Pernikahan yang seharusnya sesuai rundown acara namun sebaliknya. Suasana riuh menimbulkan spekulasi buruk tentang calon pengantin itu. Para tamu yang hadir kini mulai membicarakan masalah yang timbul.
"Mama nggak mau kenal sama calon kamu itu. Kabur di hari nikah sendiri? Astaga perempuan itu." Mama Tita mengusap keningnya dibuat frustasi karena kelakuan anaknya yang masa bodoh.
"Ma. Tenang ya. Papa bantu kerahkan siapapun buat cari calon mantu Mama." Papa masuk ke ruang tunggu mempelai dan menghampiri istrinya.
Calon mantu yang sebelumnya dibangga-banggakan oleh Mama Tita tergantikan dengan umpatan kasar. Mau taruh dimana harga diri Mama Tita didepan tamu terlebih dihadiri teman arisannya.
Sementara calon mempelai pria tak ambil pusing. Pria itu memainkan ponselnya yang masih memikirkan soal kerjaan. Buang-buang waktu saja. Jika bukan karena perjodohan sialan itu, Yohan milih duduk seharian di ruang kerja.
Ting!
Ponsel seseorang bunyi. Mendengar itu, Yohan bergegas berdiri. Langkah keluar dari ruangan yang penuh amarah sang Mama. Yohan keluar diikuti sekretarisnya.
Segera Mama mencegat langkah Yohan. "Tetap disini, Yohan. Mama benar-benar malu kalo kamu keluar sekarang."
Kepala Yohan balik setengah. Tak sepenuhnya menatap sosok Mama di belakangnya.
"Yang suruh Yohan terima pernikahan ini adalah Mama. Jadi Mama harus terima omongan orang lain." balas Yohan lalu melanjutkan langkahnya ke aula pernikahan.
Dari arah sebaliknya, terdengar seseorang mengucap kata maaf berulang kali. "Maaf, Maaf, Maaf."
Perempuan itu mengangguk, "langsung kirim ke rekening gue. Telat semenit gue bakal tarik file skripsi lo."
Kehebohan semakin terdengar kala sosok Yohan muncul dari depan dan berjalan ke altar. Tamu undangan saling berbisik dan tatapan khas mengejek karena mengulur waktu nikah.
Mendengar kehebohan, Mama bergegas keluar disusul Papa. Mereka mematung ketika mempelai wanita masuk dengan gaun putih yang dipenuhi manik cantik berkilau disetiap titik. Gadis itu masuk membawa sebuket bunga sebagai simbolis pernikahan, senyum yang tak luntur dari wajahnya dan tatapan yang fokus pada sang pria.
Semua tamu terpesona pada kecantikan dan ketampanan sang mempelai. Kegiatan sakral itu berlangsung lancar dan diakhiri sentuhan pertama sebagai sahnya mereka sebagai suami istri. Tepukan tangan menghiasi aula itu. Mama dan Papa yang tadinya tersulut emosi kini ganti dengan raut senang. Anaknya tetap menikah.
"Selamat, ya."
"Pernikahan kalian langgeng terus."
"Jangan membangkang ucapan suami lho."
"Asik malam pertama nih, si Yohan."
"Jaga martabat keluarga kalian."
"Semoga pernikahan kalian sampai maut memisahkan"
"Dah siap nih punya anak."
Semua harapan dan ucapan dibalas dengusan dalam hati Bianca. Pernikahan langgeng? Jangan harap.
Bahkan Bianca harap sebulan kedepan ia akan mengajukan perceraian secara langsung kepada pria di sampingnya.
Pernikahan ini juga tidak terdaftar secara hukum.
Yohan melihat raut wajah Bianca, menangkup pipi Bianca. "Capek?"
Bianca tidak menjawab.
"Kamu ... capek?"
Meski tidak ada yang keluar dari mulut istrinya, Yohan memilih menghadap ke depan kembali. Menautkan jari tangan Bianca ke jari tangannya. Sangat erat sampai Bianca melenguh sakit.
