hadapannya dengan tatapannya yang sangat mengintimidasi. Beberapa detik kemudian, ia berpaling pada gadis di sebelahnya, menatap remeh-temeh dengan sudut mulutnya yang tertarik sempurna.
"Langsung inti aja, Jazz. Lo mau putus karena gue nampar ni lonte?" tanyanya.
Jazziel menggelengkan kepalanya lamat-lamat, lalu meraih pergelangan gadisnya hingga tubuhnya lebih dekat.
Miki sedikit tersentak. "Atau lo mau marah-marah, ngatain gue sasimo kayak lainnya?" tanya Miki sekali lagi.
"Buat apa aku marah?" balas Jazziel.
Terharu. Miki tak bergeming dengan wajahnya yang datar memandang pria di depannya. Mulutnya bergetar tanpa sadar dengan netranya yang berkaca. Belum sempat mulut ini bicara, tubuhnya kembali tertarik lebih dekat dengan kecupan singkat di pucuk kepalanya.
Miki kembali terharu, tanpa sadar bulir bening menetes bersama rasa lega ketika seseorang yang sangat dia dambakan berada dipihaknya. Miki memeluk Jazziel, sangat erat hingga tak rela melepaskannya.
Melihat pemandangan asing yang begitu intens, membuat gadis seperti Liqiza tak terima. Ia menggelengkan kepala, secara perlahan matanya mulai berkaca pada situasi aneh yang tak memungkinkan. Ia pun murka, lalu menangis dengan dada yang sesak bagai tercekat.
"Jazziel! Barusan dia nampar aku, dan kamu malah belain dia?!" sungut Liqiza.
Mendengar ocehannya, menjadikan lirikan sinis itu tercipta sempurna memandang sang penanya. Lantas ia melepas pelukan tersebut, lalu mengikis jaraknya. Tak lupa dengan sorot intimidasi tajam yang sangat memojokkan Liqiza.
"Kasih gue alasan yang tepat untuk ngebela lo, Liz?" balas Jazziel.
Liqiza tersentak, kakinya lemas seketika dengan pertahanan yang mulai runtuh. Susah payah ia memohon dengan sebuah ancaman pada Catherine, atau mama Miki. Namun, harapan yang ia dapatkan justru malah sebaliknya. Liqiza terjatuh lemas pada permukaan lantai yang dingin. Siap memainkan peran untuk kategori lainnya.