Kini Sania tiba di kamarnya, pertanyaan dari Afan masih terngiang-ngiang. Ya, Sania menyadari ketika Bu Nyai memberikannya lembar ta'aruf bahwa laki-laki itu adalah Afan yang mana sahabat dari Arsha.
Sania tidak tahu apakah Afan sudah memberi tahu Arsha? Atau belum? Entah bagaimana perasaan laki-laki itu ketika tahu jika sahabat Arsha meminang dirinya.
Tidak ada pesan masuk dari Arsha apalagi telepon. Sania menghela napas gusar. Masalahnya selalu datang bertubi-tubi. Apakah Sania harus menuruti permintaan bu nyai untuk melupakan Arsha? Mengganti posisi Arsha dengan Afan di hatinya.
Kapan lagi, ia diseriusi? Apakah seumur hidupnya Sania akan menantikan Arsha mengseriusi dirinya, sementara kini Arsha sedang berjuang ke pelaminan bersama orang lain?
****
Sementara di sisi lain, di rumah Naya ia terjadi sesuatu yang besar. Vibesnya cukup panas dengan berita yang dibawa oleh Naya. Perempuan itu melilit jarinya dengan gugup.
"Katakan sekali lagi, Naya!"
Naya tersentak dengan ucapan tegas Abinya. "Afwan, Abi. Naya ingin khitbahan Gus Arsha dibatalkan."
"Tidak!" Uminya Naya menenangkan sang suami, "Abi, sabar."
"Umi, Abi tolong batalkan khitbahannya."
Uminya kita menatap Naya, "Bisa beri tahu kami alasannya, Nay?"
"Orang yang Naya cintai, akan datang besok untuk mengkhitbah Naya jika Abi setuju. Naya ingin hidup bersama dengan orang yang Naya cintai dan mencintai Naya, Abi Umi."
"Naya engga ingin dikarenakan perjodohan ini, nantinya pernikahan kami tidak langgeng dan bahagia. Tujuan kami beda, Mi, Bi. Meskipun Naya tahu niat Abi dan Umi baik. Tapi, tolong, berikan kebebasan untuk Naya memilih kali ini saja."
"Nay, kamu sudah diikat. Jika kami melakukan hal itu, itu akan mencoreng nama baik keluarga kami."
Mendadak Naya lesu. "Mii, apakah harga diri sepenting itu untuk dipertahankan dibandingkan dengan kebahagiaan anak Umi dan Abi?"
Kini Naya mulai terisak, degup jantungnya tidak beraturan. Sebetulnya ia paham pastinya keluarganya akan menanggung malu jika membatalkan perjodohan ini apalagi Arsha sudah mengkhitbahnya. Namun, Naya ingin egois untuk kali ini saja.
Ia tidak bisa tetap bertahan dengan pernikahan yang banyak menyakiti orang nantinya. Arsha akan sulit mencintainya, Naya juga merasa kasihan dengan Sania dan Arsha yang sama-sama saling mencintai keduanya kemudian yang paling penting kasihan dirinya yang kemungkinan besar tidak akan bahagia.
Orang tuanya tidak bisa menjamin dirinya akan bahagia atau tidak. Namun, Naya juga tidak bisa menjamin jika dirinya akan selaly bahagia bersama dengan laki-laki pilihannya.
"Tujuan Abi sama Umi jodohin Naya dengan Gus Arsha pasti karena ingin ada penerus untuk pesantren kan? Bi, Mi, pilihan Naya yang sekarang bisa memenuhi itu. Beliau baru selesai belajar dari mesir. Ia tampan, berwawasan luas, beradab, berpendidikan, shalih. Kurang apa lagi? Usaha? Ia juga pandai berusaha."
"Ia bisa jadi penerus, Abi. Bahkan mungkin lebih baik dari Arsha!" Lanjutnya tetap kukuh pendirian. Harusnya Abi Naya menyadari ini sejak lama, jika anaknya kerasa kepala. Ketika sudah memutuskan sesuatu, maka tidak bisa lagi diubah.
"Abi bilang gak bisa, Naya. Cuma Arsha yang Abi percaya untuk jaga kamu!" Abinya tidak ingin kalah.
"Kamu memandang sebegitu bagusnya orang itu, itu karena kamu mencintainya! Jawaban kamu akan subjektif jika ditanya mengenai dia."
"Pada akhirnya perjodohan ini akan tetap berlanjut!"
"Abi umi ...." Naya menangis histeris.
Bukan dirinya tidak mau menaati orang tua. Namun, masalah hati kadang tidak bisa dipaksakan. Berhak kah Naya memilih? Bukankah juga ia memiliki hak sebagai orang yang akan menjalani pernikahan itu.
Ia melihat ponselnya yang tergeletak di lantai. Umi dan Abinya sudah pergi, kini hanya tinggal dirinya yang dikerubungi kesedihan. Ini baru 3 hari setelah Arsha mengkhitbahnya.
Tangan kanannya mengambil handphone tanpa sengaja jari manis yang sudah terlilit cincin itu terlihat olehnya. Iya, laki-laki impiannya belum tahu jika dirinya sudah dikhitbah dan Naya harap ia tidak mengetahui sebelum khitbahan ini batal. Agar tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk memperjuangkan Naya.
Diputarnya cincin cantik itu hingga terlepas. "Aku engga bisa bersamanya." Lalu ia termenung dengan terus menatap cincin itu.
Hingga akhirnya suara notifikasi khusus terdengar telinganya. Itu adalah pesan darinya. Naya membuka pesan itu.
"Ning Naya, apakah besok saya sudah bisa ke rumah Ning?"
Kegelisahan menyergapnya. Ia menunduk seraya memijat kepalanya pelan. Sekarang ini, ingin sekali Naya menggunting seluruh rambutnya.
"Ya Allah, aku terlalu memaksa ya? Aku bingung harus bagaimana? Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu. Namun, izinkan aku mengikhtiarkan imam yang aku inginkan. Aku tahu apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut Engkau."
Sesak semakin dirasakannya. "Namun, Ya Allah sejauh ini aku merasa agama ia pun bagus, sehingga aku yakin bersamanya dapat mendekatkanku kepada-Mu."
Seluruh untaian kata yang terucap dari bibir Naya terdengar oleh Uminya. Beliau ikut terisak, putrinya yang dulu ia belai penuh kelembutan, dicium penuh kasih sayang, dan ia besarkan dengan pendidikan. Kini Naya telah dewasa, ia sudah bisa memilih dan memilah mana yang pantas untuknya perjuangkan.
"Nayaa, Umi boleh bertemu dulu dengan laki-laki yang Naya maksud? Tanpa Abah, hanya Umi, Mas-mu dan laki-laki yang kau mau."
Netranya yang berkaca-kaca bersitatap dengan Sang Umi. Naya menatap Uminya tidak percaya.
"Umi ...." panggilnya dengan suara bergetar lantas buru-buru memeluknya. Ibu dan anak itu saling berbagai kesedihan. Seorang ibu yang ikatannya paling dekat dengan anaknya, dapat merasakan bagaimana robeknya hati sang buah hati.
****
Afan kini telah bertemu dengan sang adik. "Aqila, Abang pernah bilang simpan cctv kecil itu di dalam bagian atas lemarimu kan? Disimpan?"
"Iya toh, Mas aku manut."
Lalu seketika ia tersadar. "Abang, harusnya aku ngecek cctv itu dulu sebelum laporan ke roisah. Jadinya Mbak Sania dipanggil ke bagian keamanan." Ia menatap sedih Afan.
Afan tersenyum, mengacak kerudung adiknya gemas. "Tunggu apa lagi? Itu calon Mbak Iparmu loh, Dik. Jangan sampai terkena masalah." Afan pun terkekeh.
"Heh, sembarangan! Abang ngaku-ngaku yaaa?" Selidik adiknya.
Afan lantas saja berujar, "Enak saja! Betulan, Abang udah kirim Cv iniii. Tunggu ya, besok pagi Abang kasih kabar baik." Afan pun tertawa.
"Yakin bangetttt?" Aqila memutar bola mata malas.
"Yakin dong. Pesona Abang sulit untuk ditolak. Buktinya temen-temen kamu aja banyak yang nge-DM Abang kalau lagi libur."
Afan sangat percaya diri dengan hasilnya, apalagi Arsha, sahabatnya memberi kabar jika dirinya sudah resmi mengkhitbah ning Naya. Kesempatan banget kan? Tak henti-hentinya Afan tersenyum, sebentar lagi ia akan memiliki pendamping. Detak jantungnya beroperasi dengan cepat memikirkan bagaimana nantinya dirinya dan Sania bersanding di pelaminan.
Bersambung .....
***
Ikan teri ngga punya paruh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hihi bagaimana kabarnya penunggu MCGA? Masih mau terus mengikuti ceritanya? Harus dung hihi
Ada yang mau tebak cerita ini gimana selanjutnya?
Aku lanjut, komentarnya harus rame yup
By by see you next time😁🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
