BAB 23

11.8K 662 4
                                    

"Kau tidak menyukai ciumanku?"

"Tidak. Tidak seperti itu. Aku menyukainya,"

"Lalu, apa yang membuatmu terlihat seperti tidak menyukainya?"

"Aku hanya khawatir,"

"Kau melakukan tugasmu dengan baik, dan aku memberi mu upah sekarang, jadi apa yang membuatmu khawatir, ng?"

"Sayang, aku sedikit khawatir dengannya,"

Wanita itu sontak langsung menjauh dari tubuh pria itu. Sungguh tidak percaya dengan ucapan pria di bawahnya.

"Kau mencintainya?!"

"Tidak sayang. Aku tidak mungkin mencintainya, aku hanya khawatir, hanya itu,"

"Itu sama saja sialan. Kau mencintainya,"

"Oh astaga, dengarkan aku—"

"Tidak. Aku tidak ingin mendengar apapun darimu lagi brengsek. Memikirkannya saja membuatku marah."

"..."

"Kau harusnya bangga karena rencana kita berjalan dengan baik. Wanita itu akan mati dan aku akan bahagia setelah itu. Bukankah kau pernah mengatakan jika aku bahagia, kau juga akan bahagia? Apa kau kini mengkhianatiku?"

Pria itu melotot dan bangun dari tempat tidur. Menatap wanita didepannya dengan sangat horor.

"Kau yang melakukannya?"

"Tentu saja, apa kau pikir itu semuanya terjadi karena kebetulan saja? Konyol sekali."

Pria itu menarik nafas dalam sebelum berteriak kesal, "Kau gila!"

"Apa?"

Pria itu berdiri lalu mengenakan pakaiannya buru-buru.

"Apa kau baru saja mengatakan aku gila?"

"Ya!"

"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?!"

Pria itu tidak ingin mengatakan apapun lagi selain fokus mengenakan pakaiannya.

"Hei! Kau mengabaikanku?!"

"..."

"Bhin?!!"

"Kau tidak pernah mengatakan akan melakukan tindakan bodoh ini!"

"Tindakan bodoh?"

"Ya. Tindakan bodoh. Kau hampir saja membunuh seseorang Melia. Ah, tidak. Kau memang sudah membunuh seseorang. Kau membunuh bayinya. Apa kau senang sekarang?!"

"Ya! Aku senang. Sangat senang. Perlu ku perlihatkan betapa senangnya diriku?!"

"Kau gila!"

Usai mengucapkannya, Bhin berjalan keluar dari kamar hotel itu. Padahal, beberapa menit lalu mereka saling memberi kenikmatan di tempat tidur. Siapa yang menduga mereka akan bertengkar seperti ini.

"Ya. Aku membunuh bayinya dan akan membunuhnya juga. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi brengsek. Bajingan. Matilah kau tanpaku sialan!"

***

Bely belum juga berhenti menangis. Gadis itu terus menekan kuat dadanya untuk menahan sesak. "Jangan tinggalkan aku nyonya," lirihnya.

"Aku hanya punya nyonya. Jangan tinggalkan aku. Kumohon."

Tak hanya Bely, disana ada Noah dan juga Sarah. Selain Merio yang terpaksa harus pergi untuk menggantikan Noah di perusahaan. Putranya sudah pasti tidak mampu melakukan apapun sekarang.

Berita mengenai kecelakaan Leyvi pun tersebar luas dengan cepatnya. Media mulai berdatangan ke rumah sakit untuk mendapatkan informasi. Namun sayangnya, mereka tidak mampu mendapatkan apapun karena kuatnya pengawal Andjalar menahan mereka.

Let's Get Divorced, NoahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang