Enigma
Enigma, seseorang atau sesuatu yang misterius, penuh teka-teki, atau sulit untuk dimengerti.
Seperti namanya, enigma. Laki-laki dengan perawakan tinggi dan kekar. Ia misterius dan penuh dengan teka-teki.
Satu sekolah mengenalnya, laki-laki itu selalu menghabiskan waktunya di ruang perpustakaan. Bukan untuk membaca, tapi menjadikan perpustakaan sebagai tempat tidur yang tenang.
Aku sekelas dengan nya, tapi selama se ruangan dengan enigma, suaranya sama sekali tak pernah terdengar. Wajahnya selalu datar tanpa ekspresi. Siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan melihat wajah laki-laki tanpa ekspresi itu.
Beberapa hari lalu, kejadian mengerikan terjadi di sekolah ini, seorang siswa perempuan tewas karena melompat dari ketinggian gedung sekolah, semua guru dan anak-anak yang melihat kejadian itu histeris, berbagai ekspresi wajar seperti takut, khawatir, ngeri, bingung, dan lain sebagainya.
Tapi enigma, laki-laki itu. Pandangan kami tak sengaja bertemu, disaat semua orang panik karena kejadian itu, enigma malah berdiam diri sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok. Wajahnya tetap datar, tak ada raut kesedihan ataupun ketakutan disana. Dia berbeda, laki-laki itu terlalu susah untuk ku tebak.
Mau percaya atau pun tidak, aku adalah gadis yang paling pandai dalam menilai kepribadian seseorang. Dari tingkah laku, cara dia berbicara, Wajahnya, hanya dengan melihat beberapa hal itu aku mampu menebak kepribadian seseorang itu seperti apa. Dan tebakan itu pasti nya selalu terbukti benar.
Tepat saat ini pelajaran sedang di mulai, seisi kelas mencoba fokus dengan pelajaran yang disampaikan. Kecuali enigma pasti nya, laki-laki itu tertidur di atas meja dan kedua tangan sebagai bantal. Yang membuat ku semakin bingung adalah, tak ada satupun orang yang berani menegur enigma, walaupun itu guru sekalipun. Enigma selalu dibiarkan dengan segala kebiasaannya.
Setelah selesai dengan pelajaran dan bel istirahat berbunyi, aku langsung memutuskan untuk ke perpustakaan. Dua hari lalu, aku sempat meminjam buku dan hari ini adalah hari pengembalian nya. Aku menatap langkah kaki enigma berayun menuju tempat yang sama, yaitu perpustakaan.
Laki-laki itu berjalan tegap dan tak perduli dengan kehadiran ku di belakangnya. Hingga langkah kakinya membawa enigma masuk kedalam perpustakaan. Pertama hal yang ku lihat dia berjalan menuju pojokan perpus, disana sepi dan jarang terarah.
"Mau balikin buku ya an?" Ucap mbak gladis, perempuan yang tonaben nya lebih tua 4 tahun dari ku.
"Eh-iya mbak, ini bukunya." Jawab ku gelagapan, takut mbak gladis tahu bahwa sedari tadi aku hanya memperhatikan enigma.
Mbak gladis mengambil buku yg disodorkan kemudian mengetik sesuatu di komputer nya itu.
"Mau pinjem lagi atau baca disini?" Mbak gladis kembali bersuara
"Ah nggak dulu deh mbak, buku yg kemarin aja belum habis dibaca" aku menolak dengan halus
Anggukan kepala yang aku terima, mbak gladis seperti nya mengerti dengan ucapan ku barusan.
"Suka sama dia ya?"
"Hah?" Aku menatap mbak gladis dengan bingung, sulit rasanya mencerna ucapan barusan.
"Enigma.. km suka dia kan?"
"NGGAK MBAK!"
Mbak gladis terkekeh setelah itu ia berkata "yakin?". Aku bersemu merah, hingga mbak gladis menatap penuh kemenangan.
Tanpa menjawab pertanyaan itu aku langsung berlalu menjauh dari mbak gladis, mencoba mencari tempat duduk yang jauh dari pandangan wanita penjaga perpustakaan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story
ContoRandom short story✓ One shoot✓ Terimakasih untuk yang sudah mampir dan untuk yang sudah tekan vote. Aku sungguh menghargai itu.... Thank you very khamsa.
