Don't Disturb My Fiance (2)

3.8K 192 4
                                        

"Kak Asya?"

Perempuan sedang menulis mengangkat pandangannya, merasa dirinya dipanggil ia menunjuk dirinya.

"Kak Asya, ya? Saya Raisa adik tingkat kakak. Tadi ada pesan dari Bu Renggina, Kak Asya ditunggu di ruang dosen sekarang." Ujar Raisa disertai senyuman cantik di wajah putihnya.

Asya memandang wajah Raisa. "Nanti gue kesana. Terima kasih, ya"

Kepala Raisa mengangguk sekali. "Sama-sama, Kak. Kalau begitu saya pamit"

"Gausah terlalu kaku. Gak makan orang kok" Asya sedikit terkekeh mendengar penuturan Raisa sangat kaku. Memang ada perbedaan jarak semester antar keduanya namun Asya tidak mempersalahkan selama perlakuannya masih sopan.

Raisa tersenyum kecil lalu beranjak meninggalkan Asya sendirian.

Beberapa menit lagi, kantin kampus akan tutup. Dengan segera ia merapihkan seluruh barang bawaannya, memasukkan ke tas dan membayar makanan yang ia pesan.

Sesampainya depan ruang dosen, ia memajukan kepalanya melihat situasi dalan ruangan. Hanya ada Bu Renggina. Ia berjalan masuk setelah mengetuk pintu.

"Kamu Sanasya?"

Bibir kecil itu tersenyum.

"Ibu dengar kamu lulus dengan nilai IPK sempurna." Wanita berusia 54 tahun itu melepaskan kacamatanya.

"Alhamdulillah. Kalau boleh tau kenapa, ya, Bu?"

Renggina berdehem singkat. "Begini. Kemarin anak saya lulus sama seperti kamu, termasuk mahasiswa terbaik di kampusnya. Kebetulan kampus anak Ibu di Oxford. Kamu tahu, kan? Lulusan Oxford itu luar biasa dan anak Ibu alumni sana."

Oh mau pamer ceritanya?

Asya tak paham maksudnya selain pamer keberhasilan anak itu.

"Ibu pengen kamu ketemu dengan anak Ibu. Kamu suka melukis dan anak Ibu juga lagi nyari orang yang bisa melanjutkan bisnisnya."

"Maksudnya?" Tanya Asya

Renggina mengulurkan tangannya ke Asya dan menjawab pertanyaan gadis cantik di hadapannya. "Anakku punya usaha berkaitan dengan melukis. Waktu Kuliah dia juga dibarengi kerja. Awalnya Ibu kurang setuju selama ada biaya dia cuma perlu belajar saja tapi dia tetap kekeh mau punya bisnis. Terpaksa saya izinkan dengan syarat kuliah tetap berjalan dan lulus harus sempurna. Dan dia buktikan. Jadi Ibu pengen kalian bisa kerjasama. Selama kamu kuliah, Ibu suka merhatiin karya kamu dekat mading kampus. Bisa Ibu minta nomor kamu?"

Tangan Asya tertarik melepaskan dari jangkauan Renggina. Meskipun dosen, Asya kurang suka skinship.

"Boleh. Sangat boleh. Dimana Asya bisa ketemu sama anak Ibu?"

"Nanti Ibu bicarakan, ya." Ujar Renggina setelah menerima nomornya.

Setelah tak ada lagi, Asya melangkah keluar dari ruangan itu. Sebelum langkahnya menjangkau daun pintu, ia melewati seseorang tengah berbicara itu dan tiba-tiba menyentuh tangannya.

Refleks ia berbalik dan mendapati Pak Chandra tengah berbincang dengan salah satu mahasiswanya. Acuh tak acuh, Pak Chandra tambah mengeratkan tautan kedua tangan itu. Tak ingin melepaskan dan masih dalam posisi yang sama.

Kedua tangan saling bertaut itu tak terlihat karena perbedaan tinggi badan sehingga Asya tak terlihat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, sibuk dengan urusan masing-masing.

Ia berusaha melepaskan tautan itu namun kekuatan laki-laki jauh lebih besar dari perempuan sehingga genggaman itu semakin kuat dan erat.

"Lepasin, Pak! Lepas. Pak apa-apaansih" bisiknya dari belakang.

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang