Sudah lama Ayahnya tidak menghubungi Sania. Masalah yang terjadi kepada anak tirinya membuat dirinya terasa ditimpa beban yang begitu berat.
"Bu," panggil Rasya.
Iis tidak ingin melihat anaknya. Ini salah dirinya yang kurang keras dalam mendidik Rasya. Sosok ibu yang segera menjadi nenek itu mengabaikan Rasya.
"Aku boleh minta uang buat beli susu?" pintanya pelan.
"Gak ada uang! Minta sana sama yang menghamilimu! Dasar pezina! Tak tau diuntung!"
Rasya yang sedang hamil menjadi lebih sensitif. Perlahan air matanya mulai berlinang. "Rasya mohon maafkan Rasya, Bu. Kasian bayi Rasya."
Iis menghempaskan dengan kasar tangan anaknya. Dengan wajah marah dan dada menggebu-gebu, perempuan itu pergi.
Sebenarnya Rasya malu meminta hal seperti tadi. Hanya saja, badannya lelah jika bekerja dan pekerjaannya yang dulu tidak memperkenankan wanita hamil untuk bekerja.
Laki-laki brengsek! Gara-gara laki-laki itu keadaannya menjadi begini. Rasya duduk terisak di kursi makan. Apakah dosa ini dapat digugurkan? Sampai kapan orang-orang tidak peduli kepadanya? Apakah dengan mati semuanya akan selesai?
Yunus, Ayah tirinya menghampiri gadis itu. Laki-laki itu menyodorkan uang lima puluh ribu. "Ayah cuma ada uang segitu. Ingat, kamu sudah berdosa dengan melakukan zina, jangan sampai dosa kamu bertambah gara-gara percobaan bunuh diri lagi."
Rasya semakin terisak. "Ayah, ayah aku harus gimana? Dia engga mau tanggung jawab."
Yunus tidak menjawab. Mendengarnya saja sudah membuat hatinya terluka apalagi sampai sekarang dirinya belum bisa mencari solusi.
"Kamu jaga saja bayi kamu baik-baik, Rasya. Biarkan semesta yang menjawabnya. Besarkan bayi kamu dengan sebaik-baiknya nanti."
"Luka yang kamu terima dari keluarga ini, jangan sampai diturunkan ke anak kamu. Belajarlah menjadi ibu yang baik mulai sekarang."
Mendengar itu Rasya terharu, setidaknya masih ada yang peduli kepadanya di saat seperti ini. Rasya paham semua orang di rumah ini tidak ada yang tidak kecewa kepada dirinya. Ini memang salahnya, Rasya sadar itu.
Untuk pertama kalinya Rasya mengatakan, "Terima kasih, Ayah."
Ternyata Ayah tirinya tidak seabai yang dirinya abaikan. Hanya ia lah yang selama ini menjauh karena menyangka ayahnya itu hanya menyayangi anak kandungnya saja.
Yunus hanya mengangguk lantas pergi. Ketika telah menjauh dari Rasya, Yunus terisak. Laki-laki itu merasa gagal sebagai Ayah sekaligus suami, dia tidak bisa mendidik anak-anaknya dan istrinya. Entah bagaimana hisabannya di akhirat nanti.
Tiba-tiba dirinya teringat kepada Sania. Anak gadisnya itu belum menghubunginya semenjak pergi dari rumah. Yunus paham pasti anak itu sangat terluka, disambut dengan perlakuan yang tidak hangat.
Yunus mengambil handphonenya lantas menghubungi putrinya. Sementara di lain waktu, Sania yang hendak membuka buku diarinya merasakan getaran di atas meja belajarnya.
Nama yang dirinya rindukan akhir-akhir ini akhirnya menelponnya.
"Assalamualaikum," suara yang didengar Sania bergetar.
Sania pun menjawab salam itu dengan nada pelan. "Nduk, baik? Sehat kan di sana?"
"Alhamdulillah, Yah, sehat. Ayah sehat?"
Terdengar isakan kecil dari sebrang sana. "Sehat Nduk. Maafkan Ayah Nduk."
Sania terdiam, diam-diam gadis itu menangis tanpa suara. Berusaha menahan isakan yang takut terdengar oleh ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Gus Arsha (5) {ON GOING}
ChickLit🌻Update setiap Malam Ahad jika tidak ada kendala♥️ Sania berhasil dibuat jatuh cinta oleh sepupunya, Gus Arsha. Di sebuah mimpi buruknya, Sania nekat melakukan suatu hal yang membuat Gus Arsha yang selalu bersikap baik kepadanya merasa begitu kecew...
