Gharvi Ranggara Ditara

2.7K 136 3
                                        

"Sekalian kamu berangkat sama dia. Ngga capek juga. Jauh 'loh jaraknya. Boleh, kan, Nak?"

Gue terpaksa mengangguk. Selain capek, banyak kerjaan gue belum kelar dimana gue harus kerja di mobil. Engga mungkin juga gue selesaiin kerjaan kantor sambil mengendarain mobil? Bisa tamat hidup.

Barang-barang gue udah pada masuk di bagasi belakang, barang dia juga tersimpan rapi bersamaan. Cemilan yang gue siapin sehari sebelum balik rumah tersusun di jok tengah. Cardigan tipis sewaktu kedinginan selama perjalanan nanti telah dilipat juga belakang kursi jok. Semua perlengkapan gue lengkap. Termasuk powerbank.

Rencana yang gue pikir bakal terealisasikan pas di perjalanan seketika sirna karena kehadiran seseorang. Gue bayangin mengendarai mobil sendiri dengan musik serta udara sejuk pasti buat gue tenang. Tapi ga jadi alias batal. Pengen nolak juga ngga bisa karna tante gue sendiri yang meminta pertolongan. Emang kendaraan dia mana sih? Mana ada anak kecil lagi.

"Mobil saya lagi masa perbaikan,"

Loh. Kok dia tau apa yang gue pikir?

"Dan soal anak saya nggak perlu risau. Dia anaknya tenang."

Kalau ngga tenang bakal gue cubit sih.

Pada akhirnya gue pamitan sama keluarga gue serta keluarga dia yang sebenarnya kukenal. Setelah makan yang kata mereka supaya nggak kelaparan, kita bertiga langsung meninggalkan rumah. Dengan klakson berbunyi serta lambaian tangan membuat jarak semakin jauh.

Awalnya gue nggak perduli apa yang laki-laki itu katakan dengan seseorang ditelfon. Anaknya tenang banget, bahkan seusia anak itu biasanya tuh rewel nggak bisa diam. Gue noleh ke belakang, mengambil snack yang mungkin saja anak itu lapar lagi.

"Kakak punya cemilan. Kamu mau?"

Ohmaigat. Matanya lucu banget, kayak terharu dan pengen nangis. Entahlah. Tangan gue masih nawarin. Dua, tiga, empat detik kemudian anak itu menerima. Memakan cemilan dari gue dengan tersenyum kecil. Seketika berbagai pertanyaan muncul di benak. Apa anak itu nggak pernah lihat cemilan sampai makan aja senyum terharu.

"Mau duduk di depan? Kakak pangku," ujarku sembari menepuk pangkauanku. Sekilas anak itu menatap laki-laki dewasa itu dan mengangguk kecil. Segera tangan gue terulur mengendong anak itu kemudian memangku di atas paha gue.

"Kalau kenyang bilang sama Kakak, ya. Atau kamu mau buang air, ngomong ya. Nanti biar Papa kamu berhenti. Oke?"

Anak itu mengangguk lagi. Lucu banget parah.

Setelah cemilan habis, meneguk air mineral, anak itu kembali diam menatap pemandangan yang mobil mereka lewati. Gue menepuk pelan paha anak itu sampai tak terasa anak itu tertidur. Ah, ternyata anak kecil tuh gak semuanya sama. Kalau seperti ini gue bisa adopsi anak supaya nggak kesepian nantinya. Ohiya, gue tuh cukup menghindari namanya ikatan sah, menurut gue laki-laki di dunia ini nggak bisa dipercaya. Banyaknya berita tentang hubungan dalam keluarga buat gue semakin takut menciptakan hubungan lagi.

"Pegal?"

Suara itu menyadarkan gue dari lamunan. Gue noleh lalu bersitatap dengan Papa anak yang gue pangku. Hanya sebentar, setelah itu gue mutusin tatapan itu.

"Anak lo jarang makan?"

Sempat terdiam. Tak ada jawaban.

"Ra-"

"Hanya orang tertentu,"

What? Maksudnya apa? Gue ngomong apa dia jawab apa?

"Hanya orang tertentu makanan akan masuk ke perutnya."

Oalah. Gitu toh. Jangan-jangan laki-laki samping gue mau nawarin sebagai asisten anaknya? Oh ngga. Banyak yang perlu gue urusin.

"Gue nggak mau jadi asisten anak lo," tut. Bibir gue seketika tertutup.

Laki-laki itu tak menjawab. Tangannya menjangkau paha anaknya menyentuhnya yang dimana tangan gue di posisi yang sama. Saat gue mau narik, dia malah nahan tangan gue, ikut mengelus paha beserta tangan gue. Gue menoleh ke samping dengan kening mengernyit heran.

"Anak saya bisa bangun kalo tangan kamu tidak ikut mengelus,"

Hah? Gue coba narik lagi dan bener dong anaknya hampir bangun.

"Benar apa yang saya katakan."

"Tangan lo nggak usah ikutan juga."

"Kenapa? Dia anak saya."

"Kalo gitu biar tangan lo aja. Ngga perlu dua tangan,"

"Anna,"

Seketika badan gue terdiam, mata gue mendadak terpaku kemudian melirik laki-laki itu lagi. Kenapa dia bisa tahu nama gue?

"Gharvi. Itu nama saya."

Dan mobil kita mendadak berhenti di rest area. Segera gue keluar dari mobil, membuka pintu tengah, merebahkan tubuh anak laki laki ini ke jok tengah dengan bantal di ujung.

Gue ninggalin anak itu sama Papanya. Bodo amat. Gue kebelet.

Setelah urusan buang air selesai, gue mampir di warung indomie, pesan satu porsi mie kuah yang suasananya mendukung banget, udara dingin segar gitu. Keasikan main ponsel gue nggak sadar ternyata Gharvi narik kursi samping gue terus duduk.

"Mas mau pesan juga?" Tanya Mbak penjual. Loh cepet banget hampirin kita. Gue aja tadi pesan di kasir.

"Samain sama pesanan dia,"

Gue hampir nanya dimana anaknya, nggak mungkin ditinggal ternyata dia udah duduk samping Papanya. Segera gue pindah, dekat anak kecil itu.

Kebetulan Gharvi bawa keluar bekal anaknya, gue suapin dan lahap banget dia makan.

"Lahap ya anak ganteng. Mau Kakak pesanin nasi goreng?"

Anak itu menggeleng. Gue beresin perlengkapan makan dia lalu tak lama pesanan kita datang. Gue yang lapar secepatnya makan habisin supaya nggak buang buang waktu.

-'-

Tak terasa perjalanan tiga jam, mata gue udah ngedip ngedip pelan. Ngantuk. Gue mulai pasang airpods di kedua telinga gue, mutar lagu yang bisa gue nyenyak tidur. Gara juga tidur kembali.

Setelah dua manusia masuk alam mimpi, sudut bibir Gharvi tertarik. Sepanjang perjalanan dia merasakan sesuatu mendebarkan. Jantungnya berdetak aneh. Bahkan dadanya memunculkan sebuah euforia yang membuncah ketika memikirkan dua manusia di mobil ini. Dia menepikan kendaraannya sejenak, meneguk sebotol air yang telah ia sediakan sebelum berangkat. Tatapannya lurus kedepan berbeda dengan isi pikirannya yang jadi tak karuan. Ia memejamkan matanya menahan debaran aneh itu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia membuka matanya, melirik ke samping pada perempuan yang menyebabkan dadanya memunculkan perasaan senang dan bahagia. Posisi duduk yang tadinya ke depan sekarang menghadap Anna. Perlahan tangannya menjangkau rambut dekat pelipis Anna, menghalau ke belakang dengan bibir terus membentuk senyum. Menahan debaran semakin gila, Gharvi mengenggam tangan Anna. Memandang tangan milik Anna yang memiliki kulit putih mulus dan kecil jauh beda dengan ukuran tangannya yang muncul urat tangan. Ia mengelus permukaan tangan Anna. Tatapannya tertuju pada wajah Anna. Dengan segenap keberanian Gharvi membawa tangan Anna ke depan dadanya. Ia ingin Anna tau kalau Gharvi merasakan debaran gila ini karena perempuan itu.

Gharvi seperti akan nangis bahagia.

Ia kembali mengendarai mobil itu memasuki perkotaan dimana Anna, Gharvi tinggali. Meskipun berbeda perumahan serta lokasi tapi Gharvi akan membawa Anna ke rumahnya. Tanpa melepaskan genggaman tangan Gharvi melanjutkan mengendarai mobil dengan satu tangan lain.

Sesekali ia mengecup pelan punggung tangan Anna dengan tatapan haru. Entahlah berbagai perasaan suka muncul melalui raut wajah Gharvi.

Dan Anna tidak menyadari apapun yang Gharvi lakukan.

"Kamu calon istri saya, jangan menolak, ya. Keputusanku tidak akan pernah berubah. Mari membangun hubungan baru bersama saya dengan Gara. Saya mencintaimu, Anna Gloria,"

Gharvi membawa tubuh Anna masuk kedalam pelukannya di atas ranjang miliknya, mengecup kening Anna berkali-kali setelah mereka telah sampai di rumah tentunya. Bibirnya tak henti memberikan kecupan di kening gadisnya sejak mereka berdua telah sampai. Hatinya bergetar ketika melakukan ini semua.

"Saya tidak salah mengambil kesempatan Tante kamu,"

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang