Sofia Daira Rayasa
Sean Wesley Nathaniel
.
.
.
.
Aku memandang kosong layar di depanku, mengabaikan rekan timku sedang memaparkan hasil diskusi di hadapan seluruh jajaran karyawan. Sesekali gelengan kecil kepalaku saat ingatan itu muncul.
"Produk yang kami targetkan telah dicapai oleh tim sales dalam quarter satu, dua dan kami berharap di akhir periode bisa memaksimalkan penjualan dengan promosi yang semakin luas." Jelas Jean tengah berdiri di podium pidato.
"Saat ini telah banyak kompetitor lain melalui media sosial dalam melancarkan target. Namun tim marketing mengusulkan seorang public figure mengiklankan produk ini dan menargetkan seluruh kalangan usia."
"Kami sebagai tim sales dan marketing akan bekerja mengumpulkan data berupa kontrak public figure yang akan dijadikan sebagai media promosi."
Waktu terus berjalan. Meeting dari pukul satu siang kini selesai pada pukul lima sore. Seluruh jajaran direksi dan karyawan divisi lain keluar dari ruangan rapat. Namun rapat tersebut akan dilanjutkan esok hari yang dihadiri langsung oleh CEO Nathaniel Group.
Sesuatu yang mengganjal pikiran Sofia, menganggu dalam lima jam terakhir. Pak Sean atau CEO Nathaniel Group sedang bersama sang sekretaris di New York untuk mengikuti panggilan rekan bisnis selama tiga hari. Akan tetapi dengan jelas Sofia melihat Pak Sean di basement kantor, bersama seorang perempuan yang Sofia ketahui sebagai kekasih lelaki itu.
Flashback On
Sofia memarkir kendaraan roda dua miliknya di basement setelah keluar makan siang di ramen kesukaannya. Perutnya telah terisi, rasa senang ikut menyelimuti hati Sofia. Sofia setuju dengan ungkapan 'Perut kenyang, hatipun senang'. Usai memarkir kendaraannya, Sofia bercermin memperbaiki riasan tipis dan tatanan rambutnya sekaligus pakaian cukup kusut karena aktivitas pagi tadi.
Langkah kaki Sofia terhenti saat matanya tak sengaja menangkap sosok tidak asing tengah melakukan sesuatu sama seorang perempuan yang Sofia ketahui sebagai model dan aktris terkenal. Sofia merasa kakinya sulit bergerak, seolah harus melihat kegiatan orang dewasa depan matanya secara langsung.
Tiba-tiba lelaki dalam mobil itu menghentikan aktivitasnya lalu kepalanya menoleh tepat ke arah tempat berdirinya Sofia. Mata lelaki itu menatapnya intens, sebuah tatapan membunuh yang mampu mematikan kesadaran Sofia. Semenit kemudian bibir lelaki itu menyeringai kecil sambil menaikkan sebelah alisnya. Kemudian Sofia seperti bisa mendengar kata yang keluar dari mulut Pak Sean.
"I got you, Sofia"
▪︎☆'
Sofia mematikan kompor setelah memasak buat makan malam. Tinggal seorang diri memaksa Sofia untuk melakukan semuanya mandiri tanpa bantuan siapa-siapa. Memaksa Sofia harus belajar dari awal hingga dirinya berhasil menguasai hal-hal penting. Salah satunya pekerjaan rumah tangga.
Sesendok masuk ke dalam mulutnya ditemani segelas air dan sebuah tayangan film dari laptop. Ia lebih memilih nonton di laptop ketimbang televisi apartemen. Makanannya ludes masuk ke perut, Sofia bangkit berdiri, mencuci bekas masak dan mengelap perabot dapur. Setelah selesai Sofia mematikan lampu dapur kemudian menuju kamar.
Bersih badan, skincare-an, dan Sofia siap untuk tidur. Memastikan semua sudah aman, Sofia memejamkan kedua matanya hingga tak lama denguran halus pertanda Sofia sudah terlelap.
▪︎☆'
Keesokan paginya, Sofia mampir menjemput Jean agar berangkat bersama ke kantor dan alasan Jean meminta Sofia menjemputnya karena Jean ada janji dengan teman sekolah setelah jam kantor selesai. Meski Sofia tak paham, ia tetap menjemput rekan kerjanya yang baik dan selalu menolongnya dalam situasi apapun.
