29. Perhatian yang menyakitkan

170 6 3
                                        

Sania pikir kisah hidup yang menyedihkan bisa terobati dengan kisah cintanya yang dapat seperti yang dirinya harapkan. Tertampar oleh kenyataan, jika dunia tidak akan selalu seperti apa yang kita harapkan.

Bukan Sania tidak berusaha melupakan Arsha, tetapi bagaimana jika dirinya selalu bertemu? Mencabut pohon kelapa sampai ke akarnya lebih susah dari pada menanam pohon pisang. Menghapus cinta yang sudah lama tertanam lebih itu lebih susah.

"Bu Dhe bantu dan antar ke kamar baru ya, Nduk."

Sania hanya mengangguk pasrah.

"Bu Dhe sayang kepada kalian berdua. Mengerti ya, Nduk."

"Sani butuh waktu yang lama untuk bisa menerima semuanya. Beri Sani waktu ya, Bu Dhe. Sani mohon maaf atas kejadian tadi."

"Mungkin di masa di denail kaya gini agak susah untuk Sani membedakan mana yang baik dan buruk, Nduk. Tenangkan dan tahan dirimu ketika itu terjadi lagi, Nduk."

"Bu Dhe ingatkan, seshaleh apapun laki-laki godaan terbesarnya adalah perempuan. Tidak ada jaminan untuk laki-laki tidak bermaksiat jika dihadapkan dengan kondisi di mana hanya ada sejoli dalam satu ruangan."

"Musuh terbesar kita adalah hawa nafsu, Nduk. Bu Dhe melakukan ini untuk mengantisipasi hal itu terjadi."

Nasihat itu kembali membuat dadanya panas. Fakta yang dikatakan Bu Dhenya terasa begitu menusuk ulu hati. Pengertian yang menyakitkan.

Satu persatu barang Sania dirinya masukkan ke dalam koper, barang-barang kecil dimasukkan secara terpisah ke dalam box kardus. Hari makin terang, Kaila pun ikut andil dalam pengankutan barang tersebut. Tidak ada yang proses lebih lanjut akan perpindahan Sania.

Sebuah kamar yang akan menjadi hunian baru bagi Sania kini tampak cukup besar jika hanya berpenghuni lima orang santri, dirinya disambut dengan ramah. Namun, entah kenapa kehangatan yang berusaha mereka berikan itu tidak mampu memberinya rasa aman.

"Pencitraan?" gumamnya.

"Oh, Mbak Sania. Mari boleh ranjangnya yang sebelah sini ya. Sudah disiapkan sama Ibu Nyai."

"Sini, biar ta bantu Ning." Dua orang santriwati lainnya membantu meletakkan barang bawaan Sania.

Bu Nyai tersenyum melihat ramah tamah santriwatinya. "Nduk, tolong dijaga baik-baik putri kesayangan Umi. Titip ya, diingatkan dalam hal kebaikan. Nasihati dengan baik, soalnya hatinya lembut sekali."

Ning Kaila ikut tersenyum. Sementara itu Sania merasa terharu sehingga tak sanggup mengeluarkan satu pun kata semenjak masuk ke sini. Bu Dhenya terlihat begitu menyayanginya. Namun, kalimat yang terlontar subuh tadi kembali menyakiti hatinya.

"Perhatian ini hanyalah hiburan," bisiknya tanpa suara.

Bu Dhenya menghadap sembari memegang tangan Sania. "Nduk, baik-baik ya. Nanti kalau semisal lapar, atau butuh teman boleh ke ndalem lagi. Tapi untuk tidur di sini ya, Nduk bersama santriwati lainnya."

"Nggeh, Bu Dhe."

Memeluk Sania sebentar, Bu Dhe membatin. "Bu Dhe terlalu banyak dosa kepadamu, Nduk. Maaf sekali, tapi ini untuk kebaikan kita semua."

Kaila ikut menimbrung. "Umi, Kaila bantu beres-beres dulu di sini ya." Dibalas dengan anggukan. Kemudia Bu Nyai pun pergi setelah mengucapkan salam.

Langit biru menunjuk semangat kehidupan, mentari kini telah bersinar terang memberi semangat sehingga angin-angin di sekitar pun ikut berpartisipasi dalam membangunkan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitarnya.

Sania melihat pohon hijau dari dalam jendela kamarnya. Pohon itu berwarna hijau, warna kesukaan Rasulullah. Sania merasa sedikit tenang, ternyata seluruh alam ini mempunyai perannya masing-masing.

Tepukan di bahunya membuat Sania menoleh, Kaila dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. "Are you oke, Mbak?"

Sania mengangguk, senyuman tipis yang dipaksakan terbit dari bibirnya. Tidak kuasa melihat itu, Kaila memeluknya. "Maaf, Mbak. Maafin keluarga kami."

Sania menggelengkan kepalanya. Tidak, ini bukan salah mereka. Ini salah dirinya, hati yang masih belum bisa berdamai memuncul konflik eksternal yang tiada henti.

Ini hanya soal dirinya yang belum menerima. Bukan tidak berusaha, hanya saja bekerja tidak semudah membalikkan kata. Ini hanya soal dirinya yang belum terbiasa, kerinduan yang selalu memunculkan pertemuan membutuhkan waktu untuk dimusnahkan.

"Mbak, aku pernah ada di titik kenapa ya aku ngalamin beberapa hal yang tidak aku suka. Sebagaimana halnya manusia, aku juga mengeluh, bersedih, protes karena memang siapa sih manusia yang menginginkan sesuatu di luar harapannya?"

Kini perhatian Sania mulai teralihkan kepada Kaila. "Namun, pada akhirnya aku menyesal kenapa dulu aku bisa setidak suka itu dengan apa yang Allah kasih. Padahal jika aku sadari saat ini, hikmah dari hal tersebut berdampak begitu besar dalam kehidupanku terutama kebaikannya."

"Poin pentingnya di sini, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal sesuatu itu baik bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal sesuatu baik bagimu. Terkadang kita baru bisa menyadari hikmah atau manfaatnya setelah sekian lama berlalu. Kemudian yang harus kita yakini adalah Allah itu maha adil, Allah tidak mungkin zalim kepada hamba-Nya dan prasangka kita juga berpengaruh terhadap takdir."

"Ketika kita husnuzan kepada Allah, pada saat itulah takdir kita juga bisa berubah menjadi baik. Begitupun sebaliknya."

Sania sangat setuju dengan apa yang sepupunya itu sampaikan. Namun, lagi-lagi sifat khas perempuannya muncul yaitu lebih mengedepankan perasaan. Sebagian besar hatinya belum menerima dengan apa yang Allah takdirkan.

"Mbak, kalau seandainya ...." Kaila menahan perkataannya, perempuan itu menggigit bibirnya ragu.

"Seandainya apa, Ning?" Perkataan yang tertahan itu memicu rasa penasaran Sania.

"Perjodohan Mas Arsha sama Ning Naya batal gimana?"

Terdiam, Sania dengan pelan mengukir senyum. "Tentunya bahagia, apa itu mungkin?"

Segera saja Kaila mengangguk. "Mungkin aja, Mbak. Terus soal ta'aruf laki-laki yang datang ke Umi, sudah Mbak terima?"

"Belum tau, Ning." Sania menatap kosong ke depan, memikirkan apa yang akan terjadi jika Sania mencoba membuka hati dan menerima tawaran ta'arufnya. Apakah mungkin dirinya akan berjodoh dengan laki-laki itu?

"Bagi sebagian orang, untuk melupakan seseorang adalah dengan mencari penggantinya. Namun, kenapa untukku itu sulit ya, Kai. Rasanya seperti aku berusaha menambah luka lebih banyak lagi. Rasanya juga tidak pantas, diri yang belum selesai dengan perasaan internalnya lantas malah membangun hubungan dengan orang baru. Aku yakin, secara tidak sadar aku melangkah untuk menghancurkan diri sendiri dan orang itu."

Kaila tertegun, pandangan Sania terhadap sebuah relationship yang sekarang sedang ia alami begitu dewasa. Namun, sayang sedewasa apapun orang di sampingnya ini. Masih tetap belum bisa me-manage rasa cintanya terhadap sang Kakak.

"Mbak betul. Kaila bantu doakan semoga Mbak diberikan yang terbaik ya. Kaila sayang sama Mbak, begitupun Mas Arsha." Kaila memeluk Sania.

Tiga santriwati yang sekamar dengannya berdecih tidak suka wajahnya menampilkan semburat amarah. Pikir mereka, apa yang dapat disukai dari Sania?

Bersambung ...

Halooo, update lagiiii, gimana nih kabarnyaaa? Semoga sehat selalu, setia menunggu update-an Mengejar Cinta Gus Arsha yaaa!

See you next part🤩

Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang