Aksara Kalandra

988 58 2
                                        

Bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten Pak Aksa buat aku kewalahan terutama saat pertama kali kerja, aku harus mempelajari seluruh tugas kantor maupun tugas di luar kantor. Pak Aksa termasuk Boss yang ketat aturan, otoriter, ambisi yang besar, dan licik. Tak tanggung, Pak Aksa mampu menyingkirkan kompetitor dengan mengandalkan kekuasaan dan uang. Menghubungi orang 'tak diketahui' identitasnya secara jelas agar menyelesaikan para hama yang segera disingkirkan. Namun dibalik sisi gelap Pak Aksa, visual pria itu sangat dipuja oleh seluruh kaum perempuan yang melihatnya kecuali aku. Berada di sisi pria itu sudah menghilangkan rasa kagum pada visualnya setelah tahu kepribadian lain Pak Aksa.

Pagi ini, aku menunggu kedatangan Pak Aksa yang katanya sedang keluar kota. Beberapa hari lalu, hidupku serasa bebas tidak ada hawa emosi di sekitarku. Aku bebas mengunjungi taman wisata, cafe, nonton, dan perawatan tanpa khawatir adanya panggilan telfon yang bersifat prioritas. Bekerja dengan Pak Aksa, aku menggunakan nada dering yang berbeda untuk kontak Pak Aksa dan Orang tua Pak Aksa. Soal Tuan Fareck dan Nyonya Pritya, aku wajib mengikuti seluruh titah yang dikerahkan. Akan tetapi sejauh ini, perintah dari mereka hanya memastikan kesehatan dan keberadaan Pak Aksa sekaligus membujuk Pak Aksa mengikuti jamuan makan malam yang rutin dilakukan akhir-akhir ini.

Dari kejauhan indra pendengaranku berfungsi cepat, mendengar suara dentingan lift dan hentakan langkah kaki. Segera aku memeriksa wajahku kembali dengan cermin, dan berdiri tak lupa senyum pagi secara sopan atas kedatangan Pak Aksa setelah cuti.

Kaki Pak Aksa henti, pria itu berbalik tak lupa kedua tangan masuk ke dalam saku celana. "Bagaimana kabarmu, Aleya?" tanya Pak Aksa setelah meletakkan satu paperbag pink.

Aku menunduk sopan, lalu jawab "kabar saya baik, Pak. Kalau Bapak bagaimana?"

Pak Aksa ngangguk kecil "Ya, saya menikmati liburan kali ini."

"Saya senang mendengarnya, Pak. Apa Bapak mau kopi hitam pagi ini?" Aku tanya lagi agar beliau ini tidak marah karna tak ada breakfast di meja. Bukan malas, aku selalu buat kopi atau teh yang disajikan tapi Pak Aksa dengan kasar menghempaskan gelas itu ke lantai hingga kantor harus membeli gelas baru yang mana harganya bisa mencapai dua digit.

Tangan Pak Aksa tampak menggaruk pelipis yang kuyakin tak gatal. Sempat berpikir dan "kau bisa buat jus buah? Perut saya butuh yang segar," jawabnya

"Potongan buah pepaya juga, Aleya, yang segar." tambah Pak Aksa sesekali matanya melirik ke paperbag yang ditaruh ke atas meja kerjaku. Aku yang paham langsung ambil tas itu, membukanya. Mataku terbelalak lihat isinya. "Ini hadiah buat siapa, Pak?" tanyaku bodoh yang jelas-jelas untuk aku.

"Kau tak salah?"

"Salah apa, Pak?"

"Tas itu saya taruh di atas meja ini yang berarti untuk kau, Aleya."

"Tapi saya agak keberatan, Pak, terima hadiah ini." kataku pelan. Bukan tak suka tapi hadiah ini lebih cocok untuk pasangan Pak Aksa bukan aku. Hadiah yang bernilai fantastis itu cukup memberatkan buat aku terima.

Tampak Pak Aksa maju, "kenapa hadiahnya? Kurang atau kamu tidak suka?"  Raut Pak Aksa panik entah dalam hal apa. Aku juga tak paham.

"Bukan maksud saya hadiahnya kurang atau saya tidak suka hanya saja hadiah ini lebih cocok untuk kekasih Pak Aksa." cicitku pelan di akhir kalimat.

Pak Aksa menghela nafas, "kekasih apa, Aleya?"

"Ya, pasangan Bapak."

"Itu bukan urusan kamu, Aleya."

Tak mau pikir panjang. Aku mengiayakan ucapan Pak Aksa. "Terima kasih, Pak. Saya suka sama hadiah Pak Aksa."

Sedikit lirih, Pak Aksa mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya.

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang