5

11 1 0
                                        

Ario tersenyum,matanya berbinar dengan semburat gembira melihatku yang sudah siap dengan ajakkannya,yang ke dua.

"percaya sama aku,Ibu hanya belum ngenal jauh kamu.Ibu itu orangnya suka wanita yang ke Ibuan. apa lagi,kamu lembut dan pinter masak"

Aku mengaminkan dalam hati,mencoba berhusnudzon.mengingatkan diri berkali-kali,tidak baik berfikir negatif.

Arion mengemudi mobil tidak terlalu laju.apa lagi, sore hari seperti ini Bandung cukup macet oleh para pengerndara yang kembali pulang selesai menjemput rezeki.

"udah di liat ?"

"apanya ?"

"yang aku kasi kemarin"

"u-udah..."

Memoriku kembali mengingat benda itu,manik jernih itu.aku tau,seberharga apa barang di dalam kotak tersebut.karna aku tau jenis benda apa itu.

"kamu suka ?"

Tidak.

Aku jatuh cinta sama benda itu Ar.

Sebuah cincin emas,mampu menitikan air mataku. beriringan dengan debaran yang tak menentu.

Haru dan beban,datang bersamaan.

Sanggupkah,aku melangkah lebih maju ?

                                               🌻

"Ar..."

"tenang,dan percaya sama aku..."

Mataku mampu menyembunyikan rasa khawatir, tapi tidak dengan hatiku yang sejak lima menit lalu turun dari mobil Arion.

Dan,ketika dia meninggalkanku di ruang tamu,ku kumpulkan rasa percaya diriku,yang sempat tercecer saat mobil Arion masuk ke pekarangan rumah Ibunya.

"siapa,wanita yang kamu ceritakan itu ?"

"dia ada di depan.Ibu temui dulu..."

Jantungku kembali bergemuruh,mendengar suara Arion dan Ibunya.

Meski tidak bisa melihat mereka,di sini aku bisa menebak raut Ibunya yang belum ku kenali.

"kita sudah membahasnya Arion.dan alasan Ibu sepertinya sudah jelas"

"setidaknya Ibu kenalan langsung dulu.setelah itu,Arion bakalan serahin semuanya ke Ibu..."

"tanpa kenalan langsung Ibu udah tau.umurnya 30 thn,dia janda dan kamu-..."

Kakiku dengan cepat berlari keluar,tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang sudah bisa di taksir benakku.

Air hangat mengalir membasahi wajahku.ku bungkam bibir agar tak mengeluarkan suara isakku.

Aku pergi dalam keadaan perasaan yang meluruh itu.sesaknya nyata.

Namun,harus ku lakukan agar hatiku tidak terlalu dalam kebas.

Suara lembut Ibu Arion terus terngiang.dari tutur katanya,Ibu Arion baik.dan,aku tidak menyalahkan penilaiannya terhadap umur dan statusku.

Tapi,air mataku tak ingin berkhianat.

Nyatanya,ucapan itu sakit.

Deringan ponsel tidak ku tanggapi.selama perjalanan kembali ke Bandung,ponselku tak berhenti denting dan deringnya.

Hampir tengah malam,aku sampai di Apartemen. mengguyur tubuh dengan air dingin menjadi pilihanku.

Saat masuk tadi,selain mengabaikan Zahra yang kebetulan belum tidur,aku mencoba tidak mengingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu.

Ketukan pintu,bersamaan dengan panggilan masuk ku abaikan.

Aku ingin tenang sebentar...

...Sebelum memberi waktu Arion untuk bicara.

"Bi !"

"buka Bi !"

Aku memejamkan mata,ketika suara Arion memanggilku dengan sangat keras.

Aku tahu...

Pria itu sama paniknya denganku.

"FEBI !"

Perlahan,bisa ku tangkap suara pintu di buka.aku tau,Zahra yang membukakannya.

"maaf Ra...gue terpaksa..."

Nada suaranya syarat akan penyesalan.tapi,bukan Zahra jika tega mengusir Arion.

"gapapa...masuk dulu"

Benarkan ?

"thanks...."

Aku bersembunyi di balik pintu kamar.dan Zahra, memergokiku.

"temuin dia,selesaiin dulu"

Please Ra...

Zahra tidak perduli raut memohonku.yang dia tau,pasti aku lagi yang membuat masalah.

"gue gak yakin lo aman kalau si BABI bangun..."

Hhh....

Sosok Arion,berdiri di depanku dengan nafas terengah.

"kamu mendengarnya-..."

"bisa kita bicara besok ?

Lebih baik besok,atau kapan saja.asalkan jangan sekarang.

"Bi-..."

"ku mohon..."

Nada pintaku,menyuarakan kesungguhan.

Dia melepaskan kunsen pintu,tidak dengan matanya.yang mungkin sama marahnya dengan mataku.

Pintu kembali ku tutup,tanpa menunggunya pergi. karna jujur,saat ini aku tidak bisa berbicara menggunakan logikaku.dan,aku tidak ingin seperti itu.

Aku di bawah,kalau kamu berubah pikiran

Pesan Arion meluruhkan air yang sudah tergenang lagi.

Dari balik tirai aku melihatnya.setengah tubuh pria itu memenuhi netraku.gawai dalam genggamanku, kembali bergetar.

jangan mundur Bi...kita berjuang bersama

Tanganku meremat baju,menepuk dada tak berhenti berdenyut,dengan rasa sakit yang menikam.

Hatiku jatuh pada orang yang salah.membucahkan rasa pada ketenangan yang berujung sakit.

Bi,aku sayang kamu 🥺

Dalam isak tangis,aku mamatikan lampu kamar. meninggalkan bayangan Arion,di bawah sana.

Harusnya,saat itu aku sadar.
Harusnya,saat itu aku tau diri.

Pada,siapa hatiku jatuh.

Hari ini,alasanku terbukti kan ?

Aku...mendengar langsung penolakkan itu.

Memeluk BayangmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang