Yuda Okaraka

1.1K 76 0
                                        

18+
Dangerous zone!

Malam ini suasana rumah sakit cukup kondusif. Terhitung sejak tiga jam yang lalu Launa mengikuti prosedur operasi yang ternyata jauh memakan waktu dari perkiraan Launa. Kondisi pasien sempat terkendala karena kurangnya persediaan darah yang membutuhkan lebih banyak. Sedikit terpaksa beberapa perawat mendonorkan darah sesuai golongan darah pasien. Terhitung hanya lima kantong darah, tak berselang lama dari rumah sakit lain memberikan lebih dari kebutuhan pasien.

Launa dapat melihat raut lega terpancar dari ekspresi keluarga pasien saat Dokter Yuda keluar dari ruang operasi.

Setelah bersih, Launa menghampiri salah satu rekannya untuk mengisi perut dengan roti dan nasi yang tersedia di kafetaria rumah sakit. Air muka Launa tampak kelelahan namun ia tetap berjaga malam. Khawatir keadaan darurat yang datang kapan saja tanpa mengetahui waktu.

"Lau?"

Launa hanya bergumam, kepalanya terbenam di lipatan tangan tanpa henti mengunyah.

"Operasi malam tadi lancar?" tanya Vero baru sampai ketika Launa selesai bersih badan.

"Sempat tunda. Perlu darah." Launa menjawab seperlunya.

Tangan Vero mengulur, mengelus lengan Launa. "Maaf gue nggak siapin makan malam kamu,"

"Bukan tugas kamu, Vero. Berapa kali gue bilang nggak perlu."

"Malam ini kamu akan makan apa?"

"Gue perlu tidur aja. Capek sekali gue,"

Vero berdiri, "ayo gue nemenin lo di ruangan gue,"

Launa pasrah dan memilih mengikuti Vero. Sesampainya di ruangan, Vero bergegas mengeluarkan bedcover dan bantal lalu menaruh di sofa panjang. Launa sedikit pusing langsung baring ke atas sofa. Tangan Vero menutup tubuh perempuan itu dengan selimut. Lelaki itu diam menatap wajah Launa. Ia hendak mengelus kembali wajah Launa namun pintu di ruangannya terbuka menampilkan seseorang yang datang dengan nafas tak beraturan.

"Anda berani sekali menyembunyikan Launa?" suara berat itu memecah keheningan dalam ruangan setelah Vero menginstrupsi orang itu tidak berisik.

"Saya perlu Launa setelah ini."

Vero menimpali, "Launa baru saja istirahat. Setengah jam lagi saya akan membangunkan Launa. Dokter Yuda tenang saja."

"Apakah anda tidak mendengar ucapanku? Saya tidak suka mengulang kalimat"

Keributan itu tentu menyadarkan Launa dari alam mimpi. Dengan pusing, Launa bangkit duduk, memengang kepalanya yang masih berdenyut pusing.

"Ada apa kemari Dokter Yuda?"

Launa mengikat rambutnya.

"Ikut saya"

Tentu Vero menolak. Perempuan itu baru saja istirahat, dan masih harus berjaga besok pagi.

"Kepentingan yang mendesak, Launa. Kau asistenku."

Sedetik kemudian, tanpa perasaan Dokter Yuda menarik paksa tangan Launa keluar ruangan. Vero? Lelaki itu diam tak berkutik.

***

Launa dan Dokter Yuda. Saling membisu. Hembusan nafas terdengar samar dalam lengkupan sepi. Keheningan melanda setelah Dokter Yuda menegaskan Launa tidak bicara apapun.

"Launa,"

Suara itu memecah keheningan dalam mobil.

Dokter Yuda melonggarkan genggaman tangan dari stir kemudi. Badannya berbalik ke arah Launa dan maju tanpa mendengar balasan dari Launa.

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang