Arsha tertegun menatap perempuan yang kini tersenyum anggun sembari menunduk. Pakaiannya tampan dewasa dan terlihat begitu menawan sebagai seorang muslimah, wajahnya ayu sekali. Tidak heran jika siapapun yang melihatnya jatuh hati.
Mengetahui ada tamu di rumahnya, Arsha urung untuk pamit keluar. Menemani Uminya berbincang dengan Naya, di saat seperti ini Uminya begitu lembut dan sifat keibuannya menonjol.
"Nduk, kalau ada yang mau diobrolkan sama Arsha monggo, nanti ada Putri yang menemani." Uminya menatap Naya seolah-olah tahu tujuan Naya ke sini.
Naya pun mengangguk menyetujui. "Matur nuwun, Bu Nyai."
Umi tersenyum lembut. "Nggeh, Ning. Umi ke belakang dulu ya, Nduk." Umi mengkode Arsha dan Arsha pun mengangguk.
Sepeninggalan Uminya, Arsha berbicara lebih dulu untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka.
"Ning Naya apa kabar?"
Naya tersenyum hangat. "Alhamdulillah sehat wal afiyat, Gus. Gus Arsha apa kabar?"
Arsha balas tersenyum hangat. "Alhamdulillah, sehat Ning."
Naya membalas kembali dengan hamdalah. Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat. Naya dan Arsha sama-sama menggenggam tangan masing-masing dengan gugup.
"Gus, boleh kita ngobrol di taman belakang?"
Arsha mengangguk, kebetulan Adik paling bungsunya juga sedang bermain di sana. Keduanya pun berjalan menuju taman belakang, dengan Gus Arsha yang berjalan terlebih dahulu. Kemudian keduanya duduk di kursi panjang dengan jarak yang lumayan jauh.
"Gus," panggil Naya.
"Dalem, Ning Naya."
"Gus Arsha ada yang mau ditanyakan tentang saya, Gus?"
Gus Arsha menggeleng. "Kalaun Ning sendiri ada?"
Ning Naya tersenyum miris. "In syaa Allah buat saat ini saya rasa cukup, Gus. Sudah terlalu banyak yang saya tanyakan. Sementara Gus sendiri tidak banyak bertanya tentang saya."
Kalimat panjang itu semakin membungkam Arsha. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa.
"Mungkin memang bukan saya yang Gus inginkan," lanjutnya diiringi tertawa sumbang.
Mendengarnya Arsha menatap Naya terkejut. "Bukan seperti itu, Ning. Saya hanya merasa yakin saja dengan takdir Allah. Jika memang Ning Naya yang Allah kirimkan, In Syaa Allah itu yang terbaik dan In Syaa Allah juga saya ikhlas dengan kekurangan dan kelebihan, Ning Naya."
"Ning berasal dari nasab yang bagus. Jadi, in syaa Allah selain paras yang cantik, Ning Naya juga mempunyai karakter dan agama yang baik. Ngapunteun kalau saya sudah menyinggung perasaan Ning Naya."
Mendengarnya Naya tersipu, Arsha memujinya. Jantungnya kini berdetak lebih cepat, wajahnya pun terasa panas. Dalam hatinya Naya berdoa, semoga saja wajahnya tidak memerah.
Sejenak pikirannya melupakan tujuan awal dirinya datang kemari. Semilir angin pagi membuat keduanya merasa begitu sejak, kedua pasang mata itu memperhatikan Putri yang sedang bermain dengan bunga dan juga kupu-kupu serta gadis kecil itu beberapa kali mengobrol sendiri.
"Matur nuwun, Gus." Naya tersenyum hangat. "Namun, ada yang mau saya pastikan," lanjutnya.
Arsha mengangguk menyanggupi.
"Sania, sepupu Gus Arsha. Gus ada perasaan sama Sania?"
"Gus pernah menganggap Sania sebagai wanita?"
Memandang Naya, Arsha tidak langsung menjawabnya. Sejenak kedua pasang mata itu bertemu. Naya berharap jika Arsha berkata tidak, mengatakan beberapa kata yang dapat membuatnya yakin. Sementara itu Arsha, laki-laki bingung apakah harus menjawab jujur ataukah tidak menjawabnya.
"Sania sepupu saya, Ning. In syaa Allah selamanya akan begitu." Ada rasa sakit dalam dadanya, ketika Arsha mengatakan itu.
Belum puas dengan jawaban Arsha, Naya kembali bertanya. "Kalau Sania punya perasaan kepada Gus dan menyuruh Gus buat akhiri ta'aruf kita bagaimana?"
Arsha menunduk, dengan pelan berkata, "Hiraukan saja, Ning."
"Gus, saya mohon jujur. Sebenarnya posisi Sania dalam hidup Gus Arsha itu apa?"
"Ngapunteun, Gus tapi saya tidak bisa menjalin sebuah rumah tangga dengan seseorang yang tidak bisa mencintai saya. Saya ingin dia yang akan peduli dengan saya dan tidak memberikan celah kepada wanita lain untuk masuk ke dalam hubungan kita."
"Saya mohon, Gus dipikirkan baik-baik. Pilih saya dan lepaskan perasaan dan semua tentang dia atau pilih dia dan kita batalkan semua rencana keluarga kita."
"Matur nuwun, Gus. Saya pamit. Assalamualaikum."
Pilihan yang tegas, seharusnya Arsha juga bisa memberikan kepastian yang tidak akan membuat Naya ragu lagi. Harusnya Arsha bisa melepaskan perasaannya, melupakan kenangan kecil yang bersemayam di benaknya. Memang tidak pantas jika rasanya terus berlanjut bahkan ketika dirinya dan Naya melangkah ke jenjang berikutnya.
"Ya Allah, tolong berikan hamba petunjuk. Jangan biarkan hamba memilih langkah yang salah. Sungguh dunia ini gelap tanpa lentera yang Engkau nyalakan. Sungguh dunia ini terlalu terang tanpa redup yang Engkau ciptakan."
Tiba-tiba Putri menghampirinya dengan antusias. "Mas-mas, Mbak Naya cantik banget masyaa Allah."
Arsha tersenyum tengil. "Apa iya? Cantikkan mana sama Mbak Kaila?"
Putri berpikir. "Cantikkan mana yaaa, yang jelas lebih cantikkan Mbak Naya daripada Mbak Sania."
Senyum Arsha memudar. "Engga boleh membandingkan kecantikan seseorang seperti itu, Dek."
"Tapi aku bicara faktanya toh, Mas. Oh iya tadi juga Mbak Sania lihat kalian ngobrol."
Arsha terkejut mendengar pengakuan adiknya. "Denger engga?"
Putri mengangkat bahunya malas. "Engga kayaknya. Soalnya engga lama lihatnya juga, kayaknya ngambil sesuatu."
Sedikit lega, Arsha berdoa semoga saja Sania tidak mendengar apa yang tadi dirinya katakan.
"Putri denger dari Umi ada yang mau ngajak ta'aruf juga sama Mbak Sania. Putri lihat di potonya cakep banget masyaa Allah. Putri aja mau kalau jadi Mbak Sania." Adiknya bercerita begitu menggebu-gebu.
"Gantengan mana sama Mas?"
"Ya ya ya, Mas lah." Adiknya itu tertawa.
Tersenyum bangga, Arsha bertanya iseng kepada Adiknya. "Kira-kira kalau dikasih pilihan antara milih Mas atau laki-laki yang di poto itu, Mbak Sania bakalan pilih siapa?"
"Kalau Mas jomblo pilih Mas sih, tapi kan Mas udah ada calon. Pastinya Mbak Sania pilih mas mas di poto." Gadis itu cekikikan sendiri.
Mendengar itu Arsha kembali merenung. Apakah dengan dirinya memilih Sania keluarganya akan setuju? Dan apakah mereka tidak akan kecewa dengan dirinya?
Namun, jika Arsha tetap melanjutkan hubungannya dengan Naya apakah semuanya akan berakhir dengan indah? Apakah Arsha sanggup melepaskan cintanya kepada Sania dan beralih untuk Naya?
Bahkan sudah sejauh ini pun semesta masih saja membiarkan untuk tetap mencintainya.
.
.
.
Bersambung ....
Selasa, 30 Januari 2024
Bagaimana chapter ini?😁🌼
Janlup tinggalkan komen, vote dan share ke temen-temen kalian yaaa
See you the next chapter:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
