Mahasiswa pada hadir di acara peresmian senior gue yang berhasil lulus magang di salah satu perusahaan besar. Sekampus bakal tau kalau perusahaan ini jarang menerima mahasiswa yang pengen magang karena kualitas yang mereka terapkan. Namun tahun ini perusahaan yang memiliki banyak cabang bisnis dari setiap bidang menerima mahasiswa termasuk senior yang adain pesta perayaan di sebuah restoran. Gue nggak ambil pusing, ada ngajak gue datengin. Selama gratis gue jabanin.
Tampak beberapa dari mereka memakan makanan yang disajikan. Sepertinya Kak Jeje pesen semua menu ditambah minuman sebagai penghilang stress. Dari ujung gue merhatiin Kak Jeje sibuk ke ponsel. Menghiraukan teman-teman sekitar dia. Sesekali alisnya menukik. Apa Kak Jeje lagi punya masalah di hari spesial. Namun tidak berlangsung lama ketika seseorang membuka pintu VVIP restoran masuk ke dalam dan tersenyum. Raut kecewa yang sempat tercipta seketika diganti jadi penuh kelegaan, Kak Jeje bisa jadi aktris. Gue akuin itu.
Orang itu berjalan mendekat ke arah meja, dia melewati meja pertama hingga ke meja terakhir dimana posisi Kak Jeje semeja dengan tempat gue duduk. Laki-laki bertubuh tinggi itu melepas alas kaki, menghampiri Kak Jeje sembari memberikan sebuah paperbag. Malas melihat seperti itu gue lebih milih lanjut makan daging yang udah Bambam panggang.
Tiba-tiba suara kegaduhan terdengar dari sebelah kiri gue. Spontan kepala gue noleh, jiwa naluri sebagai manusia seketika hidup saat mendengar suara jatuh. Tepat. Suara itu berasal dari posisi Kak Jeje. Bambam ngejelasin, Kak Fara berusaha menghidangkan minuman kepada Laki-laki sumber objek di tempat itu namun tumpah sebab tangan Kak Fara keseleo. Dahi gue berkerut sejenak setelah mendengar perkataan Bambam. Apa iya? Karena sedetik kemudian gue lihat secara jelas ujung bibir laki-laki itu tertarik sedikit ke atas.
Senyum itu. Aneh. Penuh kemisterius-an. Apa yang laki-laki itu rencanakan?
Pandangan gue tertuju kembali ke hidangan. Satu persatu pertanyaan mulai menjebak kepala gue. Kedua mata gue melirik sejenak ke senior laki-laki itu dan Blam! Dia ikut natap gue. Cepat-cepat gue putusin tatapan itu ke arah Bambam yang ngobrol sama teman di samping.
Gue menenguk segelas air dengan rakus. Tenggorokan gue sepet. Segelas lagi gue minum setelah Bambam tuangin ke dalam gelas setelah gue paksa. Wait? Air yang gue minum aneh banget, rasanya pahit keras terus susah ditelen. Tak berselang lama, kepala gue mulai pusing. Mata gue agak redup gak sejelas tadi. Bahkan badan susah gue imbangin.
Bambam yang ngelihat itu hanya mendesah lelah. Sudah ditegur tapi cewek di depannya keras kepala. Dilarang juga percuma. Dirinya juga cukup pusing setelah menghabiskan satu botol warna hijau. Sekelilingnya sudah pada pulang, tersisa beberapa yang masih asik mengobrol, dan terakhir kondisinya sama seperti Reina. Selalu dan selalu berakhir tak beraturan. Tak ada kata sambutan terakhir karena sudah dalam keadaan mabuk.
Tanpa disadari seseorang terus menatap Reina yang sudah tak sadar dengan kepala tergeletak di atas meja. Kedua mata yang tertutup, bibir yang bergerak tak jelas. Sudut bibirnya terangkat melihat tingkah perempuan itu.
"Rein, bangun. Gue anter. Tapi gue tinggal bentar pengen buang air. Jangan kemana-mana dulu," ujar Bambam setelah beranjak dari tempat menuju posisi Reina. Mengelus kepala perempuan itu lalu meninggalkan Reina sendiri.
Kepala Reina kayak mengangguk kecil seolah tahu apa yang Bambam katakan barusan.
Orang yang melihat menatap tajam Bambam yang mengelus kepala Reina. Rahangnya mengetat kuat. Sebelum emosi semakin menjebak dirinya sendiri, dia memejamkan kedua mata dan berucap kepada dirinya 'Tidak boleh marah. Tidak marah. Jangan marah' itu salah satu upaya yang dia lakukan agar tak meledak saat ini. Dia harus menghilangkan bekas jejak elusan di kepala Reina.
Sekelilingnya masih ada mahasiswa. Jeje tepat di sampingnya. Fara di depannya. Kedua perempuan dan para mahasiswa di resto membuat dia tidak bisa melakukan sesuatu. Perasaan dari dalam dada mulai membuncah. Tangannya menahan kedua kaki yang akan berdiri. Dia tidak boleh ceroboh. Citra sebagai senior yang baik dan teladan sudah melekat di semua mahasiswa. Dia harus menjaga citra dan pandangan orang lain kepada dirinya sendiri. Disaat mengendalikan diri, ponsel Jeje bunyi menandakan sebuah notifikasi.
Karena stress menahan hasrat, orang itu bangkit. Menerima uluran tangan Jeje mengarah ke dia. Segera ia membawa keluar gadis ini dan men-stop mobil taxi. Dia mengambil dompet, mengeluarkan beberapa lembar memberikan ke supir.
Hal yang sama dia lakukan juga pada Fara. Setelah urusann selesai, perasaan dalam diri menghembus lega. Entah. Apa karena dia akan mendekati perempuan itu? Atau dia sudah bebas dari mahasiswa lain?
Namun ketika masuk kembali perempuan yang duduk dengan tenang sudah tak ada. Secepatnya ia menoleh ke sekitarnya, hanya tersisa dua mahasiswa yang saling berbincang. Segera ia membalikkan badan, berlari keluar dari restoran sebelum posisi gadisnya semakin jauh. Sesampainya di luar hanya pengendara dan pejalan kaki yang keluar dari restoran lain.
Ketika dia hendak melanjutkan pencarian, dari ujung matanya melihat seorang perempuan tengah duduk di depan minimarket. Apa yang gadis itu lakukan? Bagaimana jika seseorang berniat jahat? Bagaimana jika seseorang mendekati gadisnya? Bagaimana jika seseorang mengintai gadisnya?
Tak tahan berbagai pertanyaan di kepalanya, kakinya dengan cepat melangkah ke posisi Reina. Tanpa memerdulikan kondisi lalu lintas. Dia hampir terkena spion kendaraan pas menyebrang. Nafasnya tak beratur, sepuluh langkah lagi ia akan membawa gadis itu.
Grap!
Tubuh Reina ditutupi oleh pelukan seseorang dari belakang. Mendekap erat seolah akan hilang. Mulutnya berucap 'Aku merindukanmu' ditambah kecupan di leher Reina. Merasa terganggu, Reina berusaha melepaskan dekapan itu meskipun dalam pengaruh alkohol. Sadar tak sadar itu membuka kesempatan untuk orang yang memeluk tubuhnya dari belakang.
Secara spontan tubuh Reina terangkat. Digendong menuju salah satu mobil hitam yang terparkir. Sebelah tangan membuka pintu, menaruh Reina dengan pelan, dan merapikan tatanan rambut gadisnya diakhiri kecupan singkat di bibir.
"Aku menyayangimu,"
Mobil berjalan ke suatu tempat. Ketika tiba, dia menghadap ke samping mengubah posisi duduk. Tangan Dion terulur menyentuh pipi Reina. Seketika euforia dari dalam membuncah. Dadanya menciptakan perasaan asing. Jantung berdetak kencang. Semua perasan itu tak pernah Dion rasakan justru dia suka. Jika Dion menyukai sesuatu, dia harus mempertahankan apapun itu. Apapun yang disukai harus dia miliki agar perasaan ini tak hilang. Konsekuensi jika hilang adalah hidupnya akan gila.
Wajah Dion maju ke depan hingga hidungnya bersentuhan. Mendekat lebih pada sesuatu menjadi candunya. Bibirnya mengecup pelan, tanpa melepaskan cepat. Dion menahan. Sungguh Dion sudah gila. Sangat gila. Kecanduan pada sesuatu yang bukan miliknya yaitu semua yang ada pada Reina.
Tapi tiba-tiba Dion menjauhkan wajahnya setelah tangan Reina memukul kepala Dion. Cukup keras tapi tidak meninggalkan jejak. Padahal Dion berharap ada jejak apapun dari tangan Reina. Segila itu memang.
"Ba-Bambam apai-"
Sebelum Reina berujar lebih lanjut, Dion dengan cepat memajukan wajahnya kemudian melumat bibir nakal. Bibir yang berani menyebutkan nama laki-laki lain di depannya. Setelah puas, Dion menjauh dari wajah Reina. Memandang lamat seperti menunggu sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Dion melancarkan aksinya.
"Reina Kartika?"
Reina bergumam.
"Reina?"
Lagi-lagi Reina menjawab dengan bergumam.
"Reina, lo tahu gue siapa?"
Jawaban yang sama Dion dengar.
"Jadi pacar gue, ya?"
Dan dibawah alam sadar, Reina terus bergumam. Menyetujui pernyataan perasaan Dion kepada Reina. Tanpa paksaan sedikitpun.
Setelah itu Dion memeluk erat tubuh Reina disertai ciuman menjadi awal kisah mereka berdua tanpa paksaan namun jauh dibawah kesadaraan Reina sendiri.
Melepas pelukan, Dion melirik ke arah ujung bawah kaca mobil bagian dalam. Bibirnya tersenyum puas. Sebuah benda yang dia taruh.
Itulah Dion lelaki penuh kelicikan ditutupi oleh pandangan orang pada dirinya.
Dan Reina jadi sasaran obsesi Dion yang berhasil dia tahan selama setahun.
~•~
