Regret

528 21 1
                                        

Happy reading 🍒

Saat ini Vanya tengah mondar mandir di bawah tangga, berpikir haruskah ia naik ke atas atau jangan? Vanya ingin naik ke atas untuk memintai kunci mobil agar Vanya bisa mengambil handphone miliknya yang tertinggal di dalam mobil Aaron, namun Vanya takut bertemu pria itu

"Huhhh, semoga ajah bisa" ujar Vanya setelah membuang nafas pelan, dan mulai melangkah menaiki tangga

Tok tok tok

Vanya mengetuk pintu kamar Aaron setelah mengumpulkan seluruh tekadnya

Hey, kenapa Aaron tetap belum keluar?. Pikir Vanya saat melihat pintu kamar Aaron yang belum terbuka setelah ia mengetuknya

'haruskah ku ketuk lagi?' batin vanya
'tapi bagaimana jika ia akan marah? Jangan sampai aku mengganggu pria itu, bisa saja dia sedang tidur atau sibuk' pikir Vanya lagi

Cklek

"Apa yang kau cari?" Tanya Aaron dingin

Vanya yang terkejut dengan kedatangan Aaron yang tiba tiba kini memegang kuat dadanya sebab merasa sangat terkejut dengan kehadiran Aaron yang secara tiba tiba

"Kau mengagetkanku tuan!" ucap Vanya sembari menenangkan jantungnya yang kini berpacu sangat cepat sebab terkejut

"Apa yang kau cari?" Ulang Aaron lagi, tak menanggapi ucapan vanya

"A--aku-- mau meminta kunci mobil tu-"

"Untuk apa?" Tanya Aaron lagi, memotong ucapan vanya

"Handphone-- handphone saya tertinggal--"

"Kau dengan lancang naik ke atas dan mengetuk pintu kamarku hanya karena handphone mu yang tertinggal di dalam mobilku?!" Bentak Aaron

Vanya tentu di buat terkejut dengan bentakan itu. Ada apa dengan Aaron? Pikir Vanya

"Tuan, tenanglah dulu. Aku hanya--"

"Lancang sekali kau mengetuk pintu kamarku! Apa karena selama ini aku sering memperlakukanmu lebih dari para pelayan yang lainnya?! sehingga kau berfikir bisa seenaknya?!" Bentak Aaron tepat di wajah vanya

Vanya sekarang merasa sangat takut ketika melihat Aaron saat ini. Rahang yang mengetat, tangan yang terkepal kuat, dan pandangan mata tajamnya menghunus kedepan. Vanya takut

"Bukankah kau sudah mengetahui larangan larangan dirumah ini?! Lalu kenapa kau masih melakukannya? Huh?!" Bentak Aaron lagi

"Tuan-- aku minta maaf, aku hanya--"

Brukkk

"Akhhh!!" Pekik Vanya

Dengan kasar Aaron mendorong tubuh Vanya hingga membuat punggung Vanya membentur kuat tembok kokoh itu

"Lancang sekali kau! Kau tahu?! Aku tak suka wanita yang lancang sepertimu!"

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi tirus Vanya, tentu Aaron pelakunya. Pria itu kini terlihat sangat marah, entah apa penyebabnya

"Tuan maafkan aku hiks!"

Ctakkk

Aaron dengan kasar kini mencambuki punggung Vanya, kini Vanya terduduk dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya sebab cambukan dari Aaron

"Tuan maafkan aku tuan!!" Teriak Vanya, masih sembari di cambuki oleh Aaron

Entah apa yang tengah merasuki Aaron saat ini, saat ini Aaron terlihat begitu beringas

"Kau perlu di hukum!" Ucap Aaron sembari terus mencambuki punggung Vanya

Dari lantai bawah para pelayan yang lain termaksud Margaret dan Alana kini hanya bisa terdiam saat mendengar teriakan pilu dari Vanya, sungguh mereka tak kuat mendengar teriakan itu, semua hanya terdiam dan menunduk, tak tau harus berbuat apa, mereka merasa kasian kepada Vanya yang selalu di kasari oleh Aaron

"Margaret, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Alana, kini kedua mata gadis itu telah berkaca kaca, tak sanggup mendengar teriakan demi teriakan yang keluar dari mulut vanya

"Aku tak tahu Alana, aku tak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang" ucap Margaret terdengar sedih

Jika boleh Margret ingin keluar dari mansion ini agar tak mendengar teriakan pilu Vanya, teriakan itu terdengar sangat menyedihkan

Brukk..
Brukk..
Bruk...

"VANYAA!!!"

"VANYAAA!!!"

Teriak para pelayan bersamaan. Alana, Margaret dan beberapa pelayan yang lainnya segera berlari ke arah tangga, dimana Vanya tergeletak dengan sangat mengenaskan

Vanya terjatuh dari lantai atas sehingga membuat tubuh Vanya terguling melewati anak anak tangga, sungguh begitu tragis

"VANYAAA hiksss!!!! Vanya bangun vanyaaa!!!" Teriak Alana kuat. Sungguh ia tak sanggup melihat kondisi Vanya saat ini

"Apa yang terjadi?!!" Tanya Alfan, yang baru saja tiba disana. Alfan di buat terkejut saat melihat tubuh vanya yang tergelatak di lantai dengan darah yang terus bercucuran keluar dari pelipisnya

"Tuan! Tuan tolong Vanya tuan!! Vanya baru saja terjatuh dari lantai atas hiksss" ucap Alana sembari terus terisak kuat, saat ini Alana tengah memangku kepala Vanya yang sejak tadi tak berhenti mengeluarkan darah

"Bagaimana bisa Vanya terjatuh dari atas?" Tanya Alfan bingung, dia juga sempat menengok ke atas, dimana kamar Aaron berada.

Dan benar saja, Alfan melihat Aaron yang berdiri di atas sembari melirik sekilas kepadanya, dan kemudian pria itu melangkah masuk ke dalam kamar

Berlalu seperti tak terjadi apa apa

"Vanya di hukum oleh tuan Aaron, setelah itu Vanya mencoba turun kebawah dengan sisa tenaganya. Tapi karena merasa lemas Vanya terjatuh di tangga tuan" lapor salah satu pelayan, yang memang menyaksikan jatuhnya Vanya tadi

Alfan mengerti sekarang.

Tanpa aba aba, Alfan dengan cepat berlari menghampiri tubuh Vanya lalu mengangkatnya ala bridal style dan membawanya kedalam mobil

Di tengah perjalanan Alfan merasa handphone miliknya bergetar tanda panggilan masuk

"Hallo tuan" sapa Alfan deluan, saat panggilan tersebut tersambung

'bagaimana kondisi gadis itu?' tanya Aaron di seberang sana, dari suara Aaron terdengar bahwa pria itu sangat khawatir

"Buruk tuan, kau sangat berlebihan menghukumnya. Lihatlah sekarang, dia sampai terjatuh dari tangga dan kondisinya menjadi semakin parah" gerutu Alfan, sungguh ia tidak mengerti dengan Aaron

Terkadang dia berkata dia mencintai Vanya, menyayangi gadis itu hingga bahkan ia rela menunggu gadis itu selama bertahun tahun lamanya. namun di sisi lain juga Aaron sering menghukum dan selalu melakukan hal jahat kepada gadis itu, Aaron seakan terkena penyakit bipolar. Sangat suka berubah ubah

"Aku hanya berniat menghukumnya, tapi aku tak tahu jika ia akan sampai terjatuh dari tangga" jawab Aaron, terdengar pria itu juga terlihat menyesal dengan perbuatannya

"Dan kenapa kau tak turun kebawah untuk membantu Vanya? Atau setidaknya untuk mengecek kondisinya" ucap Alfan terdengar sangat emosi, bagaimana bisa dia tidak mengecek kondisi Vanya?

Heyy Vanya terjatuh dari tangga, dan itu bukanlah hal yang sepele. Itu menyangkut nyawa, dan bagaimana bisa Aaron tidak khawatir atau takut? Aaron bahkan tidak turun untuk melihat keadaan Vanya.
Alfan jadi meragukan cinta pria itu.

"Gengsi" jawab Aaron singkat

"Alright! Pertahankan gengsimu! Jangan menyesal jika Vanya akan mencoba pergi lagi Aaron, kau kembali membuatnya takut kepadamu. Ingat satu hal, banyak pria diluar sana yang mengincar wanitamu, dan secara tidak langsung kau memberikan jalan kepada para pria pria itu"

Tutttt

Panggilan Alfan putuskan begitu saja, biarlah Aaron merenungi kesalahannya, biarlah Aaron berpikir saat ini

Jangan lupa di vote!!!🌟🌟🌟🌟

SIGMA MALETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang