Pertemuan kali ini,harusnya terjadi dua hari lalu. namun,sengaja ku undurkan.karna,aku masih butuh kesiapan diri untuk bertatap muka dengannya.
"tau besok aku berangkat,makanya kamu milih hari ini kan ?"
Ku pandangi wajah pria yang sudah dua tahun ini mewarnai hariku,sosok yang belum halal untuk ku sandarkan keluh kesahku.juga,sosok anak yang tidak mendaptkan restu.
"maaf..."
Senyumnya,meluruhkan yang sudah ku susun sejak di Apartemen.
"luapin,selain kata maaf..."
Tangan dalam pangkuan terasa dingin dan basah, irama jantung saling berkejaran.apa yang akan ku katakan,tidak hanya membuat luka di hatiku, tapi...untuknya juga.
Dan,aku harus mengatakannya.
"kita selesaiin aja Ar..."
Kelopak mata jernih itu berkedip dua kali,raut bingungngnya menghentakkan dadaku.
"niat kita di sini emang mau nuntasin masalah kemarin kan ? dan aku juga bakalan jelasin semuanya"
Arion tidak mengerti.
"hubungan kita Ar.itu yang mau ku selesaikan"
Seketika wajahnya berubah pias,dan senyum getir yang tak ingin ku maknai di bibirnya.
"Bi...."
"aku serius Ar-..."
"Febrianti !"
Ini kali kedua,dia menyebutkan nama lengkapku. setelah perkenalan dua tahun silam.
"dari awal,aku udah pesimis sama hubungan kita ini. tapi dengan gak tau dirinya aku malah bertahan"
"skarang,kenapa milih nyerah ?"
Ketegasan suaranya mulai berkurang,seiring dengan perasaan pilu merambat ke ulu hati.
"kamu udah tau alasanku Ar,dan kita pun pernah membahasnya"
Jauh sebelum aku tau bahwa Ibunya tidak merestuiku.selain itu,alasanku adalah dia masih muda,tidak seimbang berada di sampingnya dengan status dan usia kami.
Hembusan nafasnya terdengar berat dan dalam. kekecewaannya sama besar denganku.
Matanya tak lagi melihatku,ada gusar dan amarah di pendamnya.
"kalau ke Ibu aku tetap kekeh,maka sama halnya ke kamu"
"Ar !"
Tatapannya membungkam mulutku.hanya mata, yang menguraikan kalimat yang akan ku katakan.
"setelah meraih sarjana,aku bakal datang... melamarmu"
Tuntas !
Hatiku bergetar,menyaksikan kesungguhan cinta pemuda di depanku.
"tunggu aku,dan bakal aku buktiin ketika aku dateng nanti udah mengantongi restu itu"
"Ar-..."
Kamu tidak mengerti,aku juga seorang perempuan. mungkin akan menjadi Ibu jika saja Tuhan tidak menggariskan takdir ini untukku Ar.
"seandainya aku di posisi Ibu,mungkin aku bakal ambil sikap yang sama.semua Ibu di dunia ini,ingin yang terbaik buat anaknya"
Nyatanya,isi hatiku tidak di dengarkan pria ini. karna,sebuah kotak sudah berada tepat di depanku.
"simpan ini,pakai saat aku kembali"
Kotak ke dua,dalam waktu satu minggu.
"aku,gak bisa nerimnya Ar-..."
"simpen"
Kepalaku tertunduk,menyerap semua lara yang semakin merebak kian terasa pahitnya.
Kesungguhan pria ini...
Juga,ketulusannya.Tidak ada percakapan selama kami berada di mobil menuju Apartemen.pikiranku berkelana, bernostalgia pada akhir kisah yang tak berujung.
Hingga mobilnya berhenti di depan Apartemen.
"angkat telponku kayak biasa.jangan ngehindar..."
In syaa Allah,jawabku dalam hati.
"aku turun"
Aku mengatakannya,tapi tubuhku tidak menyertai ucapanku.
Dan...
Tubuhku semakin kaku kala organ kenyalnya sudah melumatku hingga basah.
Aku terkesiap,tidak sempat mencegah,dan aku...tidak mampu menolak.
Nyatanya,naluriku menuruti emosi Arion.
Aku tau,dia sedang kacau.maka ku biarkan dia menuntaskannya lewat lumatan yang perlahan melambat.hingga,bibir kenyalnya mengurai dengan nafas yang memburu.
Pun,sama halnya denganku.aku terengah,dengan kening yang saling menempel.
"jaga diri baik-baik...saat aku kembali,aku bakal jemput kamu.itu amanahku..."
Bisiknya,mengelus pipiku yang sudah basah lagi.
Setitik air bening jatuh di jemarinya dengan sempurnah,karena ucapan Arion barusan.mengisi kehangatan yang tidak pernah kosong selama dua tahun ini.
Mungkin,ini akhirnya...
Kisahku,dengan Arion Anugrah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Memeluk Bayangmu
RomanceAsal kamu tau,hari itu bagi aku bukan cuma takdir,tapi musibah dalam hidupku... Arion Anugrah