33. Menerima Ta'aruf?

104 2 0
                                        

Tinggalnya Sania di pesantren membuat Arsha sulit sekali untuk bertemu gadis itu. Namun, Arsha rasa ini keputusan terbaik. Mungkin seperti ini takdirnya dengan Sania. Ia pergi ke belakang pesantren, duduk di dekat kolam sambil menyenandungkan nadhom Alfiyah Ibnu Malik.

"Qola Muhammadun huwabnu maliki, ahmadu Robbillaaha khoiro maliki"

"Musholliyan 'alannabiyyil musthofa, wa aalihil mustakmiliinas syarofa"

"Wa asta'iinullooha fii alfiyah, maqoshidunnahwi biha mahwiyyah"

Tuqorribul aqsho bilafzhin mujazi, wa tabsuthul badzla biwa'din munjazi

Bait demi bait telah terselasaikan hingga akhirnya ia merasa lelah dan memilih merenung seraya mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil secara berulang kali. Arsha merasa ketika ia patah hati, rasanya semakin dekat dengan Allah. Langsung saja ia beristighfar. Ia merasa malu dengan Rabiah Al-Adawiah yang sangat mencintai Allah. Bahkan tidak ingin menikah jika laki-laki itu tidak bisa menjamin Rabiah Al-Adawiah akan mendapatkan ridha Allah.

Ia juga teringat seorang ulama besar yang haus akan ilmu. Kerjaannya adalah menulis kitab, setiap harinya ia habiskan dalam ruangan untuk menuliskan kitab dengan berbagai pembahasan sehingga Istrinya merasa kesal diabaikan sehingga gudang yang berisi kitab-kitabnya dibakar oleh sang istri. Salah satu ulama besar itu yaitu Imam Sibawaihi.

Sementara ia, tersemat gelar Gus dalam dirinya, tetapi belum mampu menghasilkan manfaat apapun. Bahkan akhir-akhir ini pikirannya disibukkan dengan romansa dan perempuan yang tidak pantas ia andai-andaikan.

Di kala seperti ini, di tengah kebingungan menderanya. Arsha sering kali memutuskan untuk me time, seraya terkadang menghitung waktu demi waktu yang terus berlalu dan tidak akan pernah terhenti dan terulang kembali.

Ia membuka sebuah buku dengan judul, "Cinta Tak Pernah Mati di kota Rumi." Dari judulnya saja sangat menarik apalagi jika sudah membaca isinya. Arsha terlarut dengan bait-bait indah yang disajikan sehingga tak sadar jika Uminya sudah duduk di samping sembari memperhatikan pemandangan kolam yang amat menyejukkan hati.

"Mas," panggil Umi Maryam.

"Astaghfirullah, nggeh Mi."

"Lagi baca buku ya?" Arsha mengangguk sembari tersenyum. "Sudah lama ya, Mas, kita engga bicara berdua begini."

Arsha menatap umi Maryam dengan sendu. "Ngapunteun Arsha terlalu sibuk, Mi. Sampai mengobrol dengan umi saja Arsha jarang."

Tiba-tiba tangan Arsha yang tidak memegang buku Umi Maryam raih, ia sempat tersentak sedikit sehingga membuat Umi Maryam terkekeh.

"Kamu ini, sama Umi sendiri aja malu gimana sama istri nanti," ledek Umi Maryam sedikit membuat Arsha mulai waspada. Pembahasannya pasti ke arah sana, pikirnya.

Tangan Umi Maryam yang mulai keriput mengelus punggung tangannya dengan lembut. "Melihat kamu yang sudah besar Umi semakin sadar kalau Umi sudah tua." Ia terkekeh.

"Umi..." gumam Arsha.

"Mas sudah dewasa, siap bertanggung jawab. Sudah tahu mana yang mau diperjuangkan, nggeh?"

Arsha hanya menunduk.

"Mas, Umi rasa, Umi sama Abi engga bisa lagi memaksakan kehendak sama kamu. Maafin umi ya, Lek?" netra Umi mulai berkaca-kaca. "Umi bermimpi kamu tidak ridha dengan keputusan Umi dan Abi. Di mimpi Umi kamu sangat tersiksa bahkan sampai mau bunuh diri."

Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang