Matanya terbelalak ketika menyaksikan sebuah video pendek dan poto-poto yang ada di roomchat whatsAppnya. Dadanya kembang kempis, napasnya mulai tidak beraturan. Dia marah sekali!
"Arghhhhh! Brengsek!" Perempuan itu memukul guling dan melempar bantal yang ada di kasurnya. Air matanya pun mulai terjatuh diiringi isakan yang cukup keras.
"Ngapain lo selingkuh sama sahabat gue sendiri, hah?! Penipu!"
Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. "Lo gila! Laki-laki gak tau diri! Bisa-bisanya setelah apa yang telah gue kasih, lo lo malah .... arghh!"
"Kenapa ini terjadi di hidup gue, sih! Kenapa harus gue yang nerima ini semua? Kenapa kenyataan pahit ini harus datang, Tuhan? Tuhan gak adil!"
Rasya menelpon temannya yang mengirim hal tersebut. Tidak ada jawaban. Berkali-kali Rasya menghubunginya, tetapi hasilnya tetap sama.
"Gue gak nyangka lo bisa sejahat itu! Kurang apa gue sama lo, hah?!" Rasya melempar handphonenya ke atas kasur lantas meraup wajahnya kasar.
Seiring dengan sakit karena jambakannya sendiri Rasya menangis histeris. Hanya pacarnya yang selalu ada buat dirinya. Namun, tidak disangka kesetiaan itu hanyalah palsu. Laki-laki itu sudah mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Harga diri.
Harga diri Rasya hancur. Mau seberkorban apapun dirinya tetap saja tidak membuat seseorang akan tinggal terus bersamanya. Dia hanya singgah bukan menetap. Kepercayaannya hancur, apakah dirinya tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang dari siapapun?
"Dunia ini tidak adil! Kenapa gue tidak pernah bahagia?"
Apa yang harus dirinya bayar untuk mendapatkan sesuatu bernama "Bahagia", harga dirinya kah? Sudah sudah ia korbankan untuk mendapatkan itu. Patuh terhadap ibu dan ayah kah? Sudah, sudah ia lakukan. Namun, apa hasilnya? Mereka tidak pernah mengganggap dirinya ada.
Dirinya hanyalah sebuah samsak pelampiasan di bangunan yang disebutnya sebagai rumah. Bukan takdir seperti ini yang dirinya inginkan.
"Jika setidaknya tidak bisa mendapatkan keluarga harmonis dan kasih sayang orang tua. Berilah gue kesempatan untuk mendapatkan sendiri kebahagiaan itu dari seseorang yang gue sayang. Biarkanlah gue membangun sendiri kebahagiaan itu di rumah kecil yang nantinya penuh kasih sayang."
Rasya menatap langit-langit kamarnya dengan penuh harap. Dengan suara gemetar dia berkata, "Tuhan, bolehkah?"
****
Arsha menyalami tangan kedua orang tuanya. "Arsha pamit dulu ya, Mi, Bi. Arsha minta doanya semoga apa yang Arsha sampaikan dan pelajari hari ini dapat bermanfaat baik bagi agama dan pendidikan di negara kita."
Uminya tersenyum, dirinya mengusap kepala Arsha. "Nggeh le, semangat!" Arsha menanggapinya dengan anggukan. Sementara anggota keluarganya yang lain hanya meng-aamiinkan saja apa yang diharapkan Arsha.
Setelah selesai berpamitan Arsha pun bershalawat pelan sambil memakai sepatunya. Kemudian pergi dengan mengendarai sepwda motornya. Tidak disangka di perjalanannya untuk menuju ke kampus, ia melihat sosok perempuan yang akhir-akhir ini sangat mengganggu pikirannya.
"Sania sama Rafa? Berdua? Lagi ngapain?" Hatinya bertanya-tanya. Laki-laki itu pun memberhentikan motornya.
Bisa Arsha lihat jika Sania sangat terkejut dengan kehadiran dirinya. Sementara Rafa malah terlihat santai.
"Kalian berdua?" tanya Arsha setelah mengucapkan salam.
Sania hendak menjawab, tetapi Rafa memotong ucapanya. "Keliatannya gimana tuh, Gus?" jawabnya sambil tertawa.
"Engga boleh berduaan, dosa." Sindir Arsha.
Arsha menoleh sedikit tajam bercampur sendu kepada Sania, gadis itu menenteng beberapa belanjaan yang berisi sayuran dan buah-buahan. Dirinya menghela napas lantas pergi selepas mengucapkan salam.
Sania menunduk melihat gelagat Arsha yang sepertinya memang hubungan antara keduanya tidak akan pernah memiliki masa depan. Tidak lama setelah Arsha pergi ning Kaila pun datang bersama saudaranya Rafa.
"Sudah nariknya?" tanya Sania. Ning Kaila pun mengangguk sambil tersenyum, perempuan itu sibuk memasukkan kartu ATM ke dalam tasnya.
Sania dan Rafa memang berdiri tidak jauh dari mesin ATM karena kebetulan memang mereka sama-sama menunggu. Rafa sengaja membuat Arsha semakin kesal dengan mengajukan pertanyaan tadi.
Ning Kaila pun melihat ekspresi Sania yang menjadi murung. Kemudian mengerutkan keningnya merasa heran. "Baik kan, Mbal Sania?" tanyanya sambil menepuk pelan pundak sang sepupu. Sania pun mengangguk pelan.
"Takdir memang unik, sulit ditebak. Yang aku inginkan Gus Arsha, tapi malah dideketin terusnya sama sahabatnya. Mungkin memang setidak pantas itu aku buat Gus Arsha."
Sania menarik napas lesu. Kemudian tangannya ditarik untuk kembali pulang.
Bersambung ....
Kamis, 18 Januari 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
