Navaro Agratama

851 63 6
                                        

Navaro Agratama
Lavena Hawava

Ditinggal orang terkasih selalu menyayat hati. Tak bisa dipungkiri, keluarga merupakan tumpuan kasih sayang seseorang dalam saling melengkapi, saling menguatkan dan saling merangkul. Dunia yang kejam, seseorang kadang tak bisa menjalani kehidupan sendiri tanpa ada seorang  penyemangat. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang mana tetap membutuhkan bantuan orang lain dalam memudahkan perjalanan hidupnya. Kadang seseorang sering menghabiskan waktunya seorang diri tanpa berbincang ataupun mengobrol dengan orang lain karena dirinya telah siap apapun yang akan dihadapi dan apapun yang telah dihadapi. Berbagai pengalaman yang membuat seseorang mampu merangkul dirinya sendiri setelah dia sudah berhasil di tahap melepaskan yang menyakitkan kemudian membuka lembaran baru dengan versi yang jauh lebih kuat.

Hal itu terjadi pada Lavena, seorang gadis berusia dua puluh satu tahun yang baru saja lulus menjadi seorang sarjana Manajemen Bisnis pada salah satu universitas di kota tinggalnya. Berbekal pada beasiswa yang diraih, dia bisa menjalani kehidupan kuliahnya hingga selesai. Tak ada kata sesal. Tak ada kata sedih. Tak ada kata sendu. Semua telah melebur dan menghilang mengikuti hembusan angin. Perayaan wisuda diselenggarakan setelah peresmian Lavena menjadi pegawai kantor tetap di perusahaan makanan. Berawal dari keinginan Lavena untuk menggeluti salah satu bidang bisnis makanan, Lavena berhasil diterima saat magang dan hingga kini resmi jadi pegawai tetap.

Berbagai tangis haru dan tawa bahagia turut keluar dari raut wajah para wisudawan, jejaran petinggi kampus, dan yang paling utama orang tua wisudawan. Mereka mengusap air mata yang mengalir saat nama anaknya disebut dan berjabat tangan dengan rektor. Sungguh pencapaian yang luar biasa bagi orang tua. Peluh keringat hasil dari kerja keras membuahkan hasil hingga mampu menyekolahkan anaknya ke versi terbaik mereka.

Lavena hanya mengulas senyum melihat mereka saling berpelukan. Tak lama ponselnya berdering menandakan seseorang telah datang. Seseorang yang paling Lavena sayangi melebihi isi dunia. Bahkan Lavena bekerja keras hingga orang itu bisa bersekolah.

"Kak Lane" panggil seorang lelaki dari belakang. Kepala Lane berbalik dan melihat sosok laki-laki yang kian bertumbuh tinggi, pakaian batik dipadukan celana abu-abu sangat cocok di tubuh anak remaja itu.

Lavena berlari dengan high heels. Memeluk tubuh anak remaja yang akan memasuki masa dewasa.

"Sudah aku bilang jangan lari pakai heels, Kak! Kebiasaan lari, jatuh nanti baru nangis" peringatan itu mengundang tawa kecil Lavena.

Mata Lavena terpaku pada sebuah bucket bunga merah serta pink. Matanya berbinar, "ini buat Kakak?"

Sementara anak remaja itu yang melebihi tinggi Lavena masih memeluk erat tubuh itu. Hidung anak itu mengendus rakus aroma tubuh yang menyerbu indra penciumannya.

"Naro!"

Setelah itu, Naro melepas rangkulannya terpaksa. Terkekeh singkat, tangan Naro terangkat ke hidung Lavena. Menariknya lembut.

"Iya, buat Kak Lane. Aku kesini datang hanya karena Kak Lane." ucap Naro sembari memberikan bucket itu ke Lane.

"Oh jadi terpaksa ceritanya?" balasnya dengan wajah yang mengesalkan.

Naro terdiam. Raut itu pertama kali dia lihat. Keterdiaman Naro menjadi tanda tanya untuk Lavena. "Hei ngapain kamu melamun?"

"Kak Lane jelek makeup nya. Hapus sana." sungut Naro tak suka. Sejujurnya hasil riasan di wajah Lane membuatnya semakin menggila. Kecantikan yang terpancar membuat beberapa orang sekitarnya ikut melirik. Kulit Lane yang putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah sangat memukau hingga Naro ingin menarik bola mata orang sekitarnya.

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang