31. Fitnah

94 3 0
                                        

Wajar jika kamu merasa hidup orang lain lebih baik darimu. Mereka terlihat lebih dicintai oleh keluarganya, temannya dan lingkungan sekitarnya. Sementara kita tidak. Itu wajar, tetapi bukan berarti harus menjadi sebuah pembiasaan.

Terkadang hal yang kita lihat tidak semuanya bisa kita anggap sebagai kebenarannya. Kita hanya tahu "baiknya" saja tanpa melihat posisi dia sebenarnya. Siapa tahu memang yang dia perlihatkan adalah sisi baiknya saja dan dengan pintar meyimpan sisi gelap itu.

Rasya merasa frustasi, beratus kali ia menelpon pacarnya. Namun, tak ada sedikit pun jawaban darinya. Ingin mendatangi  orang tuanya, tetapi Rasya sangat malu dan tidak tahu juga di mana keberadaan orang tua laki-laki itu. Selama mereka pacaran tidak sekalipun ia bertemu orang tuanya.

Perempuan ini berjalan tak tentu arah, pikirannya terus menerawang banyak hal yang ia pikirkan. Yang jelas, ia mengkhawatirkan masa depannya. langkahnya tiba-tiba berhenti di sebuah mesjid. Di siang hari dengan panas matahari yang sangat terik ia mengusap peluh. samar-samar ia mendengar kajian seorang Ustaz di dalam masjid.

"Ibu, maafkan diri Ibu, manusia memang tempat berbuat salah dan dosa. Tidak apa-apa sekali  seumur hidup kita berbuat kesalahan agar kita belajar dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi.  Jadi, maafkan dan ikhlaskanlah."

Rasya terpaku mendengar kata-kata itu, ia terus memperhatikan Ustaz muda yang sedang menyampaikan tausiyah. Ingin rasanya Rasya masuk, melupakan semua keresahannya dan mengisi pikirannya dengan suara-suara positif dari ustaz tersebut. Namun, entah mengapa sebagian dari dirinya merasa ia tidak pantas berada di sini.

Pendosa sepertiku mengharapkan berkumpul bersama orang-orang shalih? Memang pantas penzina memasuki rumah Allah ini? Rasya tertunduk, ia mengusap perutnya.

"Jika kita melakukan banyak dosa ingatlah sebuah ayat yang menerangkan Allah menyukai hamba-Nya yang bertaubat. Mari, kita kembali ke jalan-Nya, Buu. Sesali dosa itu, memohon ampun kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."

Apapun yang disampaikan Ustaznya, Rasya merasa itulah cara Allah untuk membuat Rasya tidak putus asa dari rahmat Allah. Sekali pun kemarin-kemarin ia berusah untuk melangkahkan kaki semakin menjauhinya.

"Nak, kehadiranmu membuat Ibu menjadi ingat lagi kepada-Nya. Semoga Ia menguatkan Ibu, dari sikap menyalahkanmu, Nak. Semoga Ia kuatkan Ibu dari dunia yang terasa hancur ini."

Perlahan Rasya mengukir senyum tipis lalu dengan sedikit tertatih ia sampai di pintu masjid. Rasya bergumam, "Suatu saat aku yang akan bersama orang-orang di sana, aamiin."

****

"Ini kalungnya, kalungnya ada di tas Sania."

Sania terkejut mendengarnya, ia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Drama macam apa ini? "Maaf, tapi saya tidak mencuri!" Sania berkata dengan tegas.

Belum juga air matanya kering karena merasa diusir oleh Bu Nyai. Kini ia juga merasa tidak diterima oleh teman-temannya. "Elah, ngelak kamu."

Yayu ikut menimpali. "Ngga nyangka, orang yang deket sama ndalem, baru sehari di sini udah kaya gitu."

Santriwati anak Donatur itu menggeleng tidak percaya. "Aku gak percaya dia yang ngambil!"

Yuki ikut berkomentar, "Kenapa engga percaya? Toh, kalungnya ditemukan di tas santri baru ini."

"Sependek aku kenal sama Mbak Sania, beliau engga seperti itu! Beliau ramah, aku sering lihat dan engga mungkin berbuat hal sekeji itu."

Kompak 3Y itu berdecih. "Sok alim aja kali."

Roisah 'am yang sedari tadi menyimak percakapan dan perdebatan mereka menghela napasnya kasar. "Cukup! Sania ikut dengan saya."

Sania tidak bisa membela dirinya, di pesantren ini pun tidak ada CCTV yang bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Akhirnya Sania mengikuti langkah roisah 'am itu. Mereka tidak berdua, santriwati anak donatur itu pun ikut membersamainya. Sepanjang langkah mereka santriwati itu meliriknya dengan ragu.

"Ngapunteun, Mbak," cicitnye pelan.

"Ora popo," jawab Sania, memaksakan tersenyum. Entah bagaimana sehabis ini nasibnya.

Setibanya di kantor pengurus, Sania dan juga yang lainnya menunggu di luar. Roisah 'am itu memegang handphone seolah sedang menghubungi seseorang.

"Baik, terima kasih banyak, Bu Nyai." Setelah mengucapkan itu. Roisah'am lanjut sibuk mencari sesuatu yang pada akhirnya, "Masuk!" Ujarnya sembari melangkah duluan.

Mereka pun menurut dan akhirnya Roisah 'am mulai mendengarkan mereka dari sudut pandang yang berbeda.

"Jelaskan kronologinya."

Santriwati pun menjelaskan kronologinya, ia mengatakan jika sebelum ia pergi ke pasar, ia membuka kalungnya. Waktu perpulangan sebelumnya kalung itu terbawa. Melihat peraturan di pesantren memang dilarang membawa perhiasan kecuali anting. Kalung itu ia simpan di lemari. Namun, ia lupa mengunci lemarinya.

Sehingga ketika di pasar pun ia tidak berlama-lama dan langsung pulang takut terjadi hal yang aneh karena ia tahu teman sekamarnya itu ada saja yang berkelakuan aneh.

"Nah, ketika saya buka lemari sudab tidak ada itu kalungnya."

Sania ikut menyimak ceritanya. Ketika ia datang memang belum meluhat santri yang  kini bercerita.

"Saya pernah mendengar juga kalau salah satu diantara 3Y itu ada yang klepto, Mbak. Makanya biasanya saya sangat hati-hati ketika menyimpan barang apapun."

Pengurus itu mengangguk paham lantas menoleh kepada Sania, "Ceritakan dari sudut pandang kamu."

"Tidak banyak yang saya lakukan selain membereskan baju dan sesekali ke balkon untuk melihat suasana di luar."

"Saya tidak akan langsung memberikan sanksi kepada kamu, kita butuh proses dan melibatkan pendapat atasan untuk kasus ini. Saya mohon kerja sama kalian."

"Silakan kembali lagi ke kamar." Lega dirasakan Sania, untunglah pengurus pesantrennya tidak berfikiran dangkal dan tidak mudah membuat keputusan untuk kasus ini.

Mereka pun kembali lagi ke pesantren. "Saya percaya kok sama kamu, Mbak. Kamu orang baik, in syaa Allah dikasih petunjuk yaa."

Sania mengangguk. "Aamiin Ya Allah ucapnya."

Perlahan Sania memegang kepalanya, pusing menderanya. Ini diakibatkan oleh dirinya yang terlalu banyak menangis. Lambungnya juga terasa dipelintir, sangat sakit. Ia berhenti melangkah dan duduk di pelataran. Sementara santriwati itu tidak menyadari jika Sania berhenti melangkah.

"Sani ...."

Sania yang memegang perutnya menoleh, ia lalu terisak. Menoleh dengan pelan ke sampingnya. Matanya yang berkunang-kunang menangkap sosok laki-laki yang menjadi teman dari gus yang diidamkannya.

"Kenapa?" Raut wajah laki-laki itu mulai panik. "Sakit yaa, Sani?"

Sania menggeleng, "Engga apa²." Ia membalas lemas. "Mas Afan Firmansyah Permatama, sedang apa di sini?"

"Ini adik saya ngajak ketemuan di sini, ada masalah katanya, kalungnya ilang."

Sania berfikir cepat sekali menyebarnya berita ini. Wait, adik? Mendadak rasa sakitnya hilang. Ia terlalu terkejut.

"Mas Afan, santriwati yang tadi kalungnya hilang adik mas?"

"Kok kamu tau juga?" tanya Afan.

"Aku yang dituduh jadi pencurinya." Sania menunduk.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, aku percaya sama kamu, Sani. Tidak mungkin kamu melakukan itu. Gapapa ya, pasti masalah ini kelar."

"Aamiin Ya Allah." Sania menghindari tatapan mata Afan yang menatap dalam dirinya.

"Saniii, udah terima lembar ta'arufku?"

Sania yang sedang menelan salivanya seketika tersedak sendiri. Ia harus jawab apa sekarang? Jujur ia belum siap untuk menghadapi situasi ini. Mengapa skenario Allah selalu tidak bisa ditebak?

Bolehkah Sania kabur sekarang?



Halooo I'm back

Maaf lama ya, updatenya :"
Absen yuu siapa yang masih setia dengan cerita ini?





Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang