Membicarakan tentang iman memang sesuatu yang kadang sulit untuk distabilkan. Butuh kekuatan seperti ilmu untuk tetap berjalan di jalan yang benar.
Sania merenungi sikapnya akhir-akhir ini, bukannya dirinya tidak sadar jika benaknya selalu saja memikirkan cinta. Hanya saja, perasaan adalah suatu hal yang sulit sekali dikendalikan. Namun, di balik rasa cintanya kepada Arsha, tidak dipungkiri membuat Sania bersemangat melakukan banyak hal. Meskipun ketika berada di titik kecewa dirinya sangat malas melakukan apapun. Arsha bagi Sania The real motivator
Memikirkan tentang cinta, Sania memangku dagunya sembari merenung. Betapa terkejutnya dirinya ketika mengingat kembali ucapan sahabat Arsha. Benarkah Afan menyukainya? Mengapa laki-laki itu mengajak berta'aruf? Padahal bertemu pun baru semalam.
"Jangan-jangan dia kebelet nikah?" Sania menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha memikirkan alasan Afan yang dapat ditangkap oleh logikanya.
"Sebenarnya apa yang dilihat dirinya? Jika membahas paras masih banyak perempuan di luar sana yang lebih cantik, membahas tentang kebaikan bahkan kita baru kenal sehari, membahas tentang ilmu bahkan ilmu aku jauh di bawah orang lain. Apa aku pantas dicintai seperti itu? Bahkan dalam diriku pun masih banyak kekurangan."
"Mungkin dia cuma main-main aja."
"Mungkin dia cuma penasaran."
"Aku engga harus kasih jawaban 'kan? Mungkin besok juga dia sudah lupa?"
Jujur saja Sania sedikit senang karena setidaknya orang lain masih bisa melihat sesuatu darinya, dalam artian kelebihan sehingga menginginkannya. Kesadaran itu juga membuat Sania semakin merasa berhak untuk mengejar Arsha.
"Orang lain aja bisa suka ke aku, berarti aku bisa 'kan bikin Gus Arsha suka?" Gadis itu terus saja bermonolog, berbincang dengan dirinya sendiri. Bahkan tentang ajakan Ta'arufan dari Afan pun masih dia rahasikan dari semua orang.
Lihat saja kedepannya, Sania tidak mau berharap lebih apalagi dia tidak mencintai Arsha. Masih belum bisa ada yang menggantikan atau menghapus Arsha dari hatinya. Arsha selalu menempati posisi istimewa bahkan sejak dulu.
Sementara di sisi lain, Afan menyunggingkan senyuman manisnya. Di dalam kamarnya, laki-laki itu melamun bernostalgia bagaimana tadi ekspresi Sania ketika dirinya mengajak berbincang. Cara perempuan itu merespon begitu imut, bahkan ekspresi kagetnya, tidak mengertinya bahkan caranya tersenyum malu-malu.
"Menikah dengan saudara dekat hanya akan membuat kamu sakit hati, Sania." Afan berbisik, andai saja dirinya bisa mengatakan hal itu kepada Sania, tetapi tidak bisa. Rasanya kata-kata itu terdengar kejam. Tidak ingin juga sampai Sania membencinya.
"Pokonya Afan, harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ingat, Allah maha pembolak-balik hati manusia. Bisa jadi sekarang Sania belum mencintainya, kita tidak tahu hari esok akan bagaimana."
Afan terus tersenyum, laki-laki itu mengambil sebuah laptop yang sudah lama tidak dirinya buka. Dengan antusias dirinya menyiapkan sebuah CV Ta'aruf. Tidak, afan tidak bercanda ketika berkata ingin datang ke rumah Sania. Tidak tahu bagaimana awalnya dirinya jatuh cinta hanya saja perempuan itu selalu saja enak dipandang netranya.
Sudah lama ini Afan diam-diam memperhatikan. Sania mungkin tidak sadar, tetapi Afan sudah mengenal sejak sebelum mereka berkenalan. Gadis itu riang dihadapan orang yang membuatnya nyaman, tetapi bisa sangat begitu pendiam ketika dihadapkan dengan orang yang tidak sepemikrian dengannya.
Afan bersyukur karena Arsha tidak begitu banyak keberanian untuk memperjuagkan Sania. Jika bukan karena itu mungkin Afan tidak akan memiliki kesempatan.
"Apa mungkin ini yang namanya jodoh? Kalau begitu wajib banget ngasih tahu sahabat terutama Arsha biar dia tahu dan ngerasa gak enak buat deketin Sania lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
Literatura Feminina🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
