"Dia tau kamu beristri?" tanya Lisa dengan tatapan tajamnya.
"Tapi dia tetap memberikan tubuhnya untukmu?" Lisa sudah tidak bisa menahan lagi air matanya.
"Lisa....dia pekerja di club malam, dan dia menganggap aku sudah membelinya" lirih Haruto berusaha memegang tangan Lisa meski ditampik.
"Berapa lama dia menjadi simpananmu?"
"Hanya saat itu Li....sungguh aku berani bersumpah" Haruto yg sudah kehabisan kata kata lagi mulai berlutut di hadapan Lisa.
"Jangan pernah mengucapkan sumpah lagi di hadapanku" maki Lisa masih diiringi tetesan air matanya meski sudah berusaha dia tahan.
"Sama seperti saat aku melakukannya waktu itu terhadapmu, dia menghilang saat aku membuka mata dan tidak pernah muncul lagi di hadapanku" lirih Haruto.
"Apa? Kamu bilang sama? Kamu gila? Dia yg dengan sangat sadar dan kerelaan hati merebahkan tubuhnya diatas ranjangmu dan membuka lebar kedua pahanya untukmu, dan kamu samakan dengan perbuatanmu padaku malam itu?" teriak Lisa seperti orang kesetanan.
"Lisa maafkan aku....." Haruto memeluk Lisa mencoba menenangkan Lisa yg masih histeris.
"Bukan itu maksudku, aku nggak ngerti harus seperti apalagi menjelaskannya padamu, aku hanya satu kali itu melakukannya, dan itu saat aku down karna kematian Karina dan saat itu aku sedang berada di titik benar-benar membencimu, setelah kita berkumpul lagi, aku benar benar sudah berubah...aku nggak sekalipun pernah mengkhianatimu lagi"
"Aku bersalah padamu Lisa, aku minta maaf, aku mohon maafkan aku, jangan tinggalkan aku" Haruto terisak memeluk erat istrinya.
"Tolong biarkan aku pergi" lirih Lisa.
"Nggak.....jangan pergi....tolong....aku mohon jangan pergi"
"Kamu boleh marah, maki aku, pukul aku, tapi jangan pernah tinggalkan aku Li....aku nggak bisa"
"Beri aku waktu untuk sendiri" lirih Lisa.
"Iya....tapi jangan pergi ya Li" lirih Haruto menatap punggung Lisa yg semakin menjauh darinya.
"Mom...." lirih Hito melihat mommy nya tengah malam begini duduk melamun di pinggir balkon lantai 2 rumah mereka.
"Hito belum tidur?" tanya Lisa lirih berusaha menghapus air matanya.
"Mom....apa tidak Ada pilihan lain?" lirih Hito membuat Lisa menatap putranya.
"Apa tidak Ada pilihan lain selain Hito harus memilih antara mama atau papa? Karna menurutku kalian bukan untuk dipilih salah satunya, tapi....jika Hito harus memilih agar mama tidak sakit, Hito pilih ikut mama" ucap Hito dengan suara bergetar.
🦋🦋🦋
Lisa tetap berada di dalam rumah, tidak beranjak pergi sedikitpun, tapi semuanya terasa berbeda....rumah akan terasa sangat hampa dan dingin ketika seorang ibu yg tersakiti.
Lisa yg hanya diam selama beberapa hari. Tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya, dan membersihkan rumah tapi tak sepatah katapun terucap dari bibir Lisa kecuali Hito yg mengajaknya berbicara.
Sama seperti hari hari sebelumnya setiap pagi Hito harus berangkat ke sekolah dan Haruto harus pergi bekerja. Tapi Lami....Lami masih belum bisa berangkat ke sekolah karna kondisinya yg belum memungkinkan untuk pergi ke sekolah. Tinggallah dirumah hanya mereka berdua Lami dan Lisa, dan hari ini hari kedua mereka hanya berdua di dalam rumah.
"Kamu tidak suka masakanku?" tanya Lisa memecah keheningan melihat Lami yg duduk di balkon sendirian.
"Eh? Bukan...itu..." lirih Lami tergagap.
"Aku melihat dari kemarin, kamu sama sekali tidak menyentuh masakanku, kamu tidak makan dari kemarin?"
"Tante membenciku?" lirih Lami dengan wajah menunduk.
"Mana boleh aku membenci anak kecil, apalagi seumuran dengan putraku" lirih Lisa.
"Maaf saya membuat tante sakit, ijinkan saya kembali ke rumah" lirih Lami dengan suara bergetar tapi tidak didengar Lisa yg lebih memilih berjalan pergi meninggalkan Lami.
.......
"Lepaskan pakaianmu" ucap Lisa yg kembali dengan kotak obat di tangannya.
"Aku tau Ada luka juga di bagian dalam tubuhmu dan tidak mungkin bisa Hito bantu mengobatinya meski kalian satu ayah, aku tetap tidak bisa mengijinkan Hito menyentuh bagian dalam tubuhmu".
Perlahan Lami membuka pakaian atasnya yg memperlihatkan punggungnya penuh luka.
"Astaga...." Lisa tersentak melihat tubuh sekecil ini tapi sudah mendapatkan banyak luka seperti ini di tubuhnya.
"Akan sedikit sakit...tahan ya...." lirih Lisa, dan Lami hanya mengangguk.
"Kakekmu yg melakukan semua ini?" tanya Lisa disela kegiatannya mengobati Lami.
"Selain luka yg terakhir karna air panas, iya... Kakek yg melakukannya"
"Bagaimana Ada seorang kakek tega melakukan itu pada cucunya sendiri?" lirih Lisa.
"Saat kakek mabuk atau kalah berjudi, bisa melakukan apapun pada saya, kecuali melukai wajahku" lirih Lami.
"Kenapa?" tanya Lisa.
"Agar bisa dijual, sama seperti ibu" lirih Lami.
"Lalu luka di wajahmu ini?" tanya Lisa.
"Saya yg menyiramkannya sendiri ke wajah saat mendengar kakek menyuruh orang orang club malam untuk membawa saya" ucap Lami dengan nada bergetar.
"Ucapan kakek terdengar lebih panas bahkan daripada air panas yg mengenai wajah dan tubuh saya....tante"
"Astaga....." lirih Lisa membawa Lami ke dalam pelukannya.
🦋🦋🦋
"Udah denger tentang Haruto?" tanya Jihoon Pada Mark saat mereka semua datang ke rumah Krystal menghadiri acara syukuran kelahiran putra pertama Krystal.
"Tentang apa?" tanya Mark menggaruk tengkuknya yg tak gatal.
"Nggak usah sok polos, Lo nggak pernah bisa bohong daridulu juga" Jihoon terkekeh.
"Gw yg pertama didatengi polisi, dan gw langsung infoin ke Ruto"
"Gw nggak peduli efeknya ke Haruto sih, gw lebih peduli efek ke Lisa dan Hito nya" lirih Mark.
"Gw lebih penasaran sama responnya Jeno" ucap Jihoon pelan tapi melirik Jeno yg baru saja memasuki rumah Krystal bersama dengan istrinya.
"Menurut lo Ruto sama Lisa bakal dateng nggak?" tanya Jihoon lagi.
"Karna ini acara Krystal, Lisa pasti dateng tapi dengan atau tanpa Rutonya nggak tau juga" ucap Mark berbarengan dengan suara Aleyna yg berteriak memanggil nama Hito.
"Hito....."
"Hai Al..."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA (Haruto-Lalisa)
FanfictionDia bukan tipeku, tapi dia mengubah caraku melihat dunia.
