Setelah kejadian di mana Rasya dan Cantika merundung Sania, keadaan tidak terkendali. Iis marah besar ketika mendengarnya. Sementara Ayah sangat kecewa terhadap anaknya. Kini Iis lebih sensitive melihat kesalahan sedikit langsung memarahinya siapapun itu.
"Salah kamu Mas yang manjain anak kita terus! Jadi bandel 'kan," ujar Iis.
"Wong anak kamu yang bandel sama anak aku, orang tua gak pernah ada yang ngajarin kaya gitu kecuali kamu."
"Oh gitu kamu sudah mulai anak aku anak kamu!" Iis semakin meninggikan nada suaranya. "Tetap aja salah kamu Mas yang terlalu memanjakan dia! Jadi Rasya sama Cantika iri."
Ayah ikut ngotot, "Manjain dari mana? Wong dia selalu jauh dari aku!" Ayah melirik Rasya yang akan mengambil minum dari dapur dan Cantika yang sedang menonton TV. "Kamu yang kurang tegas ngedidik anak tuh! Jangan sampe kalian jadi criminal."
Rasya yang hendak minum menjadi tidak selera, gadis itu menatap lurus ke depan. Kemudian tangannya menghempas kasar cangkir yang dipegang menyebabkan air di dalamnya berceceran.
"Saling salahin aja terus belum sampe gue mati mah!" teriak Rasya frustasi. Gadis itu menahan air matanya. "Bisa gak sih pada intropeksi diri? Jangan merasa si Paling Bener!"
Seketika ruang tamu itu hening. Cantika juga sudah mematikan televisinya. Gadis itu tidak lagi dapat menahan gemetar tubuhnya. Lagi-lagi mereka terjebak di toxic family. Ini memang bukan yang pertama, tetapi tetap saja reaksi tubuhnya tidak mungkin normal kan?
"Diem kamu Rasya! Kamu gak pantes ngomong gitu! Kamu saja tidak intropeksi diri." Iis membalikkan kata-katanya, "So-soan nyuruh orang tua intropeksi." Iis berdecih.
Rasya tertawa menyeramkan. "Ya itu juga gara-gara kalian! Kalian gak pernah ngertiin aku! Kalian cuma pengen dimengerti terus!" Setetes air matanya jatuh.
"Ibu, Ayah, kalian cuma mikirin diri sendiri. Ayah cuma mikirin Sania selain diri sendiri, Ibu cuma mikirin Cantika biar bahagia dan ngga mau punya beban lagi." Rasya menghapus air matanya, kini kata-katanya diucapkan dengan pelan. Namun, penuh penekanan.
"Aku juga anak kalian, apa cuma mereka aja yang pantas bahagia? Sementara aku bagian pahitnya? Kenapa? Kenapa harus gitu? Kenapa harus aku yang kalian perlakukan kaya gini! Aku cape!" Rasya pun berlari ke kamarnya setelah puas mengucapkan isi kepalanya walau mungkin hanya 2%. Isi kepalanya masih berisik oleh kata-kata yang tidak bisa dirinya terima.
"Ibu juga sayang sama kamu, Rasya! Kamu yang engga lihat kasih sayang Ibu!" jerit Iis. "Rasya! Anak nakal! Rasya!"
Panggilan itu pun tidak digubris olehnya, Rasya menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Rasya lelah berada di dalam kondisi keluarga yang seperti ini yang membentuk dirinya menjadi manusia toxic. Rasya sadar apa yang dilakukannya salah, tetapi Rasya juga mempunyai alasan untuk melakukannya. Dia butuh perhatian, dia butuh kasih sayang, dia butuh seseorang yang memanjakannya dan menganggap dirinya berharga bukan sebagai beban.
"Sampai kapan? Sampai kapan hidup gue gini terus? Apa harus gue semenderita ini, Tuhan?" Tangannya menjambak rambut dan memukul-mukul dada dengan frustasi. Kamarnya begitu berantakan seperti hal hidupnya.
"Apakah ada kesempatan untuk gue bahagia walau hanya sebentar?"
***
Di sisi lain Sania bukannya tidak mendengar keributan. Gadis itu hanya terlanjur malas untuk menanggapi kebisingan yang ada. Masalah kecil yang selalu dibesar-besarkan dan masalah besar yang makin besar sudah menjadi hal biasa di keluarganya.
Mendengar suara bernada tinggi yang sangat rebut dari luar ingin rasanya Sania erlari lantas menajhit mulut mereka satu-satu atau memberikan makanan dengan penuh ke mulut mereka agar tidak ada lagi sumpah serapah dan kata-kata kasar yang mereka katakan.
Sejauh ini Sania berusaha menahan diri, sungguh tidak ada untung baginya jika menghentikan keributan itu dengan ikut emosional juga. Malah dirinya akan dilibatkan dan makin memperburuk suasana. Gadis itu berulang kali mengucapkan istighfar, rasanya baru tadi senang karena jalan-jalan bersama laki-laki idamannya. Sekarang seperti biasa telinganya harus menerima perkataan dan keadaan yang tidak baik di rumah ini.
Sejujurnya mengenai menyukai Arsha, Sania tahu dirinya memang ingin membangun sebuah rumah yang akan membawa kebahagiaan untuk semua orang. Iya, itu mimpinya. Namun, ketika melihat keadaan keluarganya yang kacau balau begini, Sania menjadi takut jika untuk memulai hubungan, komitmen bahkan sampai menikah. Sania takut rumah yang ingin dia dan pasangannya bangun malah tidak sesuai atau berubah di tengah jalan dan berakhir dengan mencari kembali rumah ternyaman masing-masing.
Gadis itu bergumam, "Jika ditanya, siapa sih yang tidak ingin menikah sekali seumur hidup? Menua bersama tanpa terpikirkan untuk berpaling dan bercerai? Semua menginginkannya. Namun, hanya sedikit orang yang sanggup melakukannya."
"Allah, apakah aku pantas mencintai orang lain sementara mencintai diri sendiri pun aku belum bisa." Gadis itu mengusap wajahnya dengan lelah. Beban fikirannyaterasa berkali-kali lipat jika memikirkan soal menikah.
"Sania jadi takut menikah." Gadis itu berbisik kepada dirinya sendiri, "Wajarkan?" tanyanya entah kepada siapa.
Keesokan harinya, koper sudah siap, barang-barang bawaan yang penting dan sebagai pendukung pun telah Sania kumpulkan. Sania akan memanfaatkan moment di mana kemarin dirinya menderita untuk meminta izin agar bisa tinggal di pesantren.
Meskipun Sania masih begitu kecewa kepada Ayahnya, tetapi Sania merasa bersyukur karena dalam pertengkaran kemarin Ayahnya masih membela. Rasanya enggan dan malu untuk bercengkrama, tetapi walinya di sini tidak ada lagi selain Ayahnya. Meminta izin kepadanya juga sebagai bentuk menghargai orang tuanya. Sania tidak ingin ilmunya menjadi tidak manfaat dan hidupnya menjadi susuah, gara-gara kurang bakti dirinya kepada orang tua.
Sania mendekati sang Ayah yang sedang bersiap untuk pergi bekerja. "Ayah," panggilnya pelan.
Ayahnya tersenyum dan menoleh. Sania pun berbicara, "Sani mau tinggal di pesantren."
Raut wajah Ayahnya berubah, senyumnya mulai memudar. Rasanya ingin sekali dirinya membantah permintaan sang anak, tetapi di sini juga dia tahu anaknya merasa tidak nyaman. "Pesantren Arsha?" tanya Ayah pada akhirnya dan dianggukin jawaban oleh sang anak.
"Tapi hati-hati ya, jangan bikin ayah khawatir."
"Makan yang bener, ngaji yang focus, dan Ayah minta maaf kalau Sani di sini engga nyaman."
Dengan kaku Sania hanya mengangguk. Tanpa berkata lagi dirinya berbalik lantas tersenyum akhirnya dirinya akan bebas dari rumah yang seperti neraka. Ketika dirinya mendorong koper keluar rumah Rasya dan Cantika muncul menatapnya dengan tatapan sinis dan meremehkan.
"Yah, putri kesayangan udah mau pergi ya?" sindir Rasya. "Kasian, gak punya rumah."
Sania hanya tertawa pelan. "Punya rumah kalau tidak indah juga buat apa?" balasnya tidak kalah sarkas. Rasya dan Cantika pun menatapnya dengan tajam.
"Maksud lo?"
"Mbak dan Adek juga tahu jawabannya, tanpa harus bertanya." Sania tersenyum mengejek. Melawan orang seperti itu memang harus terlihat berani agar tidak mudah ditindas. Tanpa memperdulikan lagi makian yang keluar dari mulut Rasya dan Cantika, Sania segera pergi meninggalkan rumahnya dengan Ayahnya yang sudah menunggu di dekat gerbang rumahnya. Karena khawatir kini ayah akan mengantar Sania ke pesantren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
