Angin kering berembus dari timur, membawa debu dan sunyi ke ladang yang dulu berseri.
Di seluruh penjuru negeri Nusantara, ladang-ladang telah berubah jadi kuburan tanah retak, kering kerontang. Seperti ada kutukan di sana. Hujan tak lagi jatuh selama lima tahun, seolah langit lupa bagaimana caranya menangis.
Krisis pangan melanda negeri itu. Rakyat kelaparan, semua orang luntang lantung di jalan mencari peruntukan.
Namun di sebuah lembah kecil, tersembunyi di balik bukit sunyi, masih ada sawah yang menghijau.
Bukan karena sihir. Bukan pula karena teknologi. Tapi karena seorang pemuda bernama Arbani. Ia tak memakai keris, tak punya ilmu kebal. Yang ia punya hanya cangkul warisan ayahnya, sepasang tangan kasar, dan sebuah mimpi yang selalu ia ucapkan saat matahari tenggelam, "bangkitlah tanah ku, istirahat mu terlampau panjang. Biarkan aku mencicipi sedikit dari bagian mu"
Arbani tinggal di bagian selatan negeri Nusantara. Di salah satu lembah yang jarang di kunjungi orang-orang. Di lembah itu, ia tinggal bersama ibunya, Fatmawati. Perempuan paruh baya yang jalan nya semakin membungkuk dan terseok-seok.
"Arbani... ada yang mencari mu di luar, temui lah sebentar"
Arbani mengernyit, penasaran dengan sosok manusia yang mencarinya. Sudah hampir seminggu tidak ada yang berkunjung, semua warga di desa sudah ia bagikan beras terakhir dari panen bulan ini.
Tak banyak, tapi cukup untuk mengganjal perut yang keroncongan.
Arbani menemui sosok yang ibunya bilang, ia keluar dari rumah, menangkap seorang laki-laki tua sepantaran dengan ibunya, menggunakan sarung jarik dan baju batik yang mulai mengusam.
"Adakah yang bisa saya bantu, bapak?" Tanya Arbani,
Sosok tua itu tersenyum tipis, meraih tangan Arbani untuk ia genggam, "wahai pemuda ajaib, sudikah kau memberiku sedikit beras untuk aku dan keluarga ku makan di rumah? Aku dengar, bahwa kamu sering membagikan beras untuk warga desa"
Tersenyum tipis, Arbani membalas genggaman itu erat, "tentu saja boleh. Tapi masalahnya, beras hasil panen bulan ini sudah habis dibagikan, tinggal beberapa centong saja untuk saya dan ibu saya"
Sosok tua itu menghela, kemudian tersenyum kembali, "bapak mengerti, baiklah, bapak akan pergi"
"Tunggu sebentar. Tidak mungkin bapak pergi dengan tangan kosong, keluarga bapak pasti mengharapkan sesuatu untuk di makan" Cegat Arbani, ia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, mengambil daun kelapa dan mengisinya dengan beras yang tersisa.
Arbani memberikan bungkusan itu kepada sosok tua, di sambut oleh binar mata yang bersinar.
"Terimakasih, tapi jika kamu memberikan beras terakhir ini untuk ku, apa yang akan kamu dan ibu mu makan" tanya si tua,
Arbani terdiam sebentar, lalu tersenyum dan menjawab, "tidak perlu khawatir. Saya Arbani, pemuda yang terkenal karena mampu menghidupkan tanah yang mati," -Arbani tertawa kecil, bermaksud menjadikan rumor tentang dirinya sebagai lelucon.
Bapak tua ikut terkekeh mendengarnya.
"Bapak tidak usah khawatir, pulang lah. Bawa beras ini untuk keluarga bapak, saya masih ada singkong untuk di makan" Kata Arbani, si bapak tua mengangguk.
Sebelum ia benar-benar pergi, ia menatap Arbani lekat, menepuk pundak pemuda itu pelan, "Arbani, jalan mu akan semakin jauh. Berhati-hatilah, tidak semua orang bisa kamu percayai"
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story
Short StoryRandom short story✓ One shoot✓ Terimakasih untuk yang sudah mampir dan untuk yang sudah tekan vote. Aku sungguh menghargai itu.... Thank you very khamsa.
