Mahesa terduduk di samping jenazah Tyas. Ia tidak menangis, tetapi matanya terus menatap lurus ke arah Tyas sembari dalam hatinya berjanji kepada Tyas kalau ia akan membalas pelaku itu sama kejamnya. Dendam mengalir deras di seluruh tubuhnya.
Polisi masih belum mendapatkan bukti yang kuat. Tyas tertabrak di jalanan yang sangat sepi dan tidak ada kamera pengawas. Para saksi juga tidak ada satu pun yang melihat plat nomor mobil itu karena terlalu gelap. Mereka hanya mengatakan warna mobil. Tentu saja informasi tersebut tidak membantu sama sekali. Ada jutaan mobil yang berwarna putih. Milik Clarice saja putih.
Suara Vero membuat semua orang menoleh. Pemuda itu sedang membentak seorang gadis yang wajahnya memias.
Mata Mahesa menyipit. Itu Clarice. Tapi, kondisi gadis itu terluka. Dahinya lebam. Melihat gadis itu membuat hati Mahesa mendidih. Ia teringat semalam ia sibuk mencari Clarice sampai ia tidak memastikan Tyas sudah berada di rumah atau belum.
"Mama," Clarice tersenyum. Mahesa menangkap ada kelegaan di muka gadis itu.
Mahesa tidak menyukai itu! Disaat Tyas pergi, bisa-bisanya gadis itu masih bisa tersenyum lega. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mengitari jenazah Tyas. Lalu menarik pergelangan tangan Clarice. Ia tidak memedulikan tanggapan orang-orang sekitar, terutama Johan dan Chita.
Kaki Clarice terseok karena Mahesa menariknya dengan kasar. Mereka sampai di garasi. Mahesa mendorong tubuh Clarice keras tanpa bisa mengontrol kekuatannya hingga tubuh gadis itu membentur bagian depan mobil.
"Apaan sih lo?! Sakit!" ringis Clarice.
"Kamu senang kalau Ibu yang meninggal, hah?"
"Bukan.. Gue gak bermaksud kayak gitu. Gue-"
"Kamu pikir keluarga kamu yang meninggal? Setelah tahu kalau ternyata Ibu yang meninggal, kamu lega?!"
"Maaf." ada nada penyesalan di ucapan Clarice. Tapi tetap saja tidak bisa meredakan amarah Mahesa yang sedari pagi bercokol di hatinya.
"Kamu-" Mahesa mengepalkan kedua tangannya.
"Gara-gara aku sibuk mencarimu tadi malam sampai tidak memastikan keberadaan Ibu!" bentak Mahesa yang menyalahkan Clarice.
Brak!
Mahesa memukul kap mobil Clarice dengan kuat. Melampiaskan rasa amarahnya dan penyesalannya. Clarice menjerit dan menutup mata.
"Kalau saja kamu tidak keluyuran tadi malam, aku pasti-"
Ucapan Mahesa terhenti ketika dirinya mengangkat tangan dan terkejut ada noda warna merah di bumper mobil. Ia baru menyadari sekeras itukah pukulannya sampai tangannya terluka? Tapi, warna merah itu sudah pekat dan mengering.
Mahesa melirik dahi Clarice. Luka gadis itu dan darah di kap mobil, apa gadis itu telah menabrak seseorang?
"Ini darah siapa? Kamu habis menabrak siapa?" Mahesa menunjuk bumper mobil.
"G-gue nabrak trotoar. Gue gak tau kenapa bisa ada darah," ucap Clarice yang sepertinya ragu-ragu.
Mahesa mendorong menjauh dari mobil. Meneliti bumper mobil yang penyok. Jelas sekali Clarice menabrak seseorang.
Tunggu. Mahesa mendapati adanya rambut. Langsung saja ia mengambil rambut kusut yang menempel di sela bumper. Kemudian membalikkan tubuh menghadap Clarice dengan memperlihatkan rambut itu.
"Ini rambut siapa?" tanya Mahesa. Tatapannya tajam menuntut.
"G-gue gak tau," wajah Clarice memucat. Gadis itu benar-benar gugup.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love from C to M [END]
FanfictionAwalnya Clarice berpikir dengan melarikan diri bersama kekasihnya akan mengantarkannya ke gerbang kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit seolah menyiram tubuhnya untuk kembali bangun. Clarice telah disadarkan bahwa orang-orang disekelilingnya tidak ada...