Berbagai permasalahan manusia saat ini bisa ketahui dari berbagai aspek salah satunya kesehatan mental, yang masih sering dianggap sepele dan lemah bagi sebagian orang yang tidak memahami arti kesehatan dan mental secara dalam. However, mental dan psikis setiap orang tentu saja berbeda. Berbeda dalam menyikapi, mendengar, dan menerima setiap tutur kata dan perlakuan.
Namun kesalahan lebih fatal lagi harus perempuan itu alami ketika bertemu salah satu mantannya yang kini bekerja sebagai psikolog. Menangani setiap keluhan dan permasalahan mental, jiwa dan psikis seseorang. Laki laki paling toxic tetapi profesi sebagai psikolog. Sungguh gila.
Perempuan dengan pakaian baju blouse putih dipadukan dengan tanktop putih dan celana krem masuk ke dalam ruangan tanpa melihat nama dokter bersangkutan. Kakinya berhenti melangkah, tubuhnya menegang. Laki laki itu. Muncul di depannya tanpa ada persiapan apapun.
Keduanya sama sama menampilkan raut terkejut. Akan tetapi, perasaan dalam diri mereka tentu berbeda. Shea dengan perasaan takut sekaligus cemas, Arka dengan perasaan senang sekaligus bahagia. Laki laki itu manarik sudut bibirnya kemudian beranjak berdiri dari kursi. Kedua kakinya mengikuti pikirannya untuk mendekati mantannya. Mantan? Memang sejak kapan Arka mengungkapkan kata putus keluar dari mulutnya? Tidak akan pernah. Bahkan Arka tidak memiliki kekasih lagi semenjak ketidakhadiran Shea dihidupnya. Shea menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Kata perpisahan tidak pernah ada.
"Sheanna?"
Bersamaan ucapan Arka, Shea mendadak mundur menghalau jangkauan Arka. Kakinya benar benar lemas. Bergerak pun harus dengan sedikit paksaan. Empat langkah, jarak semakin dekat kemudian tak menunggu lama Shea berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit. Sial! Kenapa ia tidak mengetahui arah setiap lorong. Dengan panik dan takut, Shea terus melangkahkan kakinya cepat. Saat ia melihat lift, cepat cepat ia menjangkau lalu menekan tombolnya. Argh! Kenapa lift masih di loby sementara Shea berada di lantai 8.
Sayup sayup langkah kaki mulai terdengar, Shea menoleh dan menemukan Arka semakin dekat mengejarnya. Tanpa menunggu, ia berlari menuju tangga darurat. Helaan nafas tidak bisa ia kontrol lagi, deru nafas semakin sesak dan udara semakin menipis. Segera ia menutup pintu darurat lalu mengatur deru nafasnya.
Tok! Tok!
Belum sepuluh detik, Arka sudah menjangkaunya dibalik pintu dengan gedoran yang amat keras ditambah suara desis.
"Sheanna! Buka pintunya."
Pintu cat putih menjadi penghalang antar keduanya. Shea belum bisa lanjut lari lagi. Masih mengatur pasukan oksigen udara agar ia bisa bernafas normal kembali. Argh! Kedua kalinya Shea menggerutu ketika melupakan obat itu. Ia tidak bisa berpikir baik lagi. Tubuhnya merosot kebawah saat gedoran pintu tidak terdengar lagi. Apa mungkin Arka sudah menyerah? Shea melupakannya? Bodo amat. Ini semua atas saran pacarnya-- Brandon menyarankan agar konsultasi ke rumah sakit megah itu tanpa mengetahui siapa saja dokter yang menangani pasiennya.
POV Shea*
Segera aku meraih ponselku dari dalam tas lalu menghubungi Brandon. Meskipun sangat nihil Brandon mengangkat telfon di jam kerja, namun aku tetap menghubunginya. Dering kelima tidak ada sahutan dari Brandon. Keringat di pelipisnya semakin mengucur membasahi anak rambut dan wajahnya. Bahkan tangannya masih gemetaran
Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain berlari menuju lantai bawah menggunakan lift atau tangga darurat. Aku memilih melangkahkan kakinya melewati tangga. Tak lupa aku melepas heels yang kupakai terlebih dahulu kemudian menghirup udara sebanyak banyaknya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, lalu turun secara cepat. Namun sial, sangat sial, Aku menemukan Arka berdiri menjulang dengan jas putih kebanggaan melekat di tubuh kekar dan sepatu pentofel hitam mengkilap. Kedua tangan terlipat depan dada dan menyambutku dengan sudut bibir terangkat. Seolah olah berhasil menemukan mangsa.
"Capek berdiri?" Suara itu yang sudah lama Shea tidak dengar. Suara penuh ancaman dan penekanan.
Sementara Shea tidak bisa bergerak. Tubuhnya lemas bahkan secara refleks tangannya menutup mulutnya. Isakan tangis mulai terdengar dari mulut Shea.
"Kemarilah. Kamu sudah capek berlarian denganku. Aku punya air mineral."
Tetapi aku masih berdiri tidak mengikuti ucapan Arka. Kepalanya menggeleng sebagai jawaban menolak arahan Arka. Masih syok atas apa yang terjadi sekarang.
"Sini, sayang. Aku tau kamu rindu. Mendekatlah" desis Arka tangannya membentang menyambut pelukan untuk Shea.
Bibirnya berdecak setelah melihat respon gadisnya. Semakin menangis semakin membuat Arka gelisah.
Tanpa menunggu lama, Arka berlari lalu memeluk dari belakang tubuhku. Ya aku hendak berlari menuju tempat semula namun ditahan oleh tangan kekar yang melilit perut. Nafas Arka di leherku membuat aku merinding takut. Aku berusaha melepaskan pelukan ini, sementara Arka tambah mengeratkan pelukannya. Aroma parfum maskulin yang sudah lama tidak kuhirup sekarang hadir tepat dibelakangku. Tanganku memukul lengan Arka agar bisa lepas, tetapi Arka menahan kedua tanganku. Kepalanya berada di ceruk leherku tak henti henti menghirup aroma parfumku dan rambutku ia gerai ketika Arka menyadari leherku terlihat dengan jelas.
"Jangan bergerak. Bukankah aku sudah bilang jangan mengikat rambutmu. Lehermu adalah milikku. Berarti hanya aku yang boleh melihatnya"
Aku semakin ketakutan. Semua perlakuan Arka sangat ingin kutendang lalu bersembunyi dari jangkauannya. Tetapi apakah bisa setelah hal tersebut terjadi?
"Kamu tidak memerlukan psikolog, sayang. Ada aku. Hanya aku. Sampai kapanpun hanya ada aku. Aku bisa lebih dari seorang psikolog. Jadi katakan apa keluhanmu, hm?" tutur Arka setelah membalikkan badanku ke arahnya. Aku dapat melihat dengan sangat jelas bentuk wajahnya yang semakin tegas dan kulit putih itu. Bibirnya juga membentuk sebuah senyum yang tidak bisa aku artikan dibalik senyum milik Arka saat tengah memandangi seluruh wajahku. Tangan Arka membelai wajahku dari mata, hidung, pipi, bibir kemudian rahangku.
"Kenapa menghilang dariku?"
Aku kembali sadar, aku tidak boleh terlena sama omongan dan perlakuannya. Pikiranku terus mengarahkan untuk tetap tenang pada situasi seperti ini. Sesuai ucapan dokter psikolog sebelumnya. Sebelum Arka.
Mulutku tidak mengeluarkan sepatah kata. "Kemana Sheaku yang selalu ribut?"
Hilang. Batinku secara cepat mengatakan kata tersebut. Setelah perlakuan dan kelakuan Arka di masa lalu, aku menghilang.
Merasa geram karena ucapannya tidak dijawab oleh gadisnya, Arka menggendongku lalu membawaku menuju ruangannya. Aku menendang udara agar bisa bebas tapi Arka mengubah posisinya menjadi bridalstyle.
Sesampainya di ruangan miliknya, Arka mengunci pintu, berjalan kearah satu ruangan lagi lalu meletakkan ku ke kasur.
Belum juga aku hendak berdiri, Arka lompat ke atas kasur lalu mengurungku dengan tubuh kekarnya. Kakinya ia gunakan untuk menahan kakiku. Sementara kepalaku tepat didepan dada Arka.
"Jangan pergi lagi. Sudah cukup semuanya, Shea."
"Ar ... Arka lepaskan!"
Saat itu juga Arka melepaskan pelukan itu lalu memandangku penuh amarah. Entah apa salahku sampai Arka menyampaikan lewat tatapannya kalo dia lagi marah.
"Jangan pernah harap aku bakalan lakukan kedua kalinya. Tidak ada yang akan mengambilmu. Hanya aku yang selalu ada. Bukan sia-"
Dering ponsel berasal dari dalam tasku memotong ucapan Arka. Segera aku meraih tasku saat Arka tengah lengah. Belum juga aku mengangkat panggilan dari Brandon, ponselku beralih ke tangan Arka, dan melemparnya arah tembok secara keras yang penuh emosi dan amarah.
"Berani selingkuh, ya?" Setelah mengatakannya, Arka melakukan hal yang membuatku mengingat kilasan masa lalu Arka bersama seorang perempuan di apartement itu.
.
.
.
.
Jangan lupa vote dan komen supaya aku semakin semangat nulis ide baru. Kalau kalian punya ide juga boleh kok tulis di kolom komentar biar aku bisa kembangin alur ceritanya kayak gimana.
See you on next chapter.
Jika kalian mikir aneh aneh masalah perlakuann Arka diatas, nggak sampai hal itu. Arka masih sadar dan punya prinsip sendiri.
