"Pilihan rindu yang sangat menyesakkan. Ingin egois, tetapi itu hanya akan merusak kebahagiaan mereka."
~Mengejar Cinta Gus Arsha
Seorang gadis yang kini menatap kosong ke luar jendela taksi itu menghela napasnya beberapa kali berupaya agar hati dan jantungnya tetap tenang dan tidak diserang anxiety. Rasanya dirinya akan muak jika berada di rumah itu. Kilas balik masa lalu yang menyeramkan kembali menghantuinya membuat tangan di samping tubuhnya semakin mengepal erat.
"Sania, semuanya akan baik-baik saja. Tenang, kumohon tenanglah!" gumamnya penuh emosi kepada dirinya sendiri.
Tidak lama taksi itu berhenti di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Dirinya telah sampai di tempat tujuan, dan gadis itu pun mulai mengukir senyum tipis. Dirinya tidak boleh terlihat sedih. Gadis itu turun dan menyeret kopernya kemudian memberikan uang kepada sopir taksi yang telah mengantarkannya seraya mengucapkan terima kasih.
"Cari siapa Nduk?" tanya Ibu yang bertugas menjaga gerbang asrama putri.
Sania tersenyum sebelum menjawabnya, "Iki kulo ponakannya Mbah Yai."
"Masyaa Allah, Sania toh?" tanyanya lagi dengan ramah. Sania pun mengangguk. "Yowes yowes silakan masuk, Nduk. Nganteni Ning Kaila di ndalem."
Gadis itu pun salim seraya berkata. "Matur nuwun enggeh. Assalamualaikum."
Tanpa Sania sadari hari mulai memasuki petang hingga nampaklah senja yang sangat menenangkan. Apalagi diiringi suara syahdu yang sangat dirinya rindukan. Siapa lagi jika bukan suara Gus idamannya. Sudah berapa tahun dirinya tidak pulang ke Jawa. Ternyata sejauh apapun dirinya pergi, tempat ini adalah tempat ternyaman untuk dirinya singgahi.
"Siapa pengarang kitab yang menghanyutkan kitabnya di laut. Namun, malah kembali kepada pemiliknya lagi dalam keadaan utuh?"
Pertanyaan tiba-tiba itu muncul di saat Sania sedang enak-enaknya menikmati pemandangan sore hari. Sania mengamati sang pemberi pertanyaan seraya tersenyum. "Pengarang kitab Jurumiah, yaitu Seh Son Haji."
Dia tersenyum. "Dik Sania apa kabar?" tanyanya dengan khas logat jawa. "Masih bisa bahasa Jawa?" ledeknya.
"Alhamdulillah nggeh baik, Ning Kaila Khanza Al-Fathonah." Sania menjawab dengan kata yang diikuti ledekan juga. Keduanya pun tertawa bersama.
"Keenakan dengerin Gus shalawatan ya? Sampai tidak sadar sepupu cantiknya datang," godanya kembali membuat Sania tertawa.
"Gus Arsha toh yang shalawatan? Aku udah lupaa." Sania mengelak dengan wajah salang tingkahnya.
"Mosoo Udah lupa? Padahal aku engga nyebutin namanya loh.""
Keduanya pun keasikan mengobrol hingga tidak sadar sudah tiba di rumah Kiai. "Assalamualaikum."
Sambutan ramah Sania dapatkan dari paman beserta istrinya. "Waalaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, masyaa Allah Nduk Sania. Piye Kabare Nduk?"
Sania menyalami tangan keduanya sembari tersenyum. "Alhamdulillah kabare baik, Pak Dhe Yai, Bu Dhe Yai." Sania pun memeluk Bu Dhenya dengan penuh kerinduan. Dirinya merindukan peran seorang Ibu.
Tidak bisa dielakkan, meskipun dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, sosok Ibu sangat berperan penting baginya. Ibunya yang jauh darinya sering kali membuat Sania merasa tidak lagi mempunyai tempat ternyaman untuk mencurahkan persoalan-persoalan yang dialaminya.
Sembari berjalan memasuki rumah, tatapan gadis itu kembali menerawang, senyumannya berubah menjadi senyuman miris. Kejadian beberapa saat lalu kembali terngiang di kepalanya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman kini tidak lagi dirinya dapatkan. Ini salah satu alasan Sania lebih betah tinggal di pondok dari pada di rumahnya.
"Punya uang tuh dihematin, Mas wong kita di sini juga banyak kebutuhan engga Cuma anakmu yang di pesantren sajo. Piye toh iki? Aku cape jeneungan belain anakmu itu teros."
Sania segera menghentikan langkahnya, tangannya yang sudah ingin mengetuk pintu terhenti begitu saja ketika mendengar teriakan yang sering menjadi santapan sehari-harinya.
"Kan itu juga anak kita Bu. Bukan anakku saja."Terdengar suaranya Ayahnya menjawab.
"Gak Guna! Nyesel aku nikah sama kamu, Mas!"Istri Ayahnya berteriak penuh frustasi.
Ayahnya hilang kesabaran, harga dirinya memang sering kali diinjak seperti ini. "Yo engga ada yang maksa buat kamu nikah sama aku."
"Sial banget hidup aku. Lagi-lagi berantem gara-gara anak gak jelas masa depannya kaya gitu. Aku juga di sini gak numpang-numpang amat padahal, justru di rumah ini juga lebih banyak barang-barang yang kubeliin pake uang sendiri!"
Sania semakin mengepalkan tangannya, keringat mulai bercucuran kepalanya terasa pening mendengar teriakan-teriakan itu membuat penglihatannya semakin memburam. Dengan langkah lunglai, gadis itu memegang kepalanya sembari berbalik badan. Tidak, dirinya tidak sanggup berada di dalam kurungan rumah seperti itu. Di sini bukan tempat di mana seharusnya Sania berada.
"Maaf, Yah. Sania engga bisa pulang ke sini dulu."
"BU! Ngomong opo Kamu?!"
Sania segera menggelengkan kepalanya. Tidak bisa, dirinya tidak boleh memikirkan sesuatu hal yang menyakitkan. Kini dirinya sedang berada di rumah yang bukan seperti kejadian tadi. Rasanya perjalanannya kini semakin melelahkan. Gadis itu pun izin pamit untuk istirahat dulu dan Ning Kaila pun mengantarkan sang sepupu ke kamarnya.
"Selamat beristirahat. Kumpulkan energy nya buat ketemu Gus idaman yaa." Gadis yang umurnya tidak terlalu beda jauh darinya itu terus saja menggoda.
"Karepmu, Ning." Sania menjawab lemas, tetapi senyuman masih tetap terukir di wajahnya.
Bersambung ....
Alhamdulillah, assalamualaikum. Akhirnya aku bisa mulai update cerita baru lagi nih, teman-teman. Ada yang menunggu? Hihi
Semoga suka dan dapat mengambil manfaatnya ya. Doakan semoga aku bisa update setiap hari, minimal seminggu tiga kali yaa.
See you next part❤️🖤🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
