Setelah menjadi gelandangan di negeri orang, ternyata menikah dengan Mahesa adalah mimpi paling buruk dalam hidup Clarice.
Tubuh Clarice mematung di samping Mahesa yang tengah fokus mengemudi. Sebetulnya ia tidak tahan dengan suasana hening di dalam mobil, namun ia juga tidak memiliki banyak keberanian untuk membuka mulutnya. Lagipula Mahesa sedari tadi hanya diam. Meliriknya pun tidak.
"Mau sampai kapan kamu melamun?"
Mahesa yang tiba-tiba membuka suaranya membuat Clarice terkejut. Karena terlalu larut melamun, gadis itu sampai tidak sadar jika mobil telah terhenti di garasi rumah.
"Berkhayal tentang kehidupan penikahan kita?" tebak Mahesa yang dibalas dengan anggukan namun sedetik kemudian berganti menjadi gelengan.
"Lebih ke pesta pernikahan sih sebenernya," kepalang basah, terpaksa Clarice mengakuinya.
Pesta pernikahan impian Clarice adalah pernikahan dengan tema 'outdoor intimate wedding' dimana banyak bunga dan daun sebagai hiasan utama. Ditambah tamu undangan yang hanya orang-orang dikenalnya saja sehingga kesan intim di pesta akan lebih terasa.
Memang terdengar bertolak belakang dengan kepribadiannya, namun Clarice tidak peduli.
"Sederhana tapi cantik," ucap Clarice.
Reaksi yang diberikan oleh Mahesa hanyalah sebuah dengusan membuat Clarice melirik kesal ke arah pria itu. Mahesa seolah tengah mengejeknya. Memiliki impian tentang pesta pernikahan adalah hal yang wajar!
"Kamu ingin pesta yang sederhana tapi cantik?"
Clarice mengangguk.
"Akan aku kabulkan." ucap Mahesa sembari tersenyum.
Wajah Clarice terlihat sumringah. Tidak menyangka Mahesa akan berbaik hati mengabulkan keinginannya. Dan, pria itu sangat tampan dengan senyuman yang tersungging.
"Aku akan mengatakannya kepada Papa Rolan kalau resepsi kita berada di pedesaan sesuai dengan impian putrinya. Hm, di tengah sawah yang hijau tidak terlalu buruk. Jauh lebih sederhana." ejek Mahesa.
Clarice menyesali dirinya sempat berbahagia. Seharusnya ia tidak memercayai ucapan Mahesa begitu saja. Sudah jelas pria itu membencinya. Tidak mungkin pria itu akan mengabulkannya begitu saja.
"Gak. Gak usah. Gak jadi." Clarice benar-benar kesal sampai menahan nada bicaranya.
Dari sudut matanya, Clarice melihat Mahesa membuka sabuk pengamannya. Kemudian tanpa disangka, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah dirinya. Tangan berotot pria itu bergerak dengan cepat dan kasar membuka sabuk pengaman Clarice. Lantas menarik tubuh Clarice untuk mendekat.
Wajah mereka sangat dekat. Bahkan Clarice yakin, jika dirinya sedikit bergerak, bibirnya akan langsung menyapa bibir tipis pria itu.
Mata mereka saling menatap. Jika dilihat dari jarak yang dekat, warna rambut pria itu telah berubah menjadi warna cokelat gelap berpadu warna hitam. Tanpa bisa Clarice cegah, pandangan matanya turun sampai ke bibir Mahesa. Bibir tipis itu menggoda imannya. Apakah rasa bibir Mahesa sama seperti dulu saat pertama kali pria itu mencuri ciuman pertama Clarice?
Secara impulsif, bibir Clarice bertemu dengan bibir Mahesa. Tubuhnya yang bagaikan tersengat listrik, seketika langsung tersadar dan sontak ia menjauhkan tubuhnya. Kemudian membuka pintu mobil dan berlari menjauhi Mahesa.
Ini gila! Clarice sangat malu. Dirinya tidak pernah sama sekali mencium pria lebih dulu. Namun baru saja ia melakukan tindakan bodoh!
Clarice membuka pintu penghubung ke ruang tengah dan berlari menuju lantai atas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love from C to M [END]
Hayran KurguAwalnya Clarice berpikir dengan melarikan diri bersama kekasihnya akan mengantarkannya ke gerbang kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit seolah menyiram tubuhnya untuk kembali bangun. Clarice telah disadarkan bahwa orang-orang disekelilingnya tidak ada...