03. Gus Tidak Peka

272 21 0
                                        

Diantara keheningan malam kini tiga bersaudara itu sedang berjalan beriringan dengan saling menahan senyum. Mereka baru selesai pengajian. Gus Arsha benar-benar menghukum Sania selama tiga puluh menit. Namun, gadis itu tidak merasa marah, karena dengan begitu juga dirinya lebih leluasa memandangnya.

"Ngapain sih, Sani kaya tadi? Malu-maluin diri aja." Gus Arsha berujar.

Sania tertawa pelan. "Yo ndak papa atuh, Gus.Kan bujangnya juga cuma Gus Arsha."

Gus Arsha geleng-geleng kepala mendengarnya. "Dek, malu itu sebagian dari apa?" tanyanya kepada sang Adik.

Paham dengan sindiran itu, Sania dan Ning Kaila menjawab berbarengan, "Sebagian dari iman."

"Nah itu tahu."

Sania hanya menanggapi dengan cengiran. "Gus, tau istilah menjemput engga?"

Mengernyitkan dahinya, Gus Arsha membalas dengan penuh kebingungan, "Hubungannya?"

Greget dengan sepasang ini akhirnya Ning Kaila ikut menimpali. "Menjemput jodoh, Mas."

Ekspresi Gus Arsha seketika berubah menjadi penuh selidik. "Kamu mau jemput siapa, Sani?"

Kesal dengan sikapnya Gus Arsha yang kurang peka, Sania menarik Ning Kaila untuk berjalan duluan setelah. Gus Arsha memandang mereka tidak mengerti lantas mengangkat bahunya tak acuh. "Wanita sulit dipahami." Namun, tetap mengikuti langkah mereka dengan pandangan yang menunduk.

Perempuan adalah godaan terbesar di dunia. Maka dari itu mengapa sekarang Gus Arsha menguatkan hatinya untuk tidak melihat siapapun. Karena dirinya tidak ingin masa belajarnya diganggu oleh hal apapun termasuk perempuan. Meskipun dirinya sudah pantas bila ingin menikah, tetapi hatinya belum merasa seperti itu.

Gus Arsha juga tahu pasti akhir dari penyelesaian tentang jodohnya dirinya akan dijodohkan dengan santrinya atau dengan Anak dari pemilik pesantren lain. Adat seperti itu memang sudah sering terjadi dan Gus Arsha memahami itu.

Setelah ketiganya di tiba di rumah Kiai Hasan Sania berkali-kali bersin dikarenakan tubuhnya yang terkena angin malam. Gadis itu mengusap-usap tangannya dan tidak lama langsung izin pamit pergi ke kamar.

Gus Arsha memandang khawatir sang sepupu kemudian mengajak Adiknya berbincang. "Dia nyampe kapan, Dek?"

Ning Kaila mengambil coklat lantas menggigitnya. "Tadi sore, Mas. Pas Mas Arsha shalawatan di masjid."

Menghela napasnya, Gus Arsha kembali bertanya, "Dia udah minum obat? Biasanya suka mabuk di perjalanan dan ...." Gus Arsha menunduk ikut sedih dengan nasib keluarga sepupunya. "Sania udah ketemu orang tuanya?"

Ning Kaila menggeleng. "Baru istirahat doang, tadi pas ditawarin makan nolak, ditawarin mau minum obat apa sama Umi juga ditolak, Mas. Terus kayaknya Pakle belum tahu deh kalau Mbak Sania ada di sini. Mukanya pas datang aja murung. Makanya pas tadi Kaila ajak buat ngaji dan bilang kalau gurunya Mas langsung semangat."

Mendengar kabar itu, Gus Arsha memandang kamar yang ditinggali Sania dengan cemas. Apakah gadis itu baik-baik saja? Perempuan itu tidak menyakiti dirinya sendiri seperti dulu kan? Meremas jari jemarinya Gus Arsha kemudian pergi ke dapur dan manyeduh granola dari timur tengan yang berisi sereal, kacang almond dan berasa vanilla. Tidak lama dirinya kembali dan menyodorkan mangkuk berisi granola dicampur dengan susu itu kepada sang Adik.

Ning Kaila langsung berbinar. "Masyaa Allah, Maskuuu tidak perlu repot-repot Kaila masih sehat kok. Peka banget Adiknya mau nyeduh itu nanti."

Gus Arsha tertawa kemudian menyentil dahi sang Adik. "Buat Sania, bukan buatmu. Gih kasih, kasian pasti aslinya lapar."

Mengusap dahinya yang disentil, Ning Kaila mesem-mesem sendiri. Lantas menggoda, "Ciee yang perhatian, ini tanda apa nih? Suka, cinta, atau kagum?"

Gus Arsha tertawa pelan lagi. "Apa sih, kita kan keluarga. Udah jangan banyak tanya sana kasi. Keburu tidur anak orang."

"Anak orang apa calon istri? Ehem ehem."

"Dek Kaila ...."

Ning Kaila segera meletakkan coklatnya dan mengambil mangkuk itu saat kakinya hendak melangkah. Gus Arsha menyelanya dan berujar, "Jangan bilang dari Mas. Inget."

Sudah Ning Kaila tebak pasti akan ada catatan tambahan bagi dirinya. "Laksanakan Mas. Nanti Kaila bilang, Kaila gabut terus bikin ini buat Mbak Sania." Segera saja gadis itu pergi sebelum Gus Arsha angkat bicara lagi. Mas-nya yang satu ini antara gengsi atau tidak sadar sama perasaannya sih?

Akhirnya Gus Arsha hanya memandang kepergiaan sang Adik dengan tersenyum. "Baik-baik ya, Sani," gumamnya.

***

Sebelum menyelam kealam mimpi, Gus Arsha seperti biasa melaksanakan ritualnya, di mulai dari wudhu, shalat witir, shalat hajat, membaca surat Al-Mulk, membaca tiga surat terakhir di Juz 30 dan membaca Ayat Kursi. Hal ini bermanfaat sekali salah satunya agar tidur kita ada dalam lindungannya Allah. Ada salah satu hadis juga yang mengatakan jika kita meninggal ketika tidur dan masih dalam keadaan mempunyai wudhu maka surga baginya.

Namun, kali ini mata berwarna hitam pekat itu sulit untuk terpejam. Dalam otaknya memikirkan beberapa perihal. Dirinya mengerti jika berjuang sendirian itu sakit. Mempunyai rumah, tetapi serasa tidak. Tempat aman dan nyaman? Sepertinya Sania tidak tahu tempat seperti apa itu selain di pesantren. Sama halnya dengan sekarang, gadis itu lagi-lagi tidak pulang ke rumahnya.

Yang Gus Arsha khawatirkan adalah sampai kapan gadis itu akan seperti ini? Bagimana jika di pesantren juga dirinya memiliki masalah? Gadis itu akan lari ke mana lagi? Kening Gus Arsha yang mengernyit dipijat olehnya. Kira-kira hal apa yang harus dirinya lakukan untuk membantu sang sepupu. Membicarakan tentang keluarga Sania sejujurnya dirinya juga kurang suka dengan cara mendidik Ibu Tirinya.

"Astaghfirullah astaghfirullah." Berkali-kali dirinya merapalkan istighfar. Tidak bisa, dirinya harus tidur, masih ada hari Esok untuk memikirkan orang lain lagi. Kini waktu dirinya istirahat. Terkadang memikirkan orang lain itu penting, tetapi jika sudah berlebihan itu salah. Seperti awalnya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

***

Keesokan harinya, di kala matahari belum menampakkan dirinya Gus Arsha telah berolahraga. Keringat bercucuran terlihat di wajahnya. Hari ini dirinya akan pergi ke Kampus dikarenakan jadwal jadi dosen di sebuah Fakultas Tarbiyah yang berada di UIN ternama.

Ketika bertemu sang Abi, dirinya tersenyum. "Udah selesai, Ar?" tanya Abinya.

"Iyaa, Bi. Tamu abi sudah pulang?"

Kiai Hasan duduk di sebuah kursi yang berada di depan rumah mereka. "Sudah, Ar. Hari ini kamu ngajar ndak Nduk?" Tatapan Kiai Hasan lurus ke depan, memperhatikan santri-santrinya yang baru selesai mengaji. Beliau tersenyum tipis ketika santrinya saling bekerjaran dan tertawa entah merebutkan hal apa.

"Ngajar, Bi, tapi engga lama kok, zuhur juga pulang," jelas Gus Arsha. Melihat wajah sang Abi yang lebih serius dari biasanya sepertinya ada yang ingin beliau katakan.

"Ya sudah, lancar ya Nduk. Terus manfaatkan ilmumu agar kamu pun selalu ingat. Nanti sore temuin Abi di Mesjid ya."

Gus Arsha mengangguk patuh. "Siap Abi, Arsha akan melakukan yang terbaik. Jajakallah khair karena udah selalu mengingatkan Arsha."

Kiai Hasan tersenyum, tangan keriputnya menepuk-nepuk bahu sang putra. "Kadang kala hidup tidak selalu sesuai keinginan kita. Jika nanti sore ucapan Abi tidak sesuai apa yang Arsha inginkan, mohon pertimbangkan dan minta petunjuk sama Allah ya, Nduk. Abi sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk Putra Abi. Jika pun nanti Arsha menolak dan mempunyai opsi lain Abi tidak akan memaksa."

Setelah mengucapkannya, Kiai Hasan bangkit. "Umimu sudah menyiapkan sarapan, mari makan dulu." 




Bersambung ....

Assalamualaikum haloo semuaa. Wah aku update cepet yaaa hihi

Yang mau kasih kritik dan saran boleh banget yaa.
Semoga besok aku bisa update lagii, bantu doa yaaa
See you next part :)

Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang