Erga Dirgantara II

1.1K 103 8
                                        

Hari yang Phava takutkan tiba.

Ponsel ditangannya bergetar saat melihat pesawat yang digunakan Erga telah selamat mendarat di landasan bandara. Melalui aplikasi, Phava bisa mengetahui posisi pesawat.

Dua puluh menit kemudian, sebuah telfon masuk.

"Apa gadisku sudah di rumah?" tanpa basa basi Erga langsung menanyakan Farah.

"Belum, Mas. Farah keluar bareng Caca dan Farel."

"Kau selalu tidak becus ... saya sudah katakan kau harus menunggu kedatanganku di Bandara. Jangan sampai Farah pergi tanpaku. Kau membiarkan gadisku pergi ke tempat ramai?. "

"Maaf, Mas. Sa-"

"Kirim lokasi Mall tempat Farah sekarang,"

"Aku nggak tau posisi Farah dimana Mas."

"Kau tahu, Caca dan Farel ada dalam genggamanku."

"Tapi Mas, Farah nggak kasih tau aku tempat mereka kunjungi dimana. Aku nggak dapat informasi sama sekali,"

"Besok jangan ka-"

"Barusan Farah kirim pesan kalau Farel dan Caca di Gramedia Galaxy Center Mall. Apa nggak bisa kamu pulang dulu?"

"It doesn't matters"

"Penting Mas biar kita bisa kesana bersama. Farah juga nggak naruh curiga,"

Erga berdecak, "saya tunggu Farah di bandara. lakukan apapun agar saya bisa bertemu gadisku"

Phava menahan rasa pedih di hatinya. Jujur menghadapi alur Erga cukup memberikan rasa sakit amat dalam. Setiap hari Phava menerima perintah dari Erga yang berkaitan dengan Farah. Gadis itu.

Dia juga tak mampu menolak karena hidupnya berada dalam perjanjian yang terikat. Erga berhasil melakukan segala cara hingga memanipulasi semua agar Farah bisa menjadi miliknya.

***

Tiga perempuan dan dua laki-laki tengah menunggu seseorang dari pintu kedatangan. Dua anak Phava berlari saling mengejar untuk menghalau rasa bosan, tak lupa roti ada pada tangan Farel serta Caca.

"Kak Erga belum kirim pesan ya, Mbak?" tanya Farah sembari membagi roti rasa kopi itu pada Reyhan yang kebetulan ikut.

Phava mengigit bibirnya cemas, bukan dia tidak menerima pesan dari Erga namun pria itu sudah memantaunya sejak tadi ditambah kedekatan Farah dan Reyhan pasti tertangkap jelas dalam penglihatan Erga.

"Mas Erga lagi ketemu rekannya di dalam. Ini baru saja Masku chat" kata Phava sedikit menekan kata Masku.

Farah mengangguk lalu lanjut berbicara dengan Reyhan. Tak lama ponsel Reyhan bunyi, segera lelaki itu mengangkat panggilannya setelah meminta izin menjauh sejenak. Farah melihat kalau Reyhan sedang mendapat sedikit masalah.

"Far, Maaf banget gue harus balik duluan. Mama telfon katanya Nenek masuk rumah sakit. Gak apa-apa gue tinggal, kan?" tanya Reyhan penuh kekhawatiran.

"Gak apa-apa. Sana pulang cepat Mama kamu yang suruh"

Bukan Farah yang menjawab melainkan Phava yang sedari tadi mendapat ancaman.

Reyhan tampak kikuk, dia tak menyangka kekhawatirannya berujung pada pengusiran secara langsung. "iya, ini mau balik. Gue balik dulu, ya, Far. Kalau butuh sesuatu hubungin gue" tangan Reyhan mengelus pucuk kepala Farah lalu melenggang pergi tanpa mendengar balasan gadis itu.

Baru saja Farah hendak menanyakan sesuatu, suara seseorang terdengar. Phava berdiri secepatnya dan memanggil anak-anaknya. Kelihatannya kedua anak itu berlari bahagia setelah melihat Papanya. Farah maju beberapa langkah untuk menghalau anak itu agar tidak jatuh karna cara berlari yang terkesan cepat dan tak memerhatikan sekitar. Namun anak itu jatuh tersungkur kedepan ketika tubuh Erga maju memeluk Farah terlebih dulu. Farah sampai mematung mendapat serangan pelukan itu. Terlebih pelukan itu seperti tidak akan melepaskannya. Sangat erat. Tangan Erga tak tinggal diam, satu tangannya menahan dekapan kuat itu dan satu lainnya mengusap rambut Farah sampai gadis itu merasakan sesuatu yang aneh. Secapatnya Farah mendorong paksa tubuh Erga lalu mundur ke belakang.

Dark ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang