Erga Dirgantara

1.1K 66 1
                                        

"Ada apa kau menelfonku?"

Perempuan itu tampak ragu melanjutkan ucapannya kala mendengar nada marah dari seseorang.

"Kau membuang waktuku. Das-"

"Farah. Farah besok akan datang ke rumah. Itu yang ingin aku sampaikan"

Sempat diam sesaat sampai seseorang dari sebrang berteriak memanggil bawahannya.

"Pesan tiket pesawat pagi besok, Ardi!"

"Bagaimana dengan meeting anda besok, Tuan?"

"Batalkan. Saya bisa mencari waktu lain,"

"Baik, Tuan."

"Tapi itu terlalu mendadak Erga!" tegur perempuan itu.

"Bukan urusanmu."

"Kamu tidak perlu jauh jauh kesini. Farah hanya datang menjemput Caca."

"Kemana gadis itu?"

"Caca dan Farah janjian ke Mall sebagai bentuk hadiah atas ulang tahun Caca. Farah juga mengajak Farel,"

"Tidak. Saya tidak mengizinkan laki-laki lain dekat gadisku,"

"Ulang tahun Farel itu besok, Erga. Kamu tidak bisa membatalkan-"

"Menyerah?"

"Tapi Erga, di-"

"Ingat kau tinggal dirumahku. Saya punya kuasa atas hidupmu, Pavha"

Suara bawahan Erga terdengar "saya sudah memesan tiket pulang anda, Tuan. Namun Jet Pribadi anda tidak bisa diganggu hingga saat ini."

"Masalah apa yang kalian perbuat?!"

"Jet Pribadi anda sedang dalam perbaikan yang memerlukan waktu setengah tahun. Kami sudah berusaha menekan para pekerja menyelesaikan lebih cepat dari perkiraan mereka, Tuan."

"Shit. Kalian selalu menghalangiku!"

"Kami mohon maaf, Tuan."

"Keluar"

Pavha mendengar semua itu. Dia juga tidak memahami obsesi Erga pada perempuan yang berstatus sebagai sepupunya. Tak ada yang menarik dari fisik Farah. Akan tetapi Erga begitu berambisi memiliki gadis itu. Pavha sedikit tak suka mengetahui faktanya.

"Kau dengar?"

Pavha kembali menyadarkan dirinya, dia tak mendengar perkataan Erga tadi. "Maaf Erga. Aku baru saja selesai mematikan kompor di dapur."

Ting tong!

Tak lama suara seorang gadis masuk ke sambungan telfon itu hingga membuat Erga mematung.

"Pavha" desis Erga mematikan yang sudah menyebutkan namanya. Pavha dalam bahaya!

"Mbak kenapa diam aja? Gak jawab salam aku" tanya Farah saat berdiri didepannya.

Barulah Pavha tersadar. "Loh, kamu kesini bareng siapa? Bukannya besok ya kamu datang?"

Farah tertawa pelan. "Satu-satu bertanya, Mbak. Aku pusing denger Mbak,"

"Mbak serius Farah!" Farah menyadari Mbak Pavha dalam kondisi suasana hati tak baik.

"Sama teman"

"Teman kamu siapa? Jangan nggak jelas jawab!"

Farah menunduk takut mendengar bentakan Phava, "teman kerjaku." cicitnya pelan

"Yang jelas, Farah"

"Teman kerjaku, Mbak. Dia Reyhan!"

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang