26. Ada yang lebih baik

148 4 1
                                        

Bu Nyai mengetuk pintu kamar Sania. "Nduk, ada yang ingin Bu Lek bicarakan."

"Nggeh, Bu." Sania membukakan pintu kamarnya, gadis itu menyambut sang Bibi dengan senyum hangat.

Sejenak Sania berpikir tumben bu Lek-nya mengajak bicara di kamar. Biasanya di ruang tamu, dapur atapun di mana saja.

"Masyaa Allah kamarnya rapih ya, Nduk. Kayaknya udah siap nih jadi calon istri." Godaan itu membuat Sania tertawa sumbang.

"In syaa Allah, Bu Lek," jawabnya malu-malu.

Kemudian Bu Lek duduk di pinggir kasur. "Kemari, Nduk. Ada yang mau Bu Lek sampaikan." Sania manut saja, duduk tepat di samping Bu Nyai.

"Beberapa pekan lalu datang dua orang laki-laki, yang satu untuk mengajakmu ta'aruf dan yang satu lagi berminat kepada Ning Kaila."

"Nduk, jika sudah siap pikirkan baik-baik. Harapan Bu Lek, semoga Nduk menerimanya. In syaa Allah dia laki-laki baik juga bertanggung jawab. Paras dan akhlaknya in syaa Allah seimbang sama baiknya."

Umi dari Arsha itu memperhatikan wajah keponakan iparnya. "Tentunya, lebih baik dari Arsha, Nduk."

Sania semakin menunduk. Hatinya masih tetap memilih laki-laki itu. Laki-laki yang selalu menguatkannya. "Sania pikirkan dulu, nggeh, Bu Lek."

Bu Leknya tersenyum hangat, menarik tangan Sania ke atas pangkuannya lantas mengusapnya dengan lembut.

"Nduk, tidak harus semua pernikahan berlandaskan cinta. Terkadang seseorang bisa saja lebih dahulu memilih calon yang lebih siap dalam mendampinginya, tanpa terlalu peduli dia cinta atau tidak."

Nasihat Bu Leknya entah kenapa terdengar seperti sebuah kalimat penentang. Sania sadar, Bu Leknya tahu jika dirinya memiliki perasaan lebih kepada putranya.

"Karena Nduk, cinta itu bisa dibangun di atas pernikahan."

Sania melontarkan kekhawatiran. "Lantas bagaimana jika pernikahan itu tidak berhasil, Bu Lek?"

"Allah maha membolak-balikkan hati manusia, Nduk. Jangan terlalu mencintai seseorang hingga kamu lupa siapa yang lebih layak kamu cintai. Konteks di sini bukan islam melupakan fitrah manusia sebagai mahluk yang memiliki kasih sayang. Hanya saja, kita pun harus membatasi harapan kita kepada mahluk-Nya."

Mendengar ungkapan itu Sania tertegun. "Jadi, salah ya bergantung kepada manusia, Bu Lek? Tapi bukankah manusia juga mahluk sosial selain sebagai mahluk religius."

Bu Lek-nya mengangguk. "Semua ada porsinya masing-masing, Nduk. Berharaplah sewajarnya, cintailah sewajarnya. Namun, terkadang manusia juga sering lupa jika sudah merasa memiliki. Dia akan sangat kesakitan ketika kehilangan."

-----

Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Arsha masih belum mengambil keputusan pastinya. Laki-laki itu membiarkan hidupnya bak air mengalir. Tidak jarang dirinya memanggil diri sendiri sebagai laki-laki pengecut. Laki-laki yang tidak berani mengambil resiko. Lelaki yang tidak berani mengatakan keinginannya kepada orang tua.

Tepat hari ini pertemuan keluarga akan diadakan di tempat mempelai perempuan. Kedua keluarga berkumpul untuk kapan tepatnya tanggal khitbah dan pernikahan mereka. Kedua orang tuanya sudah tidak sabar mempunyai besan dari pesantren lain yang tentunya hal ini akan membuat silaturahmi terus bersambung.

Arsha ngerti keinginan orang tuanya, yaitu mencari istri untuk dirinya yang bisa meneruskan jejak Umi Maryam. Secara Naya sudah hapal beberapa kitab, di umurnya yang masih begitu muda, perempuan itu sudah cocok dipanggil Ustazah. Maka dari itu orang tuanya memiliki harapan besar, agar pesantren ini pun lebih maju lagi.

"Mas, sudah siap? Umi sama Abi sudah menunggu."

Arsha mengangguk, kemudian bertanya, "Yang ikut siapa aja, Dek?"

Mengerti perasaan Abangnya, Kaila menjawab, "Mbak Sani engga ikut, Mas. Keluarga kita aja."

Terdiam sebentar kemudian Arsha bergegas pergi. Laki-laki itu mensejajarkan langkahnya dengan sang Adik. Kemudian berbisik kepada Kaila. "Kenapa, Dek?"

"Disuruh Umi jagain rumah. Kasian jugalah Mas kalau ikut. Pasti sakit hati. Gimana sih!" Kaila tidak habis pikir dengan pertanyaan Arsha.

"Mas udah yakin sama pilihannya? Secara agama mungkin Mbak Naya yang menang, Mas. Tapi kalau ditanya siapa yang lebih mencintai Mas, maka Mbak Sania pemenangnya. Adek cuma takut kalian sama-sama engga bahagia, Mas."

"Jadi laki-laki yang gentle dong Mas. Jangan mikirin dulu nanti kaya gimana hasilnya, tapi cobain aja dulu. Coba bicara sama Umi sama Abi siapa tahu mereka setuju."

Arsha menggeleng. "Kamu tahu sendiri kan, Dek kalau keluarga besar kita melarang nikah sama sepupu sendiri dari dulu. Mas engga mau Sani nanti jadi bahan gunjingan. Karena biasanya perempuan yang relatif salah di mata orang-orang. Mas engga mau Sani disangka macam-macam, Dek."

"Mas, coba berhenti dengerin omongan orang lain. Ingat, pernikahan Mas, Mas yang jalanin. Mas bisa bimbing Mbak Sani pelan-pelan, beliau juga 'kan lulusan pesantren besar pastinya banyak ilmu yang telah beliau raih."

Kaila menepuk bahu sang Kakak kemudian berpamitan jalan duluan. Sementara Arsha menarik napasnya lelah, beban dalam dirinya belum juga terurai.

Tidak sengaja dirinya berpas-pasan dengan Sania yang sedang membantu membawakan oleh-oleh untuk dimasukkan ke mobil. Arsha dalam diam memperhatikan gadis itu. Semakin lama Sania semakin tegar. Luka yang keluarganya dan keluarga Sania sendiri torehkan mendewasakan dirinya.

Arsha memberanikah diri mendekati Uminya. "Umi, Arsha izin ngobrol sama Sani dulu ya."

Umi Maryam melihat raut wajah sang putra kemudian mengangguk pelan. "Sebentar." Arsha tersenyum lantas mengangguk, langkahnya kini membawanya mendekati gadis yang sedang membawa sekantung buah-buahan.

"Sani, bisa bicara sebentar?"

"Ada apa ya, Gus? Sebentar lagi mobilnya mau berangkat."

"Sebentar, Sani."

"Nanti aja Gus kalau khitbahannya selesai."

"San."

"Ngapunten Gus, Sania sibuk." Gadis itu sedikit menunduk. Setelah memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil, ia berjalan cepat memasuki rumah.

Arsha menghela napasnya, sesak dirinya rasakan. Jadi, gini rasanya ditolak. Arsha pun menghargai pilihan Sania, laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya lantas pergilah mobil itu.

Sementara itu Sania mengintip dari kaca kamarnya. Matanya mengalirkan air mata. "Sesak, Ya Allah," ujarnya sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Semua tentangnya selalu berakhir menyiksa dan begitu menyakitkan."

"Selalu ada ruang kamu dalam chapter kehidupanku. Namun, sebaliknya tidak pernah ada aku di moment spesialmu."

Sania semakin menangis, gadis itu bersimpuh di lantai. Tangannya memukul-mukul lantai berusaha menghilangkan rasa sakit. Harapannya kini hancur, laki-laki yang selalu dirinya impikan kini akan mengkhitbah gadis lain.

Sepertinya ending ceritaku bukan kamu, Gus.

-
Bersambung ....

Kamis, 1 Februari 2024

Bagaimana chapter ini?
Banyak quotes tuh Sobat Defat hihi
Ah iya jangan lupa follow akun tiktok @penulisfat yaaa💗

See you next chapter

Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang